KHS. Abdullah Schal pernah mengalami masa sulit di awal-awal beliau berkeluarga, hingga menurut sebagian kabar, beliau pernah makan bersama santrinya.

Namun kendati dalam keadaan demikian, beliau tak pernah surut semangat untuk terus berdakwah, menyebarkan ilmu, menghidupkan kembali Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil.

Kakek saya yang bernama Adnan Mubasyir sering kali menemani perjalanan dakwah beliau. Ketika beliau punya kebutuhan mendesak, kadang cari pinjaman uang lewat kakek saya. Dan sebaliknya, saat kakek saya punya hajat besar, sering juga pinjam uang kepada beliau.

Menurut penuturan ibu saya, dulu ketika ibu saya hendak dinikahkan dengan bapak saya, kakek saya itu meminjam uang kepada KHS. Abdullah Schal untuk keperluan acara resepsi.

Dan kalau mau mengundang beliau untuk ceramah agama, kakek saya mengadakan urunan dengan masyarakat setempat sebagai sewa mobil, karena kala itu KHS. Abdullah Schal belum punya kendaraan pribadi.

Konon, suatu malam turun hujan sangat deras, angin ribut dan petir menyambar, tiba-tiba dari luar rumah saya terdengar suara beliau memanggil-manggi kakek saya, “Adnan, Adnan!” Panggi beliau dari luar.

Katanya, beliau datang ke rumah hanya ingin numpang berteduh dari hujan, setelah selesai menghadiri sebuah undangan. Tapi waktu itu kakek saya sedang tidak ada di rumah.

Setelah keesokan harinya, rumah saya itu tiba-tiba disambar angin sehingga atapnya rusak dan berantakan. Rupanya kedatangan beliau malam itu sebagai pertanda rumah saya harus direnovasi. Demikian kata ibu saya.

Masa-masa sulit KHS. Abdullah Schal terus berlangsung lama, hingga suatu ketika Nyai Hj. Romlah (ibunda beliau) binti KH. Imron bin Syaichona Moh. Cholil mengatakan kepada beliau,

“Lebileh mun engkok la tadek, be’eh la bennyak pessenah.” (Kapan-kapan kalau aku sudah tiada, kamu akan banyak uangnya). Demikian, kurang lebih kata-kata Nyai Romlah kepada KHS. Abdullah Schal.

Dan kata-kata tersebut belakangan terbukti, setelah ibunya wafat, KHS. Abdullah Schal mulai bebas dari masa-masa sulitnya, hingga bisa membangun Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil dan terus maju hingga kini dan seterusnya.

Semoga barakahnya terus mengalir kepada kita dan anak cucu semua. Aamiin.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.