Asscholmedia.net – Di bulan Ramadhan, Umat Islam selain diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Mereka juga diwajibkan membayar zakat Fitrah tujuannya tiada lain untuk mensucikan dan menyempurnakan puasanya sebagaimana keterangan dalam hadits:

وَعَن ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: “فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ”. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ.

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhuma berkata, “Rasalullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

وَقَالَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يُرْفَعُ إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

Artinya: Rasalullah ﷺ bersabda: ”(Puasa) di bulan Ramadan digantungkan di antara langit dan bumi, tidak diangkat menuju Allah ﷻ kecuali dengan zakat fitrah.” (HR. Ad-Dailami).

Lalu kapan zakat Fitrah mulai disyariatkan?

Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairamiy (w. 1221 h) dalam kitabnya Hasyiyah al-Bujairamiy ala Syarhi Mihaji al-Tullab mengatakan:

وفرضت في رمضان في السنة الثانية من الهجرة قبل العيد بيومين.

“Zakat Fitrah mulia disyariatkan pada bulan puasa tahun kedua hijriyah, tepatnya dua hari sebelum Idul Fitri. Adapun dalil diwajibkannya membayar zakat fitrah sebelum terjadi kesepakatan ulama adalah hadits:

عَنِ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ : أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ، أَوْ عَبْدٍ، أَوْ رَجُلٍ، أَوِ امْرَأَةٍ، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ . (رواه البخاري و مسلم)

Artinya; “Dari Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata, “Bahwa Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitri karena telah berakhir Ramadhan, atas setiap jiwa kaum muslimin, orang merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, kecil atau besar, sebanyak satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

عَنِ ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله تعالى عنهما قَالَ :فَرَضَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhuma berkata, “Rasalullah ﷺ mewajibkan zakat fitri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang haram, serta makanan bagi orang-orang miskin, barangsiapa mengeluarkannya sebelum sholat Idul fitri maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Idul fitri maka itu adalah sedekah biasa.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1427].

Menurut beliau dalam karyanya yang lain, yang diberi nama Tuhfstu al-Habib ala Syarhi al-Khatib mengatakan:

“Berdasarkan dua hadits dimuka, zakat Fitrah bisa diartikan cabang zakat yang wajib ditunaikan oleh setiap Umat Islam dengan membayar makanan pokok seberat 1 Sha’ pada bulan Ramadhan. Disebutkan bahwa zakat Fitrah merupakan istilah yang belum digunakan di masa pra-Islam. Oleh karena, zakat Fitrah ini tergolong Khushusiyah (kekhususan) bagi umat Rasulullah ﷺ.

Sementara istilah penamaan zakat Fitrah menurut al-Khatib asy-Syirbiniy (w. 977 h) dalam al-Iqna’ fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’ terdapat dua alasan:

1- Zakat Fitrah kerena diupamakan seperti Fitrah (penciptaan) manusia, berdasar firman Allah ﷻ:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ

“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum:30).

2- Shadaqah Fitri, kerena kewajiban pelaksanaannya menjelang hari raya Idul Fitri.

Sedangkan sebab-sebab diwajibkannya zakat Fitrah sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad Ibnu al-Qasim al-Ghazziy (w. 1098 h) dalam kitab Fathu al-Qarib al-Mujib mengatakan;

وتجب زكاة الفطر —حتى أن قال— بثلاثة أشياء: الإسلام؛ فلا فطرة على كافر أصلي إلا في رقيقه وقريبه المسلمين. وبغروب الشمس من آخر يوم من شهر رمضان. وحينئذ فتُخرَج زكاة الفطر عمن مات بعد الغروب دون من وُلد بعده. ووجود الفضل وهو يسار الشخص بما يفضل عن قوته وقوت عياله في ذلك اليوم، أي يوم عيد الفطر وكذا ليلته أيضا.

“(Sebab) diwajibkan menunaikan zakat Fitrah—hingga ucapan sang pengarang”—karena tiga hal: (1) Islam; Sehingga tidak wajib menunaikan zakat bagi orang kafir asli kecuali membayarkan zakat budak dan kerabatnya yang beragama islam. (2) terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan; Maka dari itu, wajib dibayarkan zakat dari orang yang meninggal dunia sebelum maghrib dan bukan anak yang terlahir setelah maghrib. (3) adanya kelebihan dari makanannya dan makanan keluarganya untuk hari itu yakni hari hari dan malam hari raya idul fitri.

Kemudian apa hikmah dibalik kewajiban membayar zakat Fitrah?

1- Menurut Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitab Ibanatul Ahkamnya mengatakan:

فرض الرسول زكاة الفطر من صوم رمضان طهرة للصائم من اللغو والفحش الذي يقع منه أثناء الصوم فهي جابرة للخلل الواقع في الصيام كما يجبر سجود السهو الخلل الواقع في الصلاة وأنها في ذلك اليوم غنى للفقراء عن السؤال وإشعار لهم بسرور العيد والسعادة والعزة الإسلامية وكرامة الإجتماع والشعور بالإنسانية والهناء والحبور.

“Sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji yang terlontar di tengah ibadah puasa. Menjadi penambal (penyempurna) kekurangan ibadah puasa sebagaimana sujud Sahwi yang menggenapi kekurangan dalam shalat. agar tidak meminta-minta, syiar kebahagiaan di hari raya, kemulian Islam, kehormatan semangat bersama dan menumbuhkan rasa kemanusiaan yang menyenangkan dan suka cita.”

وإخراج زكاة الفطر قبل الصلاة أفضل. والحكمة في ذلك أن لا يشتغل الفقير بالسؤال عن الصلاة

“Pembayaran zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri lebih utama. Hikmahnya adalah agar orang fakir yang menerimanya tidak melalaikan shalat Id karena sibuk mengemis untuk mencukupi kebutuhannya,”

2- Al-Khatib asy-Syirbiniy (w. 977 h) dalam al-Iqna’ fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’ mencatat:

فَائِدَة ذكر الْقفال الشَّاشِي فِي محَاسِن الشَّرِيعَة معنى لطيفا فِي إِيجَاب الصَّاع وَهُوَ أَن النَّاس تمْتَنع غَالِبا من الْكسْب فِي الْعِيد وَثَلَاثَة أَيَّام بعده وَلَا يجد الْفَقِير من يَسْتَعْمِلهُ فِيهَا لِأَنَّهَا أَيَّام سرُور وراحة عقب الصَّوْم وَالَّذِي يتَحَصَّل من الصَّاع عِنْد جعله خبْزًا ثَمَانِيَة أَرْطَال من الْخبز فَإِن الصَّاع خَمْسَة أَرْطَال وَثلث كَمَا مر ويضاف إِلَيْهِ من المَاء نَحْو الثُّلُث فَيَأْتِي مِنْهُ ذَلِك وَهُوَ كِفَايَة الْفَقِير فِي أَرْبَعَة أَيَّام لكل يَوْم رطلان.

“Imam Qaffal as-Syafi’i menerangkan bahwa hikmah dibalik kewajiban membayar zakat Fitrah seberat 1 Sha’ karena ukuran 1 Sha’ gandum dapat menghasilkan 8 rith roti yang cukup dikonsumsi selama 4 hari. Hal itu sesuai kebiasaan masyarakat yang tidak bisa bekerja pada hari raya dan 3 hari setelahnya dikarenakan hari bersuka cita dan momen beristirahat setelah menjalankan ibadah puasa.”

3- Menurut Syaikh Abdullah al-Basam at-Tamimiy dalam kitabnya Tawdhihu al-Ahkam min Bulughi al-Maram mengatakan:

مشروعية إعطاء زكاة الفطر من هذه الأجناس الخمسة: الحنطة، والتمر، والشعير، والزبيب، والأقط. حكمة هذا التوزيع: التسهيل على المخرِجين، فكل أهل قطر يخرجون مما عندهم، فلا يكلفون مما ليس لديهم، كما أنَّ إغناء الفقراء يكون من الطعام الذي يأكله جمهورهم.

“Disyari’atkannya membayar zakat Fitrah meliputi 5 jenis makan pokok, yaitu gandum, kurma kering, biji syair, anggur kering dan keju, hikmahnya adalah untuk mempermudah bagi orang yang mengeluarkan zakat hingga mereka bisa dengan mudahnya mengeluarkan dari harta yang mereka punya. Tidak dipaksa mengeluarkan zakat dengan mengelurkan makan yang tidak ada pada meraka kerena cara untuk mencukupi kebutuhan orang fakir miskin adalah dengan beri makan yang biasa mereka makan.” Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairamiy| Hasyiyah al-Bujairamiy ala Syarhi Mihaji al-Tullab| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 2 hal 56.

✍️ Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairamiy| Hasyiyah al-Bujairamiy ala al-Khatib al-Musamma Tuhfstu al-Habib ala Syarhi al-Khatib| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 64.

✍️ Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki| Ibanatul Ahkam| Darul Fikr Libanun juz 2 hal 249.

✍️ Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Khatib asy-Syirbainiy| Al-Iqna’ fi Hilli Alfadzi Abi Syaji’| Maktabah asy-Syamilah hal 226-229.

✍️ Syaikh Muhammad Ibnu al-Qasim al-Ghazziy| Fathu al-Qarib al-Mujib| Darul Fikr Libanun juz 64.

✍️ Syaikh Abdullah al-Basam at-Tamimiy|Tawdhihu al-Ahkam min Bulughi al-Maram| Makatabah asy-Syamilah juz 3 hal 378.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.