Asscholmedia.net – Rasa cemas, gugup dan grogi ketika berbicara di depan umum atau dikenal dengan istilah demam panggung adalah hal biasa yang bisa dirasakan oleh siapapun. Termasuk orang yang sudah ahli pun juga sering merasakan yang namanya demam panggung.

Namun jika terus-terusan merasa grogi, maka kita akan kesulitan untuk berbicara di depan umum, dan panggung pun menjadi momok yang sangat menakutkan, padahal kadang kita dituntut untuk berbicara sesuatu yang penting di sana.

Tulisan ini berangkat dari kejadian anaknya penulis (saya), yang mau tampil mengikuti lomba shalawat antar anak-anak RA (Raudlotul Athfal).

Pasalnya dia tidak sanggup untuk mengikuti lomba karena takut dan grogi, padahal sudah sering latihan dan sudah sampai di tempat perlombaan.

Dia bertindak sebagai pemimpin pembacaan shalawat, berhubung dia sudah nervous duluan sebelum tampil hingga nangis-nangis tidak bisa dipaksa. Akhirnya terpaksa diganti orang lain, dan penampilan pun tidak maksimal.

Semua merasa kecewa, termasuk penulis sendiri. Tapi akhirnya harus disadari bahwa dia belum waktunya untuk dipaksa apalagi dimarahi, khawatir jiwanya terganggu, sebab siapapun bisa mengalami yang namanya demam panggung.

*** *** ***

Orang yang demam panggung biasanya terlihat dari tangannya yang gemetaran terutama saat pegang microphone, suaranya tersendat-sendat, bahasanya tidak beraturan, dan yang paling parah turun dari panggung sebelum waktunya.

Adapun perasaan yang dirasakan oleh orang yang demam panggung biasanya cemas, nafas terengah-engah dan berkeringat, sering bersendawa, suara parau, batuk-batuk, ingin muntah, ingin buang air dan lain sebagainya.

Sedangkan penyebab dari demam panggung antara lain adalah 1) kurangnya persiapan sehingga tidak hafal teks dari isi pesan yang akan disampaikan. 2) merasa tidak pantas sehingga tidak percaya diri. 3) jarang atau tidak pernah berbicara di depan umum.

Dan untuk mengatasi itu semua, maka tidak boleh tidak kita harus melakukan dan memaksimalkan persiapan terlebih dahulu sebelum tampil di depan umum.

Semisal menghafal isi pesan yang akan disampaikan, berlatih didepan cermin, menyampaikan teksnya kepada orang-orang di sekitar sambil meminta untuk diperhatikan dan dikoreksi. Dan sering-seringlah memanfaatkan kesempatan untuk bisa berbicara di depan orang banyak. Dimulai dari keluarga, ketika di dalam kelas, forum kecil hingga di atas podium.

Sering kali orang menasihati, kalau sedang berbicara di depan umum atau tampil di atas panggung, anggaplah semua yang hadir adalah batu. Jadi, kita berbicara kepada batu, maka tak ada yang perlu ditakutkan.

Penulis (saya) mendapat ijazah dari seorang guru agar bermental kuat saat tampil di hadapan banyak orang.

Sebelum naik ke atas pentas, bacalah bacaan berikut sebanyak tiga kali (3x) :

أَدَمْ أَبُو الْبَشَر محمّد سيّد البشَر

Lalu membaca bacaan berikut juga sebanyak tiga kali (3x) dan tanpa nafas :

إِذۡ فَزِعُوا۟ فَلَا فَوۡتَ – (سورة سبأ ٥١)

Sambil menepuk kedua pahanya. Perhatikan, yang dibaca tiga kali dalam ayat di atas adalah kalimat “Falaa Faut”.

Semoga bermanfaat.

*أجزتكم هذه الإجازة كما أجازني شيخي عبد الحكم نزاشى عن مشايخه، قولوا قبلت والحمد لله رب العالمين

Oleh : Shofiyullah El-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.