Asscholmedia.net – Berlokasi di Teater Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Selasa (31/01), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan acara penghargaan kepada pondok pesantren yang berusia lebih dari 100 tahun (satu abad). Acara dengan motto, Merawat Jagad Membangun Peradaban ini merupakan bentuk terima kasih NU kepada pesantren yang ikut andil memberikan dedikasi dan kiprah dalam mencerdaskan anak bangsa.
Dilansir dari  https://www.nu.or.id, PBNU menetapkan sejumlah Pondok Pesantren tua di Indonesia untuk mendapatkan penghargaan sebagai pondok pesantren  yang sudah mengabdi lebih dari satu abad dalam Peringatan Hari Lahir 1 Abad Nahdlatul Ulama (1 Abad NU) ini.

Puluhan pondok pesantren tua yang terlampir dalam Surat PBNU No: 471/PB.03/B.I.03.71/99/01/2023 itu menerima penghargaan dalam rangkaian kegiatan Harlah 1 Abad NU yang digelar PBNU di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (31/01).

Khusus untuk acara di TMII, Ketua Pelaksana 1 Abad NU, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenni Wahid) Mengundang Wapres RI Prof. Dr. K.H. Maruf Amin untuk membuka acara.

Dalam penghargaan itu, Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan Madura turut diundang hadir untuk mengambil penghargaan. Melihat sejarah Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan yang kini telah berumur 147 tahun, PBNU memilih Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan dalam kategori pondok pesantren tertua di Indonesia. Sebagaimana dilansir oleh https://www.nu.or.id (), Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan berada pada no urut 27.

Melansir dari website https://timesindonesia.co.id (), selain Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan terdapat 56 deretan pondok pesantren tua di Indonesia yang hadir mengambil trofi penghargaan dari PBNU. Acara penganugerahan tersebut juga dihadiri oleh Tim Dewan Juri Anugerah NU 1 Abad, di antaranya K.H. Yahya Cholil Tsaquf, K.H. Ahmad Mustofa Bisri, K.H. Miftachul Akhyar, Prof. Quraish Shihab, Nyai Hj. Sinta Nuria Abdurrahman Wahid, Prof. Muhammad Mahfud Md, Sri Sultan Hamengkubuwono X, KH. Husein Muhammad, dan KH. D Zawawi Imron.

Penulis: Mr.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.