اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّــدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُخْرِجُنِى مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَتُـــكْرِمُنِى بِنُوْرِ الْفَهْمِ وَتُوْضِحُ لِى مَاأَشْكَـــلَ حَتَّى يُفْهَمُ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ.

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Sayidina Muhammad ﷺ, dengan berkat sholawat tersebut, Engkau keluarkan aku dari kegelapan kebingungan, engkau muliakan aku dengan cahaya pemahaman, engkau jelaskan kepadaku segala hal yang pelik hingga mudah dipahami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sholawat ini dikenal dengan Sholawat Fathu ar-Rabbani (sholawat pembuka rahasia Ilahi), menambah pemahaman dan hafalan serta penerang batin yang sangat cocok diamalkan oleh bagi penuntut ilmu dalam urusan dunia maupun akhirat.

Syaikh Ahmad bin al-Makmin al-Balghitsiy (w. 1348 h) dalam kitabnya Majla al-Asrar wa al-Haqaiqu fima Yata’alaqu bi ash-Shalati ala Khairi al-Khalaiq ﷺ mengatakan: “Aku mendapatkan sholawat ini dalam tulisan guru kami dan guru dari guru kami Junjunganku Syaikh Muhammad bin al-Madaniy Junnun Rahimahullah mengutip dari tulisan gurunya Junjunganku al-Walid al-Iraqiy Rahimahullah yang mengatakan, bahwa al-Arif billah Junjunganku Syaikh Muhammad bin al-Faqih Rahimahullah mendapatkan sholawat ini dari gurunya Junjunganku Syaikh Abdullah, beliau mengatakan:

من دوام على قرأتها سبعة أيام خمسمائة مرة في اليوم رأى لذلك أمرا عظيما في دينه ودنياه. اهـ وهي للإعانة على الفهم والحفظ.

“Barang siapa merutinkan membacanya selama 7 hari sebanyak 500 kali setiap hari, maka ia karena (berkah) sholawat itu akan melihat melihat sesuatu yang agung dalam urusan dunia dan akhirat dan dapat membantunya menambah pemahaman serta hafalan.”

Dalam satu riwayat ditemukan redaksi yang berbeda dengan redaksi yang telah disebutkan:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّــدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُخْرِجُنِى مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَتُـــكْرِمُنِى بِنُوْرِ الْفَهْمِ وَتُوْضِحُ لِى مَاأَشْكَـــلَ حَتَّى يُفْهَمُ أِنَّكَ أَنْتَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ إنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ.

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Sayidina Muhammad ﷺ, dengan berkat sholawat tersebut, Engkau keluarkan aku dari kegelapan kebingungan, engkau muliakan aku dengan cahaya pemahaman, engkau jelaskan kepadaku segala hal yang pelik hingga mudah dipahami. Duhai Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui apa-apa. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua yang ghaib.”

Syaikh Ahmad bin al-Makmin al-Balghitsiy lalu menutup komentarnya tentang sholawat ini dengan sebuah pernyataan: “Sholawat ini telah aku bukti dengan membacanya setiap membuka majlis pelajaranku dan dengan keutamaannya aku telah banyak menguak rahasia-rahasia pemahaman yang tidak aku mengerti sebelumnya. Alhamdulilah.”

Sementara dalam kitab Riyadhu ar-Raqaiq wa Hiyadhu al-Haqaiq ala Sholati al-Quthbu al-Faiq Maulana Abdussalam bin Masyisyisy karya Doktor Muhammad bin Muhammad al-Mahdiy at-Tamsamaniy mengatakan:

إن من فسد مزاجه بالمثابرة على ذكر اسم، فإصلاحه بأن يصلى على النبي ﷺ إثر صلاة الصبح مائة مرة بقوله: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّــدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُخْرِجُنِى مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَتُـــكْرِمُنِى بِنُوْرِ الْفَهْمِ وَتُوْضِحُ لِى مَاأَشْكَـــلَ حَتَّى يُفْهَمُ أِنَّكَ أَنْتَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ إنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ.

ومن هذه الحيثية أيضاً كانت الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم تقوم مقام الشيخ المربي لما فيها من سر الاعتدال الجامع لكمال العباد وتكميله. ففي الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الله، وليس كذلك عكسه، بهذا يحصل الانحراف بالذكر دون الصلاة.

“Barang siapa kondisi mentalnya tidak stabil (temperamen) sebab terlalu gigih dalam berdzikir, maka perbaikilah dengan membaca sholawat pada Nabi ﷺ sebanyak 100 kali setelah sholat Subuh dengan mengucapkan:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّــدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُخْرِجُنِى مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَتُـــكْرِمُنِى بِنُوْرِ الْفَهْمِ وَتُوْضِحُ لِى مَاأَشْكَـــلَ حَتَّى يُفْهَمُ أِنَّكَ أَنْتَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ إنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ.

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Sayidina Muhammad ﷺ, dengan berkat sholawat tersebut, Engkau keluarkan aku dari kegelapan kebingungan, engkau muliakan aku dengan cahaya pemahaman, engkau jelaskan kepadaku segala hal yang pelik hingga mudah dipahami. Duhai Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui apa-apa. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua yang ghaib.”

Berangkat dari anjuran ini, sholawat juga dapat menempati kedudukan seorang Syaikhu al-Mirabbi (guru pembimbing spritual dalam tasawuf) karena didalamnya terdapat rahasia kestabilan yang mengumpulkan pada kesempurnaan hamba dan penyempurnanya. Maka dari itu dalam sholawat mengandung dzikir pada Allah ﷻ dan tidak sebaliknya. Sebab itu (kadang) dengan (banyak) dzikir temperamen seseorang bisa naik berbeda dengan membaca sholawat. Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ahmad bin al-Makmin al-Balghitsiy| Majla al-Asrar wa al-Haqaiqu fima Yata’alaqu bi ash-Shalati ala Khairi al-Khalaiq ﷺ| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 87.

✍️ Doktor Muhammad bin Muhammad al-Mahdiy at-Tamsamaniy| Riyadhu ar-Raqaiq wa Hiyadhu al-Haqaiq ala Sholati al-Quthbu al-Faiq Maulana Abdussalam bin Masyisyisy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 278.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.