MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD ﷺ ADALAH EKSPRESI CINTA & TANDA SYUKUR ATAS KELAHIRANNYA

Asscholmedia.net – Menurut kami memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah ekspresi cinta kepada Sang Kasih Allah ﷻ dan mensyukuri atas kelahiran manusia paripurna yang menjadi penyebab terciptanya alam semesta, penyelamat dari kekalnya api neraka, pemilik syafa’at tunggal dan pembuka pintu surga.

Bacaan Lainnya

Emm, kalau pun ada sebagian golongan yang menentang perayaan maulid Nabi ﷺ dengan alasan tidak pernah dilakukan di zaman Nabi ﷺ mungkin karena cara pandang menyikapi definisi bid’ah yang berbeda atau cara mengekspresikan cinta kepada Nabi ﷺ yang tidak sama. Jadi tidak perlu diperdebatkan apalagi mengkafirkan sesama Muslim. Mengaku paling benar dan yang beda faham dianggap salah.

So, tidak salah jika ada orang yang berkata, urusan cinta tidak perlu dalil tekstual, yang diperlukan hanyalah pengorbanan jiwa raga bahkan harta untuk menyenangkan Sang Pujaan Hati. Dari itu Syaikh Hasan al-Bashry (w. 110 h) berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لانفقته على قراءة مولد الرسول

“Seandainya aku memiliki emas seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkan (semuanya) kepada orang yang membacakan maulid ar-Rasul ﷺ”.

Dan tidak sedikit dari para ulama yang menganjurkan agar kita umat Islam senantiasa merayakan kelahiran Baginda Nabi ﷺ karena di dalamnya banyak keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh bagi siapa yang merayakannya, berikut komentar mereka:

Al-Imam Asy-Syafi’i ra (w. 204 h) berkata:

من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين

“Barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi ﷺ karena kecintaan (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah ﷻ bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”.

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة.

Imam as-Sirry As-Saqathiy (w. 253 h) berkata: “Barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi ﷺ, maka sungguh dia menghendaki “Raudhah (taman)” dari taman-taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasulullah ﷺ. Dan Sungguh Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga”. |1|

Ibnu Al-Jauzy (w. 597 h) mengatakan dalam kitab Khawashinya:

ومن خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام

“Di antara khasiat Maulid adalah aman dari segala macam bala dan musibah pada tahun itu, merasa senang di akhirat dengan meraih apa yang inginkannya.”

Imam Junaid al-Baghdadiy (w. 298 h) berkata:

من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان

Barangsiapa yang menghadiri maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah ﷺ), maka dia beruntung dengan keimanannya”

Al-Imam Makruf al-Kurkhiy (w. 200 h) berkata:

من هيأ لاجل قراءة مولد الرسول طعاما، وجمع إخوانا، وأوقد سراجا، ولبس جديدا، وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الاولى من النبيين، وكان في أعلى عليين

“Barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan maulid ar-Rasul ﷺ, mengumpulkan saudara-saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi ﷺ), maka Allah ﷻ akan membangkitkan pada hari kiamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”.

Syaikh Jalaluddin As-Suyuthiy (w. 911 h) dalam kitabnya Al-Wasail fi Syarhi asy-Syamil berkata:

ما من بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) هلا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور – يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون – فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Tiada sebuah rumah atau masjid atau tempat pun yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi ﷺ melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu (menyelubunyi tempat itu) dan Allah ﷻ merantai Malaikat itu dengan rahmat dan Malaikat bercahaya (menerangi) itu antara lain Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Aynail, ash-Shaafun, al-Haafun dan al-Karubiyyun. Maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang mendo’akannya karena membaca Maulid Nabi ﷺ”. Beliau juga berkata:

وما من مسلم قرئ في بيته مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق. والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت، فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير، وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر.

“Tiada seorang Muslim pun yang didalam rumahnya dilakukan pembacaan Maulid Nabi ﷺ kecuali Allah ﷻ akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat, (terhindar) dari pencuri ahli-ahli rumah tersebut. Maka jika apabila mati, Allah ﷺ akan memudahkan baginya dalam menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan didalam tempat yang benar pada sisi-sisi raja yang berkuasa”. |2|

Imam al-Hafidz al-Qasthalani asy-Syafi’i (w. 923 h) dalam kitab Muwahibu al-Ladunniyah berkata:

فرحم الله امرءا اتخذ ليالي شهر مولده المبارك أعيادا، ليكون أشد علة على من في قلبه مرض وإعياء داء

“Maka Allah ﷻ akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang menjadikan maulid Nabi ﷺ di malam bulan kelahiran beliau yang penuh berkah sebagai perayaan agar orang-orang yang sakit hati dan tang di hatinya dipenuhi penyakit (tidak senang dengan kelahiran Rasulullah ﷺ bertambah sakit.” |3|.

Imam Ibnu al-Hajj al-Maliki al-Fasiy (w. 737 h) dalam kitab al-Madkhalnya berkata:

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم.

“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah ﷻ setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal karena Dia (Allah ﷻ) telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang sangat besar dengan lahirnya Al-Musthafa Nabi ﷺ”.

Asy-Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawiy al-Mishriy (w. 1419 h) mengatakan:

إكراماً لهذه المولد الكريم، فإنه يحق لنا أن نظهر معالم الفرح و الابتهاج بهذه الذكرى الحبيبة لقلوبنا كل عام، وذلك بالاحتفال بها من وقتها

“Melakukan penghormatan untuk Maulid yang mulia ini, maka sesungguhnya itu hak bagi kita untuk menampakkan kegembiraan dan hati kita bersuka ria dengan peringatan sang kekasih setiap tahun. Dan hal itu tentunya dengan merayakan maulid Nabi di waktunya”. |4|

Syaikh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihiy asy-Syamiy (w.942 h) pernah menjawab saat ditanya mengenai perayaan maulid, beliau berkata:

إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وهي إظهار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته.

“Sesungguhnya kelahiran Nabi ﷺ adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya beliau adalah musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan sungguh syariat memerintahkan untuk (menyembelih) beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap (niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka (dari sini) jelas bahwa kaidah-kaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi Muhammad ﷺ) dan bukan malah menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan atas wafatnya beliau”. |5|. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

✍️ |1| Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantaniy al-Jawiy| Madariju ash-Shu’ud ila Iktisa’i al-Burud| Maktabah Thoha Putra Semarang 15.

✍️ |2| Syaikh Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Damyatihiy asy-Syafi’iy| Hasyiyah I’anatu ath-Thalibin| Daru al-Fikr juz 3 hal 414-415.

✍️|3| Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalaniy| Al-Muhibu al-Landuniyah bi al-Manahi al-Muhammadiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 78

✍️ |4| Syaikh Karamat Ali al-Junufuriy ash-Shiddiqiy al-Hanafiy aal-Banjandaladisiy| Al-Qaul at-Tamamu fi Syahri Mukhallashi al-Imam fi Itsbati al-Ihtifal bi al-Mawludi asy-Syarifah wa al-Qiyam li Ta’dzimi Khairu al-Anam Alaihi Afdhalu ash-Shalah wa as-Salam| Daru al-Kutub al-Ilmiyah 48,51.

✍️ |5| Syaikh Syaikh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihiy asy-Syamiy| Subulu al-Huda ar-Rasyad fi Sirati Khairu al-Ibad| al-Maktabah al-Syamilah al-Haditsiyah 1 hal 371.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.