Asscholmedia.net – Ketika umat Nabi Musa selamat dari penindasan Fir’aun, beliau kemudian berkata kepada umatnya sebagaimana dijelaskan dalam ayat di bawah.

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ یَسُومُونَكُمۡ سُوۤءَ ٱلۡعَذَابِ وَیُذَبِّحُونَ أَبۡنَاۤءَكُمۡ وَیَسۡتَحۡیُونَ نِسَاۤءَكُمۡۚ وَفِی ذَ ٰ⁠لِكُم بَلَاۤءࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِیمࣱ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir‘aun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, dan menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; pada yang demikian itu suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Ibrahim 6)

Sebagaimana ayat di atas, Allah memerintahkan kepada nabiNya untuk menyampaikan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum Nabi Musa berupa keselamatan dan kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah nikmat Allah yang harus diingat dan disyukuri, karena selama kurang lebih 350 tahun Indonesia dijajah Belanda, dan dijajah Jepang selama 3,5 tahun.

Selain bersyukur kepada Allah, kita juga berterima kasih kepada para pahlawan yang telah menghadiahkan sebuah kemerdekaan kepada kita, sehingga kita dapat hidup damai dan ibadah dengan nyaman.

Agar nikmat merdeka ini semakin terasa, coba kita lihat bagaimana nasib warga yang masih terjajah sampai saat ini, seperti Palestina misalnya.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, kalau ibadah shalat mereka sehari semalam bukan lima waktu, tapi enam waktu. Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, Subuh dan ditambah shalat Janazah.

Artinya, setiap hari di sana nyaris selalu ada nyawa yang melayang akibat kebiadaban para penjajah.

Betapa hidup mereka di sana tidak setenang kita, yang setiap hari dengan damainya bebas saling mengomentari status orang-orang di sosmed dengan adu domba, nyinyiran dan berita hoax-nya.

Jangan sampai tangan kita, mulut kita dan tulisan kita hanya menjadi pencemar sucinya kemerdekaan negara ini. Sungguh membuat Indonesia merdeka itu tidaklah mudah. Tidak semudah mengatakan bid’ah, syirik dan kafir kepada orang lain yang bukan segolongannya.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Keterangan foto : RKH. Muhammad Nasih Aschal, ketua umum PPSMCH, bertindak sebagai pembina upacara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.