Asscholmedia.net – Dalam pengajian kitab Minhajul Abidin, RKH. Fakhruddin Aschal menjelaskan tentang bagaimana seseorang harus ta’at kepada Tuhan-nya. Mushonnif atau muallif menjelaskan bahwa seseorang itu tidak bisa melakukan dua hal yakni ta’at dilakukan dan maksiat juga dilakukan. Maka seharusnya yang dilakukan adalah ta’at dilakukan dan maksiat tidak dilakukan (berhenti melakukan kemaksiatan).

Kita tidak bisa untuk melakukan ibadah jika masih berlumuran dosa, maka solusinya adalah harus bertaubat agar diampuni dosanya dan menjadi suci dari kotoran dosa sehingga kalau sudah suci, maka pantaslah untuk beribadah dan dekat dengan Tuhan.

Jika demikian maka memiliki ilmu saja tidak cukup untuk beribadah kalau masih banyak dosanya. Seseorang memiliki ilmu dan harus bertaubat untuk beribadah harus melewati tahapan taubat agar sampai pada tujuan taubat itu sendiri.

Apa tujuan dari Taubat? Pertama yaitu memperoleh taufik (pertolongan) untuk melakukan ta’at. Kedua diterimanya ta’at. Jadi, seseorang yang melakukan ibadah tetapi masih banyak dosanya maka masih belum memperoleh taufik untuk melakukan keta’atan dan keta’atannya tidak diterima.

Dosa itu seperti najis batin, kalau secara dhohir najis itu seperti kotoran. Contoh, jika seseorang setelah membersihkan atau menguras WC maka badannya akan terkena najis semua, lalu tanpa bersuci ingin masuk ke Masjid untuk melakukan ibadah dan lain sebagainya. Pasti tidak akan diperbolehkan oleh takmir Masjid sehingga harus bersuci terlebih dahulu kemudian masuk ke Masjid. Jadi, kalau sudah suci maka akan dapat taufik dari Tuhan berupa taat. Sama halnya dengan dosa najis juga, hanya saja dosa itu najis secara batin yang harus disucikan dengan cara taat.

Dari sini bisa difahami bahwa taubat itu bukan hanya seperti seorang yang berhenti menjadi bajingan, berhenti menjadi maling. Tapi taubat ini adalah rutinitas karena manusia itu tidak berhenti melakukan dosa maka harus selalu bertaubat.

Manusia itu tempatnya salah dan dosa, jangan merasa karena tidak mempunyai dosa lalu tidak bertaubat. Padahal telah disebutkan dalam sebuah keterangan bahwa manusia itu harus selalu istighfar sampai merasa bahwa tidak ingat kepada Tuhan pun merasa dirinya berdosa, dalam Al-Qur’an disebutkan;

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

“Sesungguhnya Allah SWT senang pada orang yang bertaubat dan suci”.

Ayat ini bergandengan antara “tawwabin” dan “mutathohhirin”. Keduanya adalah sama-sama najis. Perbedaanya adalah lafadz “mutathohhirin” menggunakan sighat biasa dalam artian bersucinya bisa dihitung sedangkan lafadz “tawwabin” menggunakan sighat mubalaghah dalam artian harus lebih sering dalam mensucikan najis batin yakni dosa.

Dan mensucikan dosa ini lebih berat karena batasannya mahabbah (kecintaan). Jadi, maksud dan tujuan dari taubat agar mendapat taufik ta’at. Kalau sudah suci semua maka dipersiapkan untuk ibadah dan lainnya. Dan disebutkan pula dalam kitab ini bahwa orang yang bertaubat itu diterima taatnya.

Keterangan: Pengajian disampaikan pada acara Tri Wulan Asschol Sepulu, di desa Gunilap Timur, Masjid Al-Hidayah. Rabu, (03/01/24).

Reporter: Samsul Arifin
Penyunting: Mr.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.