Asscholmedia.net – Syaikh Muhammad al-Mahdiy bin Ahmad Ali bin Yusuf (w. 1052 h) dalam kitabnya Musarrat bi Jala’i Dalailu al-Khairat mengutip dari Abu Al-Fadhal al-Qadhi Iyadh bin Musa al-Yahshibiy (w. 544 h) dalam karyanya asy-Syifa’ bi Ta’rifi Huquqi al-Mushthafa mengatakan:

وفي الشفاء حديث كل دعاء محجوب فإذا جاءت الصلاة على صعد الدعاء وعزاء أبو محمد جبر لإسحق بن إبراهيم وأبو الشيخ في النصائح له قال ذكر صاحب الشرف، يعني شرف المصطفى، أن الصلاة على النبي ﷺ جناح الدعاء الذي يصعد به وتؤمل الإجابة. وقال ابن عطاء الله : للدعاء أركان وأجنحة وأسباب وأوقات فإن وافق أركانه ،قوي وإن وافق أجنحته طار في السماء، وإن وافق مواقيته فاز، وإن وافق أسبابه أنجح، فأركانه حضور القلب والرقة والاستكانة والخشوع وتعلق القلب بالله وقطعه من الأسباب وأجنحته الصدق، ومواقيته الأسحار، وأسبابه الصلاة على النبي ﷺ.

Dalam kitab asy-Syifa’ dijumpai sebuah hadits yang berbunyi:

كل دعاء محجوب فإذا جاءت الصلاة على صعد الدعاء

Artinya: “Setiap doa itu terhalang, ketika sholawat kepadaku didatangkan (dibacakan). Maka doa itu akan naik”.

Abu Muhammad Jabir mengungkapkan kepada Ishaq bin Ibrahim dan Abu asy-Syaikh dalam kitab an-Nasha’hu karya:

Penulis kitab Syarfu al-Musthafa menyebutkan: “Sholawat kepada Nabi ﷺ adalah sayap doa yang akan melambungkan dan dikabulkannya doa.”

Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandariy mengatakan: “Doa itu memiliki beberapa rukun, sayap, sebab dan waktu. Jika rukun-rukun doa telah terpenuhi, maka doa akan kuat (dikabulkan). Jika sayap-sayap doa telah terpasang, maka doa akan terbang melambung ke langit. Jika doa sesuai dengan waktu-waktunya, maka (orang yang berdoa) akan beruntung dan jika sebab-sebab doa telah dilakukan akan sukses.

Adapun rukun-rukun doa adalah menghadirkan hati, bersih, tunduk, khusuk dan berusaha menghubungkan hati kepada Allah ﷻ, dan memutus segala sebab musabab selain Allah ﷻ. Sayap-sayap doa adalah sedekah. Waktu-waktunya adalah waktu sahur (malam jam 12 keatas) sedangkan sebab-sebabnya adalah sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Muhammad al-Mahdiy bin Ahmad Ali bin Yusuf| Musarrat bi Jala’i Dalailu al-Khairat| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 41.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.