Wanita Cantik yang Tak Patut Dipilih

Asscholmedia.net – Kecantikan adalah anugerah yang berikan Tuhan kepada seorang perempuan, untuk dipergunakan sebagaimana semestinya. Digunakan untuk menyenangkan laki-laki yang sudah menjadi halalnya.

Bacaan Lainnya

Seistimewa apapun sebuah kecantikan, tidak lebih hanyalah berupa bangunan kulit, daging dan tulang yang tertata rapi di wajah seorang perempuan.

Terlihat cantik karena adanya pembeda. Kalau kembar semua, tidak lagi akan ada yang dinamakan cantik karena sama semua. Jadi, disebut cantik, karena ada yang disebut jelek pula.

Dan kecantikan sebenarnya juga adalah soal persepsi. Contohnya seorang istri. Seorang istri kadang justru lebih terlihat cantik oleh laki-laki lain yang bukan suaminya. Sedang suaminya sendiri memandangnya biasa-biasa saja, sehingga tidak heran jika dia masih melirik wanita lain yang dipandangnya lebih cantik dari istrinya sendiri.

Akan tetapi memang ada wanita cantik yang disepakati kecantikannya oleh semua laki-laki dan juga menurut perempuan sendiri.

Selain sebagai anugerah, cantik juga sebagai penambah gairah didalam cinta. Maka ketika seorang laki-laki mencari pasangan, pertama kali yang menjadi pertimbangan untuk memilih wanita adalah kecantikannya.

Dalam hadits Rasulullah bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

“Wanita dinikahi karena 4 hal: 1) karena (alasan) hartanya. 2) karena keturunannya. 3) karena kecantikannya. 4) karena agamanya. Maka berpeganglah pada keberagamaannya agar kamu memperoleh kebahagiaan.”

Dalam hadits lain dijelaskan :

خير النساء من تسر إذا نظرت

“Sebaik-baik wanita adalah yang membuatmu senang apabila kamu memandangnya.”

Lalu seperti apa kriteria wanita cantik menurut pandangan Islam? Tertulis dalam kitab I’anatut Thalibin :

قوله: وجميلة) أي بحسب طبعه ولو سوداء عند حجر أو بحسب ذوي الطباع السليمة عند م ر

“Maksud daripada wanita cantik adalah cantik menurut versi masing-masing laki-laki, meskipun wanita tersebut berkulit hitam, menurut Ibnu Hajar. Atau ada juga yang menjelaskan bahwa tolak ukur wanita cantik dalam hal ini adalah wanita cantik menurut laki-laki yang tabiatnya masih normal, menurut pendapat Imam Romli.”

Namun ternyata memilih istri yang terlalu cantik, agama menganggap makruh hukumnya.

Lah, kok bisa. Bukankah mempunyai istri cantik membuat laki-laki tersebut lebih tenang hatinya, dan lebih menundukkan pandangannya untuk tidak melirik wanita lain yang bukan halalnya?

Alasannya bukan ke sana ternyata. Tapi lebih kepada akibat yang akan terjadi kepada orang lain, bukan kepada laki-laki tersebut sebagai suaminya.

وتكره بارعة الجمال لانها إما أن تزهو، أي تتكبر، لجمالها، أو تمتد الاعين إليها

“Makruh hukumnya menikahi wanita yang terlalu cantik, karena biasanya wanita tersebut sombong akan kecantikannya, atau terlalu banyak mata yang akan melirik kepadanya.”

Dapat ditarik kesimpulan, bahwa kriteria wanita dianggap terlalu cantik yang makruh dinikahi adalah, wanita yang menarik perhatian banyak laki-laki, sehingga cenderung untuk menggodanya.

Tapi menurut hemat penulis pribadi, makruhnya menikahi wanita terlalu cantik tidak berlaku bagi wanita shalihah yang meski sangat cantik.

Karena wanita shalihah mampu menjaga diri dari sifat menyombongkan kecantikannya, dan selalu menutup rapat-rapat wajahnya agar tidak dilirik banyak laki-laki.

Senada dengan bahasa kaidah Usul Fiqih yang berbunyi :

الحكم يدور مع العلة وجودا و عدما

Artinya: “Hukum itu berputar bersama illatnya dalam mewujudkan dan meniadakan hukum”

Jadi, kalau illat berpotensi sombong bagi wanita shalihah yang terlalu cantik sudah tidak ada, dan untuk dilirik banyak lelaki hidung belang juga sudah tidak mungkin, maka kemakruhannya sudah hilang.

Beda halnya kalau illat makruhnya menikahi wanita terlalu cantik ternyata adalah “terlalu cantiknya” itu. Maka walaupun dua pontensi buruk di atas sudah tidak ada, tetap makruh hukumnya menikahi wanita yang terlalu cantik, karena itu namanya hukum tauqifi.

Wallahu A’lam

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : Hasyiyah I’anah al Thalibin juz 3 hal 270, karya Sayyid Muhammad Syatho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.