Asscholmedia.net – Malam itu rembulan begitu indah dengan taram temaram sorot cahaya purnama-nya. Di depan Ka’bah, di pelataran rumah Tuhan. saat orang-orang hanyut dalam putaran tawafnya, lamat-lamat aku mendengar suara kesedihan orang merintih. Aku pun berusaha mencari sumber suara itu, ternyata suara rintihan itu berasal dari seorang pemuda yang memiliki wajah tampan rupawan dan tinggi semampai, sedang bergelantung di tirai Ka’bah sembari bermunajat pada Allah ﷻ:

نَامَتِ العُيُوْنُ وَغَارَتِ النُّجُوْمُ وَاَنْتَ الْمَلِكُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، وَقَدْ غَلَّقَتِ الْمُلُوكُ أَبْوَابَهَا، وَأَقَامَتْ عَلَيْهَا حُرَّاسَّهَا وَحُجَّابَهَا، وبَابُكَ مَفْتُوْحُ لِلسَّائِلِيْنَ، فَهَا أَنا سَائِلُكَ بِبَابِكَ مُذْنِبًا فَقِيْرًا مِسْكِيْنًا أَسِيْرًا جِئْتُ أنْتَظِرُ رَحْمَتَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

“Mata-mata telah terlelap, bintang-bintang telah terbenam, dan Engkaulah Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri. Sungguh pintu-pintu para raja telah ditutup dan mereka meletakan di dekat pintu-pintunya para penjaga dan para pelindungnya. Sedangkan pintu-Mu selalu terbuka untuk para peminta. Maka aku adalah orang yang meminta-minta di depan pintu-Mu, penuh dosa, fakir, miskin dan orang yan tertawan. Aku datang menanti rahmat-Mu duhai Dzat yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi“.

Lalu kemudian ia melantunkan kidung syair:

يَا مَنْ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ فِي الظُّلَمِ … يَا كَاشِفَ الضُّرِّ وَ الْبَـــــــــلْوَى مَعَ السَّقَمِ‏

قَدْ نَامَ وَفْدُكَ حَـــــوْلَ الْبَيْتِ وَانْتَبَهُوْا … وَأَنْتَ يَاحَيُّ يَــــــــــــا قَيُّوْمُ لَمْ تَنَمْ

أَدْعُكَ رَبِّىْ وَمَــــــــــــوْلاَيَ وَمُسْتَنَدِىْ … فَارْحَمْ بُكَائِي بِحَقِّ الْبَيْتِ وَ الْحَـــــــــــــرَمِ‏

أَنْتَ الْغَفُوْرُ فَجُــــــــدْلِيْ مِنْكَ مَغْفِرَةْ … أَوِ اعْفُ عَنِّيْ يَا ذَا
الْجُـــــــــــــــوْدِ وَالنِّعَمْ

إِنْ كَانَ عَفْوُكَ لَا يَرْجُوهُ ذُوْ جـَــــــرَمْ … فَمَنْ يَجُوْدُ عَلَى الْعَاصِيْنَ بِالْكـَـــــــــــرَمْ

“Duhai Dzat Yang Mengabulkan doa orang yang kesulitan dalam kedzaliman
Duhai Dzat Yang Menghilangkan marabahaya dan bencana serta sakit

Sungguh telah tidur perutusan-Mu di sekitar Baitullah dan telah terjaga
Dan Engkau, duhai Dzat Yang Hidup, duhai Dzat Berdiri Sendiri, Yang tidak pernah tidur

Aku berdoa Rabbku, Tuhanku dan sandaranku
Belas kasihani tangisanku dengan hak Baitullah dan Tanah Haram

Engkau Dzat Yang Pengampun, maka karuniakan kepadaku ampunan
Atau ampuni aku duhai Dzat Yang Dermawan dan Dzat Yang Memberi Segala Kenikmatan

Jika ampunan-Mu tidak bisa diharapakan orang berdosa
Maka siapa lagi Dzat Yang memberi kepada orang yang durhaka dengan kedermawanannya?”

Kemudian ia mengangkat kepalanya ke langit sembari mengadu:

يَاإِلٰهِيْ سيِّدِيْ وَمَوْلاَيَ! إِنْ أَطَعْتُكَ بِعِلْمِيْ وَمَعْرِفَتِيْ فَلَكَ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ عَليَّ، وَِإِنْ عَصَيْتُكَ بِجَهْلِيْ فَلَكَ الْحُجَّةُ عَليَّ.

“Duhai Ilahi, Junjunganku dan Tuhanku! Jika aku taat kepadaku sebab pengetahuan dan makrifatku, maka bagi-Mu segala puji dan keanugrahan atasku. Jika aku durhaka kepadamu sebab kebodohanku, maka bagi-Mu hujjah atasku.”

