Guru-guru dan Karomah Syaikhona Kholil Saat Menimpa Ilmu di Nusantara


Asscholmedia.net – 𝐆𝐔𝐑𝐔-𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐃𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐎𝐌𝐀𝐇 𝐒𝐘𝐀𝐈𝐊𝐇𝐎𝐍𝐀 𝐊𝐇𝐎𝐋𝐈𝐋 𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐈𝐌𝐁𝐀 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐃𝐈 𝐁𝐔𝐌𝐈 𝐍𝐔𝐒𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀

1- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑳𝒂𝒕𝒊𝒇 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒍𝒂𝒏

Bacaan Lainnya

Syaikhona Kholil sebelum belajar ilmu pada guru-guru lainnya beliau berguru pada Kyai Abdul Latif (Ayah beliau sendiri). Diceritakan Syaikhona Kholil belajar pada Sang Ayah meliputi segala bidang ilmu Syari’at lebih-lebih dalam bidang ilmu Nahwu dan Shorraf. Konon, Syaikhona Kholil mempunyai keistimiwaan bakat yang luar bisa dan kecerdasan di atas rata-rata dalam menekuni dua bidang ilmu yang disebut terakhir ini, beliau mampu menghafal kitab Al-Jurumiyah karya Ibnu Ajurrum (w. 723 H), Nadham al-Imrithiy karya Syarifuddin Yahya al-Imrithiy (w.989 H) dan Al-Khulashah al-Alfiyyah atau Al-Fiyyah bin Malik karya Ibnu Malik al-Andalusiy (w. 672 H) diluar kepala saat beliau masih kecil.

2- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒉 𝑴𝒂𝒍𝒂𝒋𝒆𝒉 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒍𝒂𝒏

Kyai Dawuh atau dikenal dengan sebutan Buju’ Dawuh (Dhebu, bhs. Madura) berasal dari desa Malajah Bangkalan. Syaikhona Kholil belajar pada Kyai Dawuh juga sebelum beliau berguru pada guru-guru lainnya di luar Bangkalan. Kyai Dawuh sendiri dikenal seorang ulama yang handal dan pakar dalam bidang agama Islam dan beliau mempunyai keunikkan dibanding guru-guru Syaikhona Kholil lainnya saat menyampaikan materi pelajaran. Konon, saat mengajar, Kyai Dawuh berpindah-pindah. Kadang di Pesantrennya, di bawah pohon, di tepi sungai dan kadang sambil berjalan kaki.

3- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝑵𝒖𝒓 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕𝒂𝒏 𝑻𝒖𝒃𝒂𝒏

Pasca menuntut ilmu di kampung halamannya, pulau garam Madura. Syaikhona Kholil melanjutkan rihlah keilmuannya ke pulau Jawa. Kira-kira pada tahun 1825, menurut catatan yang termaktub dalam Manaqib beliau versi Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan Bangkalan, Syaikhona Kholil berangkat menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Langitan Tuban. Pada saat itu Pondok Pesantren Langitan diasuh oleh Kyai Muhammad Nur yang dikenal dengan ilmu alatnya, Nahwu dan Shorraf di Jawa Timur.

Terdapat sebuah kisah aneh saat Syaikhona Kholil berada di Pondok Pesantren Langitan. Ketika itu Syaikhona Kholil shalat berjamaah bersama para santri dan diimami oleh gurunya Kyai Muhammad Nur. Namun tiba-tiba Syaikhona Kholil muda tertawa terbahak-bahak. Usai shalat gurunya memangil dan memarahi Syaikhona Kholil sembari bertanya:

“Kenapa waktu shalat tadi kau tertawa hingga mengganggu dan membatalkan jemaah lainnya?”

“Mohon maafkan saya Kyai! Semua itu diluar kehendak saya karena sewaktu Kyai shalat tadi saya melihat jenengan membolak balikan nasi dalam Tumbu (wadah nasi atau lainnya yang terbuat dari ayaman bambu atau pandan kering. Bhs Jawa) karena itu saya tertawa,” Jawab Syaikhona Kholil jujur.

Tatkala mendengar jawab Syaikhona Kholil, seketika Sang Kyai kaget karena Syaikhona Kholil bisa melihat (membaca) apa yang dalam bisik hatinya. Lalu Sang Kyai berkata:

“Kamu benar, aku tadi mendirikan sholat dalam keadaan perut lapar hingga yang terbanyang dalam fikiranku hanya nasi”.

Dari peristiwa ini, bisa diambil simpulkan bahwa Syaikhona Kholil (sejak muda) sudah memiliki karomah (kelebihan) dan Mukasyafah (pandangan mata hati) yang mampu melihat sesuatu yang tersembunyi dari kasat mata.

4- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑨𝒔𝒚𝒊𝒌 𝑪𝒂𝒏𝒈𝒂𝒂𝒏 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒊𝒍 𝑷𝒂𝒔𝒖𝒓𝒖𝒂𝒏

Setelah dari Pondok Pesantren Langitan Tuban, Syaikhona Kholil melanjutkan pengembaraan mencari ilmunya di Pondok Pesantren Cangaan Bangil Pasuruan. Pada kala itu Pondok Pesantren Cangaan di asuh oleh Kyai Asyik yang dikenal dengan kecerdasan dan kepakarannya dalam bidang ilmu Fikih.

Saat Syaikhona Kholil mondok di Cangaan ada kisah dan karomah beliau yang masyhur yang dicatat sejarah Pondok Pesantren Cangaan. Pada saat itu di Bangil Pasuruan dan sekitarnya terjadi paceklik kemarau panjang yang menyebabkan air sungai dan sumur-sumur penduduk mengering tidak terkecuali di Pondok Pesantren Cangaan. Masyarat pada kala itu kesulitan untuk mendapatkan persediaan air bersih untuk sekedar dibuat minum dan berwudhu. Maka Kyai Asyik memanggil dan menyuruh Syaikhona Kholil (muda) agar menggali sumur. Tanpa membantah sedikit pun Syaikhona Kholil langsung melaksanakan titah gurunya sekali pun alat yang digunakan untuk menggali kurang memadai. Namun ajaib, sumur yang digali Syaikhona Kholil seketika mengeluarkan mata air padahal hanya 1 meter dari permukaan tanah. Peristiwa itu membuat hati guru beliau dan masyarakat setempat bergembira. Anehnya lagi, air sumur yang digali Syaichona Kholil tidak pernah surut dan kering meski diambil oleh banyak orang hingga sekarang. Sumur itu akhirnya dikenal dengan nama Sumur Syaichona Kholil.

Dalam lembaran sejarah selanjutnya juga dikisahkan: “Pada suatu hari Kyai Asyik hendak mengadakan walimah, beliau ingin sekali memesan gula Aren asli dari pulau Madura dengan jumlah yang cukup banyak. Pada zaman itu gula Aren Madura memang sangat terkenal dan digemari di Indonesia. Sepontan, Kyai Asyik teringat pada sosok santri asal Madura yang bernama Muhammad Kholil. Tatkala hari H sudah dekat, Kyai Asyik memanggil Syaikhona Kholil:

“Muhammad Kholil, aku mempunyai hajat hendak mengadakan suatu walimah dan aku sangat ingin sekali memesan gula Aren asli Madura karena itu aku memanggilmu untuk sejenak pulang ke Madura membelikanku gula Aren asli Madura yang aku butuhkan.” Dawuh Kyai Asyik pada Syaikhona Kholil.

“Insyaallah Kyai” Jawab Syaikhona Kholil.

Setelah selang beberapa hari, Syaikhona Kholil belum juga pergi atau pulang ke kampung halamannya Madura. Beliau masih tetap berada di pondok hingga waktu walimah begitu mendesak dengan hari yang telah ditentukan. Kyai Asyik cemas dan khawatir jika gula Aren yang diinginkannya tidak didapatkan. Maka Kyai Asyik memanggil kembali Syaikhona Kholil sembari menanyakan dan menagih janji kesanggupan beliau: “Muhammad Kholil, mana gula Aren asli Madura yang saya pesan padamu?”

“Di kamar Kyai!” Jawab Syaikhona Kholil.

Mendengarkan jawaban Syaikhona Kholil, Kyai Asyik segera memanggil dan menyuruh para santrinya untuk mengambil gula Aren di kamar Syaikhona Kholil meski sebenarnya hati Kyai Asyik belum begitu yakin akan keberadaan gula pesanannya di kamar Syaikhona Kholil.

Para santri pun bergegas melaksanakan titah Kyai Asyik, ajaib setelah para santri memindahkan gula Aren dari kamar Syaikhona Kholil seakan gula itu tidak pernah habis meski sudah diambil sebanyak tiga kamar penuh.

Dari kejadian itu Kyai Asyik, mengetahui bahwa santrinya yang bernama Muhammad Kholil memiliki keistimewaan. Tidak sama dengan para santri lainnya.

5- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑨𝒓𝒊𝒇 𝑲𝒆𝒃𝒖𝒏 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒊 𝑷𝒂𝒔𝒖𝒓𝒖𝒂𝒏

Setelah dari Pondok Pesantren Cangaan Bangil Pasuruan, Syaikhona Kholil melanjutkan dahaga keilmuannya di Pondok Pesantren Darus Salam Kebun Candi Pasuruan yang diasuh oleh seorang ulama yang alim nan wara’ bernama Kyai Arif. Meski berada di Pondok Pesantren Darus Salam Kebun Candi, Syaikhona Kholil juga sembari menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan yang kala itu diasuh oleh Kyai Noer Hasan bin Noer Khatim yang masih ada hubungan nasab kekerabatan dari jalur Mbah Sayyid Sulaiman (pendiri Pondok Pesantren Sidogiri) Mojo Agung Jombang.

