Gara-gara Pencopet Gereja Ikut Diamuk

Asscholmedia.net – KHS. Abdullah Schal pernah gemar bermain bola dan bahkan pernah menjadi bintang pemain terbaik. Namun setelah ditegur oleh KH. Khalil Sidogiri, beliau berhenti total dari bermain bola, lalu tiba-tiba menjadi orang yang sangat gemar muthala’ah (belajar) dan cinta kepada ilmu.

Bacaan Lainnya

Dikabarkan, kalau beliau sedang belajar biasanya sampai lupa waktu sangking asiknya. Dan pada akhirnya beliau menjadi seorang ulama yang alim, zuhud, wara’ dan tawadu’.

Sangking teramat sangat cintanya kepada ilmu, hingga beliau pernah enggan untuk menikah. Dan hampir-hampir menjadi ulama majdub yang tidak mengenal orang.

Akan tetapi ketika ada perintah dari KH. Imron untuk mengurusi pesantren, akhirnya beliau bersedia untuk menikah, menjadi ulama biasa yang bergaul dengan banyak orang.

Dalam mengurusi pesantren, beliau ditemani oleh adiknya yang bernama KH. Khalil AG, di mana beliau ini berperan sebagai pejabat pemerintah kabupaten Bangkalan.

Jadilah ulama dan umara’ bersatu mengurusi pesantren, mengurusi Bangkalan, bahkan mengurusi Madura.

-⁰-⁰-

Gara-gara Copet Gereja Ikut Diamuk

Pada kisaran tahun 1991 ada peristiwa pencopetan yang terjadi di depan halaman Masjid Agung Bangkalan, hari Jum’at tepatnya setelah selesai pelaksanaan shalat Jum’at.

Nahas, pencopet tersebut sedang tidak bernasib mujur sehingga tertangkap basah oleh masyarakat, dan dijadikan bulan-bulan oleh para santri.

Selesai itu, masyarakat dan para santri yang berkerumun dengan jumlah yang sangat banyak itu, tiba-tiba menuju utara ke daerah Pecinan.

Meneruskan aksi kerumunannya yang kemudian mengamuk ke gereja-gereja tempat peribadatan non-Muslim di Bangkalan yang keberadaannya memang dilindungi oleh negara.

Entah tanpa diketahui dengan jelas apa motif pengrusakan tempat peribadatan non-Muslim tersebut, yang jelas para santri mengamuk di sana, dengan merusak semua properti yang ada di dalam gereja dan dikeluarkannya dari dalamnya.

Maklum, pada masa tersebut, santri-santri masih terlalu awam dengan undang-undang negara, dan belum paham dengan yang namanya toleransi beragama. Mereka barang kali mengira gereja dan klenteng yang ada di Bangkalan juga mengganggu ketenangan umat Muslim yang memang mayoritas di Bangkalan.

Akhirnya kasus tersebut menjadi masalah yang sangat rumit dan terangkat ke ranah internasional, sehingga para santri mulai menyesal dengan tindakannya yang tidak beralasan.

Waktu itu, KHS. Abdullah Schal sedang tidak berada di Bangkalan, menurut kabar beliau sedang melaksanakan ibadah haji di Makkatul Mukarramah.

Kemudian kasus tersebut ditangani oleh KH. Khalil AG, adik dari KHS. Abdullah Schal. Beliau mengadakan diplomasi dengan orang-orang terkait selama kurang lebih satu bulan.

Sedangkan para santri di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan mengadakan gerak batin setiap malam, tepatnya setelah jam 12:00 WIB ke atas. Dengan melakukan shalat dua rakaat, dan dilanjutkan dengan pembacaan wirid-wirid tertentu sebagai benteng agar kasusnya tidak sampai dibawa ke ranah hukum.

Setelah sekian lama KH. Khalil AG mengadakan diplomasi untuk menyelesaikan masalah tersebut, akhirnya selama kurang lebih satu bulanan beliau bisa mengatasi masalah yang tidak jelas motifnya tersebut.

Lalu setelah itu, KH. Khalil AG mengumpulkan semua santri-santri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan seraya memberi wejangan dan nasihat. Di antaranya peringatannya,

“Sengak dek para santreh kabbhi. Jhek masossaan kiaenah, jhek masossaan ghurunah. Mun bedeh pa apah engak riah, atotoran ghelluh. Jhek bertindak karebheh dhibik mareh tak marepot. Mun engak riah, bisa-bisa sala sittung kiaenah bedeh se eokom.”

(Ingat, para santri semuanya. Jangan menyusahkan kyainya. Jangan menyusahkan gurunya. Kalau ada apa-apa seperti ini, kasih tahu dulu. Jangan bertindak sekehendak diri, biar tidak merepotkan. Kalau seperti ini, bisa jadi salah satu kyainya akan ada yang dihukum)

Itulah bentuk kepedulian dan pembelaan KH. Khalil AG terhadap kakak tercintanya.

-⁰-⁰-

Lagi-lagi Sejarah Terulang

RKH. Fakhruddin Aschal terkenal dengan sebutan kyai yang alim, zuhud, tawadu’ dan tertutup.

Hampir sama dengan abahnya, beliau dulu pernah enggan untuk menikah, karena terlalu cinta kepada ilmu. Tapi akhirnya beliau bersedia menikah, namun selepas menikah beliau kembali lagi ke pesantren selama 4 tahun.

Dan kini karena permintaan dari saudara-saudarinya beliau dipasrahi untuk mengurusi Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil. Beliau selalu didampingi oleh adiknya, yaitu RKH. Muhammad Nasih Aschal yang posisinya sama seperti KH. Khalil AG dulu, yakni sebagai anggota dewan.

Kabarnya dalam waktu dekat, RKH. Muhammad Nasih Aschal mau membangun kediaman untuk sang kakak, yakni RKH. Fakhruddin Aschal. Itulah bentuk kepedulian seorang adik kepada kakak tercinta. Semoga cepat terlaksana dengan lancar.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.