Asscholmedia.net – Cinta dunia merupakan penyakit hati yang merambah ke dalam kehidupan manusia, bahkan bisa sampai akut. Sudah banyak orang yang sakit jiwa karena urusan dunia, bahkan ada yang rela bunuh diri, mencuri, korupsi, menipu, membegal, dan lain sebagainya. Itu semua tak lain hanya karena urusan harta benda duniawi semata.

Rasulullah SAW telah memperingatkan pada umatnya tentang munculnya satu sikap yang disebut dengan cinta dunia. Yakni sikap cinta pada kehidupan dunia melebihi kecenderungannya pada kehidupan akhirat adalah sumber keburukan dan maksiat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan menggerus keimanan seseorang pada Allah dan menimbulkan mudharat atau bahaya yang besar di dalam kehidupan sosial.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ وَلَـلدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ.

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am 6: Ayat 32)

Penyakit dzahir itu datangnya kejahilan (bodoh) akan ilmu baik dalam keadaan sadar diri (mengenal diri) ataupun tidak sehingga pikiran dan perasaanya selalu dihantui oleh cinta dunia, tertipu akan senda guraunya.

Maka lepaskan dunia saat ini juga, dengan mengenal hakikat dunia itu sendiri, siapa yang bermain di belakang dunia, maka akhirat akan kau dapat saat ini juga berupa ketenangan jiwa, damainya jiwa dan hati merasa aman itulah rasa tanda sudah iman.

Seorang yang mencintai dunia tidak akan lepas dari tiga perkara; Pertama, kesedihan yang selalu menyertai. Kedua, kelelahan yang terus menerus. Ketiga, penyesalan tiada akhir.

Itu dikarenakan orang yang mencintai dunia, tidak akan memperoleh sesuatu dari dunia itu, melainkan dia akan mendapatkan rasa kurang, serakah dan ambisi di perbudak oleh dunia.

Saat kau mencintai dunia, sebenarnya kamu telah menggali kuburan akhiratmu sebab menggenggam dunia itu, bagai menggenggam bara api, jiwa akan selalu panas dan tersiksa karenanya.

Rasulullah Saw bersabda, “Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit ya Rasulullah?”.

Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa”.

Sahabat bertanya kembali, “Apa yang di maksud kelemahan jiwa, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

Penulis: Mahmud Zubairi (Asschol Arosbaya)

Dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.