Dikisahkan, Syaikhona Kholil belajar ke Pondok Pesantren Sidogiri dari Kebun Candi dengan berjalan kaki. Jarak tempuh dari Kebun Candi-Sidogiri lumayan jauh, kurang lebih 15 kilo meter namun jarak yang jauh ini tidak membuat Syaikhona Kholil muda patah semangat. Sembari mengayunkan kaki, beliau membaca Surat Yasin sebanyak 41 kali dan nyaris setiap hari beliau pulang pergi dari Kebun Candi ke Sidogiri. Ketika memasuki gerbang Pondok Pesantren Sidogiri, Syaikhona Kholil melepas sandal beliau demi menghormati para Masyayikh Sidogiri yang dikebumikan di belakang Masjid Jami’ Sidogiri. Di Sidogiri beliau belajar (mengaji) beberapa kitab di antaranya kitab Ihya’ Ulumiddin (Tasawwuf), Shohih Bukhari dan Muslim (Hadits) dan lainnya. Konon ketika hari Jum’at dan hari Selasa saat pengajian di Sidogiri libur, Syaikhona Kholil menangis karena begitu besaranya keinginan dan semangat beliau dalam mengais ilmu dan saat hari libur itu kadang beliau sempatkan berkunjung pada salah satu kerabat dekat beliau yang bernama Sayyid Ahmad Syarifuddin dan sekarang dikenal dengan sebutan Bhuju’ Ronggo tepatnya di desa Curah Dukuh 5 kilo meter dari Sidogiri ke arah Barat. Untuk bisa sampai ke makam Bhuju’ Ronggo harus terlebih dahulu melewati persawahan penduduk dengan sebuah tanda pengingat berupa sumur yang airnya bening dan rasanya seperti air Zamzam, berada di dekat makam Bhuju’ Ronggo. Masyarakat di sana mempunyai keyakinan bahwa sumur itu merupa berkah dan karomah dari Bhuju’ Ronggo.

Saat di Pasuruan, Syaikhona Kholil juga pernah punya niatan berguru pada Kyai Abu Dzarrin, ulama yang tersohor di Pasuruan dan di pulau Madura pada masanya. Namun sayang, Kyai Abu Dzarrin keburu di panggil Sang Khaliq sebelum Syaikhona Kholil mencicipi samudera ilmunya. Syaikhona Kholil tetap tidak putus asa untuk bisa belajar pada Kyai Abu Dzarrin meski telah meninggal dunia dengan mengkhatamkan al-Qur’an di dekat pusara Kyai Abu Dzarrin selam 41 hari. Tepat pada malam ke-41 Syaikhona Kholil bermimpi didatangi Kyai Abu Dzarrin seraya mengajarkan beberapa ilmu pada beliau. Ketika Syaikhona Kholil terbangun, beliau telah menjadi orang yang Alim, mengetahui bermacam ilmu atau yang disebut dengan ilmu Laduni.

6- 𝑲𝒚𝒂𝒊 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑩𝒂𝒔𝒉𝒊𝒓 𝑮𝒆𝒏𝒕𝒆𝒏𝒈 𝑩𝒂𝒏𝒚𝒖𝒘𝒂𝒏𝒈𝒊

Di penghujung pengembaraan Syaikhona Kholil mencari ilmu di bumi Nusantara, beliau berguru pada Kyai Abdul Bashir di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Genteng Banyuwangi. Konon Sang Guru memiliki kebun kelapa yang sangat luas dan Syaikhona Kholil selain belajar ilmu, beliau setiap hari menjadi buruh pemanjat kelapa di kebun gurunya dengan upah 3 Sen Rupiah setiap mampu mengumpulkan 80 kelapa dan gurunya memberi upah pada Syaikhona Kholil secara keseluruhan. Di pondok ini Syaikhona Kholil hidup sangat sederhana dan prihatin, beliau setiap hari harus berpakaian kasar dan sedikit makan sembari menjadi khadam (pelayan) gurunya, mencuci pakaian dan lainya dengan upah mendapat jatah makan bahkan kadang beliau membantu memasakan nasi teman-temannya dengan imbalan ikut makan bareng dengan mereka.

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adzim

✍️ 𝑻𝒖𝒍𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒂𝒍𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑴𝒂𝒏𝒂𝒒𝒊𝒃 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉𝒐𝒏𝒂 𝑲𝒉𝒐𝒍𝒊𝒍 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑳𝒂𝒕𝒊𝒇 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒗𝒆𝒓𝒔𝒊 𝑷𝒐𝒏𝒅𝒐𝒌 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒏𝒕𝒓𝒆𝒏 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉𝒐𝒏𝒂 𝑴𝒐𝒉. 𝑪𝒉𝒐𝒍𝒊𝒍 𝑫𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑩𝒂𝒓𝒂𝒕 𝑩𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒍𝒂𝒏.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.