Asscholmedia.net – Dalam sebuah pertemuan atau kunjungan RKH. Fakhruddin Aschal ke Asschol Makkah sekitar tanggal 20 Januari 2024 lalu, pada saat itu beliau melaksanakan ibadah umrah namun juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan Asschol Makkah.

Pada kesempatan tersebut, RKH. Fakhruddin Aschal menyampaikan perihal penting yang harus dicermati khususnya santri dan alumni Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan tentang Mufaraqah. Dalam Fiqh, Mufaraqah adalah kehendak makmum untuk melepaskan diri dari imam dalam shalat berjamaah di tengah-tengah shalat yang sedang berlangsung.

Mengenai hal ini, RKH. Fakhruddin Aschal menjelaskan bahwa tidak ada ceritanya seorang imam itu mufaraqah (niat pisah) dari makmum dalam shalatnya, yang ada pasti seorang makmum yang niat mufaraqah dari imam.

“Jadi, dari pernyataan ini bisa ditarik kesimpulannya bahwa tidak ada guru yang tidak mengakui murid atau santrinya. Saya dengan kalian tidak perlu khawatir untuk tidak diakui oleh guru sebagai santrinya selama kita tidak ada niatan berpisah dengan para guru”. Tegasnya kepada Asschol Makkah pada saat itu.

“Begitu juga dengan Kanjeng Nabi Muhammad, tidak ada umat Kanjeng Nabi yang tidak diakui sebagai umatnya. Hal ini juga sama dengan keinginan kita yang ingin diakui sebagai santri dari Syaichona Moh. Cholil, selagi kita tidak mufaroqoh insyaallah tetap akan diakui”, imbuhnya.

RKH. Fakhruddin Aschal memberikan contoh bagaimana agar Alumni tidak mufarqah dari para guru. Diantaranya adalah aktif untuk hadir pada acara-acara alumni yang diadakan. “Dengan berusaha aktif hadir di acara- acara alumni seperti ini merupakan salah satu amalan bagi kita agar tidak mufaraqah. Nah, hal ini penting bagi kita apalagi kita sama-sama santrinya Syaichona Cholil, insyaallah tidak dianggap mufaraqah”. Jelasnya.

Contoh lainnya diumpamakan, saya berkata kepada Badrus. “Badrus tolong belikan air?” kemudian Badrus datang dengan membeli air Aqua. Saya tanya lagi, Badrus dapat air dari mana? Badrus menjawab “beli dari Indomaret”. Nah, jawaban ini adalah bukan secara hakikatnya melainkan berupa majaz (kiasan). Hakikatnya air itu dari sumber, sumbernya dimana yaitu di Pandaan.

Jadi, kaitannya santri yang mondok di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan itu majaznya mengaji kepada guru yang mengajari mereka, tetapi pada hakikatnya santri itu mengaji kepada Syaichona Cholil karena sumber dari semuanya adalah beliau. Semua santri Demangan adalah santri Syaichona Cholil, sekalipun air tadi itu sudah ada dimana-mana, tetapi tetap satu sumber yaitu Syaichona Cholil.

Seperti ceritanya santri-santri terdahulu bahwa Almarhum KHS. Abdullah Schal sangat berhati-hati ketika mengajar para santri karena beliau menganggap santri yang diajari itu adalah santrinya Syaichona Cholil bukan santri dari Almarhum KHS. Abdullah Schal. Dan hal itu juga menjadi sebuah pesan kepada Almarhum KH. Fakhrillah Aschal bahwa jangan sampai merasa punya Demangan karena pada kenyataannya memang bukan milik kita, dan juga sama dengan jamaah haji setiap rombongan ada ketua regu, ketua regunya KHS. Abdullah Schal dan RKH. Fakhrillah Aschal tetapi tetap semuanya ikut rombongannya Syaichona Cholil.

Nb: Tulisan ini adalah alih Bahasa dari Bahasa Madura yang disampaikan langsung oleh RKH. Fakhruddin Aschal. Dikirim oleh salah satu Asschol Makkah kepada Asschol Media.

Penulis: Ust. Faroq Ali Ridho
Penyunting: Agus Sholeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.