Dan ia lalu mengangkat kepalanya ke langit kedua kalinya sembari bermunajat dengan suara lantang:

يَاإِلٰهِيْ سيِّدِيْ وَمَوْلاَيَ! مَا طَابَتْ الدُّنْيَا إِلاَّ بِذِكْرِكَ، وَمَا طَابَتْ الْعُقْبَى إِلاَّ بِعَفْوِكَ، وَمَا طَابَتْ الْأَيَّامُ إِلاَّ بِطَاعَتِكَ، وَمَا طَابَتْ الْقُلُوْبُ إِلاَّ بِمَحَبَّتِكَ، وَمَا طَابَتْ النَّعِيْمُ إِلاَّ بِمَغْفِرَتِكَ.

“Duhai Ilahi, Junjunganku dan Tuhanku! Tidak ada suatu yang menyenangkan bagi dunia kecuali dengan mengingat-Mu, tidak ada suatu yang menyenangkan bagi akibat sesuatu kecuali dengan maafmu, tidak ada suatu yang menyenangkan dari hari-hari kecuali dengan ketaatan kepada-Mu, tidak ada suatu yang menyenangkan bagi hati kecuali dengan mencintai-Mu dan tidak ada sesuatu suatu yang menyenangkan bagi segala kenikmatan kecuali dengan ampunan-Mu.

Kemudian ia bersenandung syair lagi:

أَلَا أيُّهَا المَأْمُـــــــــــوْلُ فِي كُلِّ شِدَّةٍ … إلَيْكَ شَكَـــــــــــوْتُ الضُرَّ فَارْحَـــــــمْ شَكَايَتِى

أَلَا يَا رَجَائِيْ أَنْتَ كَاشِفُ كُـــــــربَتِيْ … فَهَبْ لِيْ ذُنُوْبِيْ كُلَّهَا وَاقْضِ حَـــــــــــــــــاجَتِيْ

فَـــــــــــــــزَادِيْ قََلِيْلٌ مَا أَرَاهُ مُبَلِّغِيْ … عَلٰى الـــــــــــــزَّادِ أَبْكِيْ أَمْ لِبُعْدِ مَسَــــــافَتِيْ

أَتَيْتُ بِأََعْمَـــــــــــــالٍ قِبَـــــاحٍ رَدِيْئَةٍ … وَمَا فِىْ الْوَرَىٰ خَلْقٌ جَــنَىٰ كَجِنَــــــــــــــــايَتِيْ

“Duhai Dzat Yang Harapkan di setiap kesulitan
Kepada-Mu aku mengadukan kesulitan, maka belas kasihani pengaduanku

Duhai Dzat Yang Menjadi harapanku, Engkau Yang Menghilangkan kesulitanku
Berilah pengampunan dari dosa-dosaku semuanya dan kabulkan hajatku

Bekal sedikit, tidak ada yang bisa mendatangkanku
pada bekal, aku menangis atau karena jauhnya jarak (perjalan yang akan aku tempuh)

Aku datang (kepada-Mu) dengan membawah amal-amal yang jelek dan rendah
Tidak ada di dunia seorang makhluk yang bersalah seperti kesalahanku

Ia mengulang-ngulang syair itu sehingga ia jatuh tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Lantas aku mendekatinya. Betapa kagetnya aku, ternyata ia adalah Sayyid Zainal Abidin. Nama lengkapnya Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Lalu aku sandarkan kepalanya pada batu dan aku ikut larut dalam tangisannya yang semakin jadi sebagai rasa ibaku kepadanya. Tidak terasa air mataku berlinang mengenai pipinya kemudian ia sadarkan diri dan membuka kedua matanya seraya berkata: “Siapa engkau yang telah menganggu dzikirku pada Tuhanku?

“Paduka Ashmu’iy wahai tuanku! Apa arti tangisan dan kecemasan ini tuanku? Sedangkan Anda adalah Ahli Bait Nabi ﷺ dan kesayangan Rasul ﷺ. Tidakkah Allah ﷻ telah berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33).

Kemudian ia meluruskan posisi duduknya dan berkata: “Jauh wahai Ashmu’iy! Sesungguhnya Allah ﷻ menciptakan surga untuk orang taat kepadanya sekalipun ia seorang sahaya dari Habasyah (Utiopia). Dan Allah ﷻ menciptakan neraka untuk orang yang durhaka walau ia seorang raja keturunan Quraisy. Tidakkah engkau mendengar Allah ﷻ berfirman:

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ.

“Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (QS. Al-Mu’minun: 101). Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ismail Haqqi bin Mushtafa al-Hanafiy al-Khalwatiy al-Barusawiy| Ruhu al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 6 hal 117.

✍️ Al-Hafidz Abi al-Qasim Ali bin al-Hasan Ibnu Hibatullah bin Abdullah asy-Syafi’iy al-Ma’ruf bi Ibni ‘Asakir| Daru al-Fikr juz 41 hal 359.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.