Mengenang Haul 1 Abad Sang Pelopor Nasionalisme dan Pegiat Literasi


Asscholmedia.net – Salah satu ulama besar yang berperan penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan konstruksi Islam Nusantara adalah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Madura. Eksistensi dan kontribusinya di bidang agama, pendidikan, sosial, politik dan lain sebagainya sangatlah besar. Termasuk dalam perjuangan melawan kolonialisme di Indonesia yang digerakkan melalui jaringan ulama dan santri diberbagai wilayah di Indonesia.

Syaikhona Muhammad Kholil merupakan pusat genealogi intelektual yang saling terhubung dan bersambung menjadi kapital besar dalam pembangunan peradaban termasuk perlawanan kultural kaum santri. Beliau juga menjadi pemantik lahirnya nasionalisme di kalangan ulama dan santri dengan menggelorakan semangat perlawanan di berbagai wilayah Nusantara.

Bacaan Lainnya

Syaikhona Muhammad Kholil menjadi sosok sentral penempaan dan pembibitan para pejuang. Hal ini tak terbantahkan dalam fakta sejarah bahwa santri-santri binaan Syaikhona Muhammad Kholil hampir semuanya menjadi pejuang dan gigih membela bangsa dan tanah air, bahkan beberapa diantaranya telah dinobatkan secara resmi menjadi pahlawan nasional.

Para santri Syaikhona Muhammad Kholil inilah yang kemudian terangkai sebagai jejaring penebar pemikiran dan pergerakannya yang secara aktif menguatkan perjuangan agama dari kalangan pesantren. Pemerintah Hindia Belanda pun mengakui jika perlawanan-perlawanan yang muncul di seantero Nusantara, terutama Jawa berasal dari kaum santri.

Kiprah Syaikhona Muhammad Kholil dengan menjalin relasi dan jejaring ulama Nusantara membuktikan bahwa ia memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia di tengah kondisi dan situasi yang tidak berpihak masyarakat dengan penindasan dan ketidakadilan akibat kolonialisme di Hindia Belanda. Sebagai seorang ulama, yang merupakan pemimpin dalam komunitas agama dan sosial kemasyarakatan dalam sistem sosial di Indonesia, Syaikhona Muhammad Kholil mengambil peran untuk bersama-sama dengan para alim ulama Nusantara di Arab untuk memikirkan kondisi dan situasi kedepannya.

Jika dianalisis dalam konsep nasionalisme, kiprah Syaikhona Muhammad Kholil dengan berinteraksi secara intensif dan membentuk relasi yang kuat dengan orang-orang Indonesia membuktikan adanya nasionalisme, dengan menyatukan diri dalam komunitas orang-orang yang merasa bahwa mereka bersatu atas dasar elemen-elemen penting yang mendalam dari warisan bersama dan bahwa mereka memiliki takdir bersama menuju masa depan.

Dalam gerakan kemerdekaan di Indonesia melawan kolonialisme, para pemimpin umat seperti Syaikhona Muhammad Kholil memaknai nasionalisme dengan mengacu pada Chris Heaton dan Ernest Renan, dengan menciptakan kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah dibuat di masa lampau untuk membangun masa depan bersama. Hal ini menuntut kesepakatan dan keinginan yang dikemukakan dengan nyata untuk terus hidup bersama.

Kiprah Syaikhona Muhammad Kholil secara tidak langsung menyiratkan kepedulian dengan semangat kelompok untuk membangun suatu bangsa yang mandiri, dilandasi satu jiwa dan kesetiakawanan yang besar, mempunyai kehendak untuk bersatu dan terus-menerus ditingkatkan serta menciptakan keadilan dan kebersamaan. Dalam hal ini Syaikhona Muhammad Kholil menerjemahkan apa yang dianalisis oleh Chris Heaton dan Ernest Renan dengan menyatakan bahwa nasionalisme sebagai kehendak untuk bersatu (le desire dentre ensemble).

Tujuan nasionalisme, akhir dari pemikiran dan gerakan Syaikhona Muhammad Kholil adalah pembebasan dari penjajahan dan menciptakan masyarakat yang adil dimana tidak ada lagi penindasan. Pemikiran dan gerakan Syaikhona Muhammad Kholil relevan dengan nasionalisme dalam perspektif Chris Heaton dan Ernest Renan yang menekankan kepada jiwa (the spirit atau the soul) kebangsaan yang timbul akibat persamaan penderitaan di bawah kolonialisme.

