Asscholmedia.net – Dahulu di sebuah negara, ada seorang raja besar yang dikenal adil dan bijaksana kerap memantau kehidupan rakyatnya secara langsung dengan menyamar sebagai rakyat jelata. Hingga pada suatu hari ia sampai di sebuah perkampungan besar yang padat penduduk. Tidak satu rumah pun yang ia singgahi kecuali ia menyanakan kesejahteraan penghuninya.

Syahdan, saat ditengah-tengah penyamarannya sang raja ditimpa kehausan. Ia pun segera mencari orang yang sudi memberinya air. Di depan rumah salah penduduk sang raja berhenti dan mengetuk pintu. Lantas keluar dari rumah itu seorang wanita yang cantik jelita membawakan kendi yang berisikan air minum dan sang raja pun meminumnya dengan penuh kehausan.

Semula sang raja tidak memperhatikan paras wanita itu, ia hanya tertuju pada air minum untuk melepas dahaganya. Namun setelah sang raja tahu akan kecantikan wanita pemberi air minum itu. Sang raja menjadi mabuk kepayang hingga membuatnya lupa daratan mengajak wanita itu berbuat mesum.

Dengan bahasa yang santun wanita itu berusaha menolak keinginan sang raja dengan mengaku bahwa dirinya telah bersuami dan tanpa sepengetahuan sang raja wanita itu sebenarnya mengetahui identitas sang raja namun ia diam dan tidak berani membongkar penyamaran sang raja bahkan hingga sang raja mengajaknya berbuat mesum, wanita itu masih bungkam seribu bahasa karena takut nyawa dan keamanan keluarga terancam. Ia hanya bisa pasrah mengikuti ajakan sang raja saat sang raja mengajaknya masuk ke dalam rumahnya sembari mencari jalan keluar agar dirinya bisa selamat dari perbuatan dosa.

Sesampai di dalam rumah, wanita itu berkata: “Saya akan melayani Tuan tapi baca dulu isi buku ini agar Anda sadar akan perbuatan Tuan.”

Tanpa banyak kata sang raja langsung membuka isi buku itu. Setelah buku itu dibaca, alangkah kagetnya sang raja hingga membuatnya sadar karena dalam buku itu tertera larangan berzina lengkap dengan ancaman dan siksa Allah ﷻ bagi siapa yang berani melakukannya.

Seketika tubuh sang raja bergetar hebat sambil berteriak menyesali perbuatannya. Akhirnya sang raja memohon maaf kepada wanita itu atas khilaf yang dilakukan. Menyerahkan kembali buku itu lalu sang raja berpamitan pulang dengan membawa rasa malu.

Setelah suami wanita itu datang, wanita itu bercerita tetang kejadian yang tadi siang menimpa dirinya.

Mendengar penuturan istrinya, sang suami bingung bercampur takut karena bagaimana pun laki-laki yang ingin menodai istrinya bukan orang sembarangan. Laki-laki itu tiada lain penguasa negeri tempat ia dan istrinya tinggal. Bisa saja di kemudian hari sang raja berubah lalim, berbuat sewena-wena membuat cerita bohong mengadili istri dan dirinya.

Maka akibat kegundahan dan rasa takut akan keselamatan istri dan dirinya, suami wanita itu tidak berani gaul istrinya hingga beberapa waktu lamanya.

Melihat kondisi suaminya yang semakin hari semakin terpuruk, akhirnya wanita itu nekat menceritakan dan mengadu pada keluarganya.

“Biarlah kami yang akan menyelesaikan masalah ini dengan sang raja”. Jawab salah seorang dari keluarganya pada wanita itu.

Dan di hari yang telah disepakati segenap keluarga wanita itu, salah seorang dari mereka memberanikan diri menghadap sang raja dengan membawa serta suami wanita itu.

Ketika sampai di istana dan menghadap sang raja, salah seorang dari keluarga itu berkata pada sang raja:

“Paduka raja yang mulia dan dimuliakan Allah ﷻ! Hamba ingin melaporkan laki-laki yang ada di samping hamba ini. Laki-laki ini telah sepakat menyewa ladang hamba untuk ditanami. Namun setelah beberapa tahun ia mengelola ladang hamba, laki-laki ini meninggalkan dan membiarkan ladang kosong tidak ditanami juga tidak diserah kembali pada hamba agar bisa dikelola orang lain. Bukankah jika suatu ladang lama tidak dikelola, tanah ladang itu akan rusak Paduka?”

“Iya!” Balas sang raja.

Lantas sang raja bertanya pada laki-laki yang dilaporkan:

“Apa alasan Kisanak tidak mau lagi menanami ladang miliknya?”

“Tuan raja yang mulia! Hamba tidak menanami ladang orang ini karena di ladangnya ada Singa yang masuk. Hamba takut pada macam itu dan hamba tidak punya kekuatan untuk melawannya.” Jawab orang yang dilaporkan, yang tiada lain adalah suami wanita itu .

Mendengar jawaban dari suami wanita itu, sang raja barulah mengerti maksud perkaranya seraya berkata kepada suami wanita itu:

“Wahai Kisanak! Sesungguhnya ladang yang engkau kelola adalah ladang yang baik dan subur bagus untuk ditanami. Sekarang tanamilah ladang mu itu, semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan berkah padamu. Singa itu tidak akan berani lagi kembali lagi ke ladang mu.”

Lalu sang raja berpesan pada suami wanita itu agar ia menjaga dan menggauli istrinya dengan baik. Kemudian menyuruhnya pulang. Sekian

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Muhammad Diyab al-Idlaidiy| I’lamu an-Nasi bima Waqa’ah li al-Baramakah ma’a Bani al-Abbas| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 277.

✍️ Syaikh Muhammad Kamaluddin bin Musa ad-Damiriy| Hayatu al-Hayawan al-Kubro| Daru an-Nasyair juz 1 hal 49-50.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.