Asscholmedia.net – Banyak yang mengatakan, Syaichona Moh. Cholil mendapat pangkat kewalian karena berkat ta’dhim-nya kepada guru-gurunya, tanpa membeda-bedakan siapa guru-gurunya.

Sekali berguru, tetap guru selamanya. Dan tidak ada mantan guru.

Sekarang, tidak sedikit para pelajar yang enggan hormat kepada guru-gurunya, karena gurunya bukan seorang kyai. Guru-gurunya yang pernah mengajari dia di kelas-kelas, atau di mushalla-mushalla. Bahkan malu hanya sekedar mencium tangannya.

Mereka hanya ingin hormat ta’dhim kepada guru yang dianggap ulama atau kyai, meski pada kenyataannya kyai tersebut tidak pernah mengajarinya ilmu. Padahal tanpa guru di kelas atau di mushalla, mereka tidak akan mengenal kemuliaan kyai dan ulama yang wajib dimuliakan itu.

Sayidina Ali karramallahu wajhah berkata :

أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق

“Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, dimerdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”

Semoga beliau-beliau, para masyayikh PPSMCH yang sedang Safari Dakwah di Bumi Pontianak Khatulistiwa Kalimantan Barat, diberi kelancaran, selamat sampai kembalinya. Dan kita semua mendapatkan barakahnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.