Asscholmedia.net – Segala kemewahan, kegagahan dan kecantikan adalah anugerah yang harus disyukuri, tidak selayak disombongkan dan mencaci sesama. Pada masanya, ketampanan dan kecantikan itu akan memudar menjadi tua yang tidak elok lagi di pandang dan segala kemewahan akan ditinggalkan menjadi rebutan ahli warisnya.

Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri”. (QS. Luqman: 18)

Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawiy (w. 1315 h) Futu al-Habib al-Gharib Tausyikh ala fathu al-Qarib dalam mengutip dari Ibnu Umar ra mengatakan:

أن ابن آدم إذا جلس ليقضي حاجته ببول أو يتغوط جاءه ملك، وقام على رأسه وقال له يا ابن آدم انظر إلى اللقمة التي أكلتها ، كيف تغيرت عن حالها بصحبتك، فانظر إلى عاقبتك وما يؤول إليه حالك في القبر.

“Sesungguhnya anak cucu Adam ketika duduk untuk menunaikan hajat, baik buang air kecil atau buang air besar. Datang malaikat kepadanya dan berdiri di atas kepalanya sembari berkata kepadanya: “Hai anak cucu Adam! Lihatlah pada sesuap makanan yang kamu makan. Bagaimana ia bisa berubah bentuk sebab bersamamu? Dan fikirkanlah akhir dari hidupmu dan sesuatu yang akan datang di dalam kubur.”

Maka begitu indah dan mengena senandung Ibnu Auf yang dikutip Syaikh Abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bishriy al-Mawardiy (w. 450 h) dalam Adabu ad-Dunya wa ad-Din mengikatkan:

عَجِبْتُ مِنْ مُعْجَبٍ بِصُورَتِهِ … وَكَانَ فِي الْأَصْلِ نُطْفَةً مَذِرَهْ
وَهُوَ غَدًا بَعْدَ حُسْنِ صُورَتِهِ … يَصِيرُ فِي اللَّحْـدِ جِيفَةً قَذِرَهْ
وَهُوَ عَلَى تِيهِهِ وَنَخْــــــوَتِهِ … مَا بَيْنَ ثَوْبَيْهِ يَحْمِلُ الْعَــذِرَهْ

Aku heran pada seseorang yang bangga dengan bentuk penampilannya, padahal sebelumnya berasal dari air mani yang menjijikan

Dan esok, setelah parasnya yang rupawan memudar, ia dalam bumi (kubur) hanya mayat yang busuk mengenaskan

Terlepas dari sifat angkuh dan sombongnya, sejatinya ia membawa kotoran di antara pakaian yang digunakan.

Senada dengan Syaikh Abi al-Hasan al-Bishriy al-Mawardiy, Al-Imam al-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an mengisahkan:

أن مطرف بن عبدالله بن الشخير رأى المهلب بن أبي صفرة يتبختر في مطرف خز وجبة خز فقال له: يا عبدالله، ما هذه المشية التي يبغضها الله؟ فقال له: أتعرفني؟ قال نعم، أولك نطفة مذرة، وآخرك جيفة قذرة، وأنت فيما بين ذلك تحمل العذرة. فمضى المهلب وترك مشيته.

“Bahwa pada suatu hari Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syahir melihat al-Muhallab bin Abi Shafrah menyombongkan diri dalam selendang selendang sutara dan jubah sutra yang dipakainya lalu ia berkata pada al-Muhallab: “Ya Abdullah! Cara Berjalanmu dimurkai Allah ﷻ. al-Muhallab lantas bertanya: “Apakah kamu tidak tahu siapa aku?” Lalu Mutharrif bin Abdullah menjawab: “Ya aku tahu siapa kamu, asalmu adalah sperma yang hina dan akhirmu adalah bangkai yang menjijikan.” Mendengar pernyataan Mutarrif, al-Muhallab sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa di dunia. Ia pun mengubah etika berjalannya.

Ibnu Quthaibah ad-Dainuriy (w. 277 h) mengutup dari seorang penyair lain berkata:

يَا مُظْهِرَ الْكِبْرِ إِعْجَاباً بِصُــــــــوْرَتِهِ … أُنْظُرْ خِـــلَاكَ فَإِنَّ النَّتْــــــــنَ تَثْرِيْبُ
لَوْ فَــــــكَّرَ النَّاسُ فِيمَا فِي بُطُونِهُمُ … مَا اسْتَشْعَرَ الْكِبْرَ شُبَّـــانٌ وَلا شِيبُ
هَلْ فِي ابْنِ آدَمَ غَيْرَ الرَّأْسِ مَكْرُمَةٌ … وَهُــوَ بِخَمْسٍ مِنَ الْأَوْسَاخِ مَضْرُوبُ
أَنْفٌ يَسِيلُ وَأُذْنٌ رِيحُــــــــهَا سَهِكٌ … وَالْعَيْنُ مُــــرْمَصَةٌ وَالثَّغْـــــرُ مَلْهُوبُ
يَا ابْنَ التُّرَابِ وَمَأْكُـولَ التُّرَابِ غَدًا … قَصِّرْ فَإِنَّكَ مَأْكُولٌ وَمَشْــــــــــــرُوبُ

Wahai orang sombong karena bangga akan dirinya, lihatlah darahmu! Sungguh bau busuk sangat menyengat darinya.

Kalaulah manusia memikirkan apa yang ada di dalam perutnya, maka ia tidak akan merasa sombong, baik pemuda maupun orang tua.

Adakah pada anak Adam seperti kepalanya memiliki kemuliaan? Padahal kepala itu membawa lima kotoran bersamanya.

Hidung yang beringus, kedua telinga yang berbau,kedua mata yang mengeluarkan belek (kotoran mata), dan mulut yang mengalirkan liur.

Wahai anak tanah yang kelak akan dimakan tanah, berhentilah, karena kelak engkau akan dimakan dan diminum. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawiy| Futu al-Habib al-Gharib Tausyikh ala fathu al-Qarib| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 45.

✍️ Syaikh Abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bishriy al-Mawardiy| Adabu ad-Dunya wa ad-Din| Ad-Daru al-Mishriyah al-Bannaniyah hal 289.

✍️ Syikh Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshoriy al-Qurthubiy| al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an| Daru al-Kutub al-Ilmiyah jld 9 hal 191.

✍️ Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dainuriy| Uyunu al-Akhbar| Maktabah asy-Syamilah juz 1 hal 384.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.