Asscholmedia.net – Syaikh Abdurrahman Jalaluddin as-Suyuthiy (w. 911 h) dalam kitab tafsirnya al-Jalalain mengetakan:

{ الكوثر } هو نهر في الجنة هو حوضه ترد عليه أمته، والكوثر: الخير الكثير من النبوَّة والقرآن والشفاعة ونحوها.

“Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga, yaitu telaga Rasulullah ﷺ, tempat yang akan di datangi umat beliau. Kata al-Kautsar sendiri artinya: Kebaikan yang banyak berupa kenabian, al-Qur’an, Syafa’at dan lainnya.”

Sementara Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawiy al-Mishriy al-Khalwatiy al-Malikiy (w. 1241 h) dalam kitab tafsir Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalain menambahakan:

(هو نهر في الجنة) ويؤيده قوله صلى الله عليه وسلم: ” الكوثر نهر في الجنة، حافتاه من الذهب، مجراه من الدر والياقوت، تربته أطيب من المسك، وماؤه أحلى من العسل وأبيض من الثلج “.

Penafsiran al-Kautsar sebagai telaga di surga dikuatkan sabda Nabi ﷺ: “Al-Kautsar adalah sungai di surga, kedua tepinya terbuat dari emas, tempat alirannya terbuat dari mutiara dan permata Yaqut, tanahnya lebih harum dari minyak kesturi, airnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada salju.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian Syaikh Ahmad bin Muhammad Shawiy melanjutkan:

وقوله: (هو حوضه) الصواب أن يقول: أو هو حوضه، لأنهما قولان مذكوران في التفاسير من جملة ستة عشر قولاً، ويدل لهذا الثاني قول أنس: ” بينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم بين أظهرنا، إذ أغفى إغفاءة، ثم رفع رأسه متبسماً؛ فقلنا: ما أضحكك يا رسول الله؟ قال: أنزلت علي آنفاً سورة فقرأ { بِسمِ ٱلله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيـمِ إِنَّآ أَعْطَيْنَاكَ ٱلْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلأَبْتَرُ } ثم قال: أتدرون ما الكوثر. قلنا: الله ورسوله أعلم، قال: ” فإنه نهر وعدنيه ربي عز وجل، عليه خير كثير، وهو حوض ترد عليه أمتي يوم القيامة، آنيته عدد نجوم السماء، فيختلج العبد منهم فأقول: يا رب أنه من أمتي، فيقول: ما تدري ما أحدث بعدك “. وورد في صفة الحوض أحاديث منها قوله صلى الله عليه وسلم: ” حوضي مسيرة شهر، ماؤه أبيض من اللبن، وريحه أطيب من المسك، وكيزانه كنجوم السماء، من شرب منه لم يضمأ أبداً ” زاد في رواية: ” وزواياه سواء “. “.

Barangkali redaksi yang benar adalah “atau al-Kautsar adalah telaga Rasulullah ﷺ, karena kedua penafsaran di atas telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir salah satu dari 16 penafsiran dari kata al-Kautasar. Dan yang menunjukan al-Kautsar bermakna kedua (telaga Rasulullah ﷺ) adalah hadits Anas bin Malik ra: “Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami, beliau tidur sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan keadaan tersenyum. Maka kami bertanya: “Apa yang telah menjadikanmu tersenyum wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Baru saja diturunkan kepadaku sebuah Surat”. Lalu beliau membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. Al-Kautsar: 1-3).

Kemudian beliau berkata: “Tahukah kamu, apakah al-Kautsar itu?”. Kami menjawab: “Allah ﷻ dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Itu adalah sebuah sungai yang dijanjikan Tuhanku ﷻ kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Itu juga merupakan telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat. Wadah minumnya sebanyak bilangan bintang-bintang (di langit). Kemudian seorang hamba di antara mereka akan ditarik, maka aku berkata: “Wahai Tuhanku, dia adalah umatku”. Allah ﷻ menjawab: :”Engkau tidak mengetahui perkara baru yang dibuat oleh umatmu setelahmu”. (HR. Muslim).

Dan telah banyak riwayat hadits yang menjelaskan sifat dari telaga al-Kautsar di antaranya hadits Nabi ﷺ: “Telagaku seluas perjalanan selama satu bulan, Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak Kasturi, cangkirnya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa yang telah meminum air telaga tersebut niscaya dia tidak akan merasa haus untuk selama-lamanya”. (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain ada penambahan kalimat: “dan panjang tepi-tepinya sama demikian.” Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Abdurrahman Jalaluddin as-Suyuthiy| Tafsir al-Jalalain| Maktabah al-Iman bi al-Manshurah—Palestina hal 664.

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawiy al-Mishriy al-Khalwatiy al-Malikiy| Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalain| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 4 hal 435-436.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.