Asscholmedia.net – Allah menggambarkan kepayahan kedua orang tua, terutama seorang ibu dalam mengasuh anak, sehingga Allah mewasiatkan untuk berbakti kepada keduanya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang terus semaki lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman 31)

Shahabat Jahimah meminta izin kepada Nabi untuk ikut berperang, namun Nabi menyuruhnya untuk menemani ibunya, karena surga ada di bawah telapaknya.

معاوية بن جاهمة: أنه جَاءَ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وآله وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُكَ أَسْتَشِيرُكَ، فَقَالَ: «هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ»؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَالْزَمْهَا؛ فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلِهَا

Dari Muawiyah bin Jahimah, ‘Dia menemui Nabi dan menyampaikan keinginannya ikut perang. Nabi bertanya, ‘Apakah kamu masih punya ibu?”. Ia menjawab, ‘Ya, masih’. Nabi mengatakan, ‘Temani dan berbaktilah kepadanya. Karena surga ada di bawah kakinya”.

Syaikhul Islam Imam al-Ghazali menyampaikan kata-kata indah tentang keistimewaan seorang ibu :

إن ربت البيت روح ينفث الهناءة والمودة فى جنباته ويعين على تكوين انسان سوى طيب

“Seorang ibu adalah semilir angin sejuk yang menghembuskan nafas kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan. Dan ia sangat berpengaruh dalam pembentukan manusia yang baik.”

Lalu Nabi meletakkan posisi seorang ibu yang wajib dihormati, bahkan melebihi seorang ayah melalui hadits berikut :

من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك، قال ثم من ؟ قال: أمك ، قال ثم من ؟ قال: أمك، قال ثم من ؟ قال : أبوك . رواه البخارى ومسلم

“Siapakah orang yang paling utama mendapat perlakuan yang baik? Nabi menjawab, ‘Ibumu’. Sesudah itu? Nabi mengatakan, ‘Ibumu’, lalu setelah itu? Nabi sekali lagi menegaskan, ‘Ibumu’. Kemudian? Nabi mengatakan, ‘Ayahmu.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Pada momentum hari ibu seperti sekarang ini, kita patut untuk merayakannya sebagai bentuk bakti dan balas budi, meski pada hakikatnya kita tidak akan pernah bisa membalas budi seorang ibu.

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

Apalagi kata Sayidina Umar bin Khatthab, seorang anak ketika merawat ibunya sambil menunggu kematiannya.

“Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu dan kebahagiaanmu.”

Adapun cara merayakan hari ibu bagi seorang anak yang berjauhan tempat tinggalnya, adalah dengan mendatanginya, mencium tangannya, bertanya kabarnya bagi yang tempatnya berjauhan, memberikan hadiah dan mendokan kebaikan kepadanya.

Jangan siksa ibumu dengan kerinduan, kecuali dengan sebab yang diwajibkan oleh syari’at. Seperti menuntut ilmu, karena Imam Syafi’i meninggalkan ibunya saat menuntut ilmu meski ibunya sangat merindukannya. Atau sedang menjalankan perintah suami bagi seorang istri, semisal ikut ke rumah suaminya. Sebab kewajiban taat kepada suami bagi istri harus lebih didahulukan daripada ibunya.

Dengan kebaikan yang sedikit itu, kita mendapatkan balasan kebaikan pula dari Allah.

Uais al-Qarni sangat terkenal di langit karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya. Bahkan beliau berdoa meminta ampunan kepada Allah hanya untuk ibunya, bukan untuk dirinya. Sebab dengan diampuni dosa-dosa ibunya, ibunya akan meridhoinya. Ridho Allah tergantung dengan ridho seorang ibu.

Semoga para ibu diberikan kesehatan dan panjang umur, yang sudah wafat semoga ditempatkan di surganya Allah. Amin.

Wallahu A’lam

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2022

Referensi :

As-Sunnah an-Nabawiyyah Baina ahl al-Fiqh wa ahl al-Hadits, hlm.125
al-Kabair, Imam adz-Dzahabi
Imam al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.