Asscholmedia.net – Suatu ketika Syaichona Moh. Cholil kedatangan seorang tamu, tamu itu adalah teman beliau waktu di pondok.

Singkat cerita, di waktu malam temannya itu diajak jalan-jalan oleh Syaichona hingga ke suatu desa bernama Ghubeng. Waktu itu desa tersebut belum bernama Ghubeng, dan cerita ini adalah asal usul kenapa desa tersebut dinamakan Ghubeng.

Sampai di salah satu rumah warga, Syaichona tiba-tiba melubangi rumah tersebut (e ghubeng : Madura red). Melihat kejadian itu, temannya tadi berujar, “Sampean caepon oreng welli, ulama rajeh, tapeh mun malem deddih maleng sampean.” (Sampean katanya seorang wali dan kiai besar, tapi kalau malam kok jadi maling)

Tanpa menjawab ujaran temannya, Syaichona masuk ke dalam rumah itu, kemudian membuka lemari. Temannnya berkata lagi, “Aduh, Kak. Maleng ongghu sampean.” (Duh, Mas. Maling beneran ternyata sampean)

Lalu Syaichona mengambil sebuah peti, peti tersebut dibuka dan diperlihatkan kepada temannya yang di dalamnya berisikan perhiasan berharga.

Lagi-lagi temannya berkata, “Aduh, Kak, sampean dekremmah, Kak!” (Duh, Mas. Gimana sampean ini, Mas) keheranan.

Syaichona hanya menjawab, “Ayok, ayok.” Sebari mengajak temannya keluar. Setelah agak jauh dari rumah itu, kira-kira perjalanan dua jam, Syaichona mengajak temannya kembali lagi ke rumah yang diambil perhiasannya itu.

Temannya menolak, tapi terus dipaksa oleh beliau hingga akhirnya mau juga. Dan beliau berdua kembali masuk ke rumah tadi, membuka lemari dan mengembalikan peti yang berisikan perhiasan itu.

“Engkok kakkannak jiah benni keng ngecok, keng nyelametaginah emas. Bedeh maleng se ngicoah. Jiah bedeh lobengah. Deddih engkok kakkannak jiah keng nyelamataghinah dunnanyanah tang tatanggheh, sebeb derih Demangan kannak jiah lok sampek 40 roma. Wajib engkok nyelametaghih.” (Aku ke sini bukan mau nyolong, tapi hanya ingin menyelamatkan emas. Ada maling yang mau mencuri emas itu. Itu di sana lubang malingnya. Jadi, aku ke sini itu hanya ingin menyelamatkan harta tetangga, sebab dari Demangan sampai ke sini tidak sampai hitungan 40 rumah. Wajib bagi aku untuk menolongnya)

Kata Syaichona kepada temannya menjelaskan tindakannya itu, sembari menunjukkan bukti rumah yang dilubangi (e ghubeng : Madura red) oleh maling di sebelah utaranya.

Cerita ini disampaikan oleh Habib Abdullah dari Surabaya yang punya sikap aneh (helap : Madura) kepada KH. Mas Abdul Adzim Kholili.
Konon lantaran kejadian itu, desa tersebut dinamakan desa Ghubeng (rumah yang temboknya dilubangi maling).

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Sumber: Disarikan dari pidato KH. Mas Abdul Adzim Khalili pada acara pelantikan Pengurus MWC NU Arosbaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.