Kitab Karya Syaikhona Muhammad Kholil

Salah satu kegemaran yang ditekuni oleh Syaikhona Muhammad Kholil adalah dalam bidang literasi, yaitu menulis dan mensyarahi berbagai macam kitab yang kemudian menjadi peninggalan-peninggalan penting untuk senantiasa di jaga di amalkan ilmunya. Banyak catatan-catatan penting yang ditulis langsung oleh Syaikhona Muhammad Kholil berkaitan dengan lahirnya nasionalisme di Nusantara kala itu, sehingga secara tidak langsung melalui catatan-catatan penting itu melahirkan pemikiran dan gerakan masif yang dilakukan oleh para santri-santrinya.

Tidak hanya sang guru, akan tetapi kegemaran Syaikhona Muhammad Kholil ini juga dilakukan oleh para santri-santrinya sehingga buah pemikiran Syaikhona Muhammad Kholil juga banyak ditemukan dalam catatan penting para santri dan orang-orang sekitarnya. Terdapat berbagai macam kitab yang berhasil ditulis ataupun disyarahinya. Hal ini sebagaimana telah dihimpun oleh Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, kitab-kitab tersebut antara lain;

  • Kitab al-Matnu as-Syarif (menjelaskan tentang panduan fiqh ibadah), kitab ini selesai ditulis pada Rabu, 17 Rajab 1299 H dan dicetak oleh Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi, Mesir, pada tahun 1934 M (1353 H). Kemudian kitab ini di tashih dan ditarjemahkan dengan cara pemaknaan Jawa pegon oleh KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan. Kitab ini juga dicetak oleh Maktabah Kholid bin Ahmad bin Nabhan Surabaya, juga diterjemahkan dengan menggunakan metode pegon berbahasa Madura oleh KHR. Abdul Majid Tamim, dan ditulis oleh Habib Idrus bin Hasan al-Khrid pada tahun 1409 H.
  • Kitab as-Silah fi Bayan an-Nikah (panduan tentang pernikahan),
    Kitab Istidad al-Maut (panduan fiqh jenazah), dalam kitab aslinya tertulis tanggal 3 Dzulqodah 1309 H.
    Kitab Taqrirat Nuzhah Thullab (tentang kaidah irab), dalam kitab aslinya tertulis tahun 1315 H.
  • Kitab al-Bina Dhimna Tadrib wa Mumarasah (tentang ilmu sharaf), dalam kitab aslinya tertulis tanggal 3 Syawal 1309 H.
  • Kitab Mukhtashar Fiqh Ibadah lengkap dengan makna jawa pegon, tertulis pada 13 Ramdhan 1308 H.
  • Ratib Syaikhona Muhammad Kholil, awal kali Ratib ini disebarkan dalam bentuk selebaran oleh KH. Cholil bin KH. Moh. Yasin Kepang pada 28 Ramadhan 1404 H, namun pada saat ini sudah dicetak dalam bentuk buku oleh Tim Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil.
  • Kitab Jauharah at-Tauhid, bermakna jawa pegon.
  • Kitab Badu al-Amali, bermakna jawa pegon.
  • Kitab Tafsir al-Khalil (terjamah lengkap al-Quran dengan jawa pegon dan catatan pinggir).
  • Kitab al-Izziy fi ilmi al-Tasrif (materi ilmu sharaf), dalam kitab aslinya tertulis tahun 1309 H.
  • Kitab Taqrirat Matn al-Jurumiyyah (materi Nahwu tingkat dasar dengan makna jawa pegon).
  • Kitab Al Awamil (materi Nahwu tingkat dasae), bermakna jawa pegon dan taqrir. dalam kitab aslinya tertulis tahun 1309 H.
  • Kitab Taqrirat Alfiyah (materi Nahwu tingkat lanjutan),
  • Kitab Taqrirat Nazham al-Jazariyah (ilmu tajwid), tahun 1314 H.
    Kitab Maulid al-Barzanji disertai maknanya.
  • Kitab Wasiat bi Taqwa Allah, bermakna jawa pegon, tahun 1308.
  • Buku Khutbah (memuat satu khutbah jumat dan dua khutbah untuk dua hari raya), dalam kitab aslinya tertulis Jumat, 19 Ramadhan 1323 H.
  • Buku Dzikir dan Wiridan, dalam kitab aslinya tertulis tahun 1323 H.
  • Qoshidah Hubbi li Sayyidina Muhammad, tahun 1309 H.

Tulisan ini sebagai refleksi atas perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil dan sekaligus mengenang peringatan haul Syaikhona Muhammad Kholil yang diperingati setiap tanggal 27 Ramadhan di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Tahun 2022 ini merupakan peringatan haul ke-100 atau satu abad Syaikhona Muhammad Kholil yang jatuh pada hari Jumat, 29 April atau 27 Ramadhan 1443 H.

Penulis: M. Rofii (Sekretaris Umum IMASS)

Sumber: Biografi Syaikhona Muhammad Kholil; Guru Para Ulama dan Pahlawan Nasional, Februari 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.