Syaikhona Kholil dan Air Susu

Asscholmedia.net – Suatu ketika saya bertindak menghaturkan dan menata hidangan untuk para masyayikh dalam sebuah acara di dalem Kiai di PPSMCH.

Bacaan Lainnya

“Ambilin saya minuman itu, tuangkan dari ceret itu.” Kata Kiai ke saya, sambil menunjuk ke salah satu minuman yang dikehendaki.

“Enggi” jawab saya.

Karena jarak saya dan beliau agak jauh, tanpa pikir panjang saya malah menuangkan minuman dari ceret lain yang isinya sama.

Melihat itu, guru saya dengan nada keras dan sedikit marah menegaskan “Tuangkan dari ceret yang itu…!!!”

Dengan gemetar saya menjawab “Mohon maaf guru, ceret yang itu di dalamnya kotor banyak semutnya”

“Oh…. Iya, dari itu saja” kata beliau sambil tersenyum dan beberapa anggukan kepala. Pertanda beliau setuju dengan tindakan sepontan saya.

*** *** ***

Kadang pada suatu keadaan tertentu kita tidak harus semerta-merta taat perintah guru, kalau dalam perintah tersebut ditemukan sesuatu yang malah memudarratkan kepada guru itu sendiri. Dan kita masih punya pilihan.

Dalam keadaan ini ilmu di dahulukan daripada adab, demi adab yang lebih tinggi. Yaitu, memberi kenyamanan dan menolak bahaya terhadap guru.

Beda halnya kalau kita tidak punya pilihan. Semisal, suatu ketika, Syakhuna Moh. Kholil sedang mengendarai perahu kecil bersama muridnya di tengah lautan.

Tiba-tiba hujan deras dengan petirnya, disertai angin kencang dan ombak yang meninggi.

Di tengah keadaan itu, Syaikhuna Moh. Kholil berkata pada muridnya (Kiai Abd. Manab Lirboyo: katanya). “Saya haus, mau air susu. Sana carikan…!”

Si murid langsung mengiyakan, namun dia tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan susu di tengah keadaan seperti itu. Karena demi taat perintah guru, dia mengambil gelas, sambil menoleh kanan kiri. Tapi tak ditemukan air susu di situ.

“Mana susunya… Saya mau minum…?” Kata Syaikhuna marah. “Enggi” kata si murid gemetar kemudian menangis, karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Lama kemudian, dengan sepontan si murid tadi memejamkan mata sambil komat-kamit di mulutnya seraya membaca sesuatu. Lalu gelasnya tadi dicelupkan ke air laut dan dihaturkan kepada gurunya.

“Ini susunya, Kiai…!” Kata murid itu, sambil menangis ketakutan. “Wah… Sembarangan ini, masak saya suruh minum air laut…!!!” jawab gurunya tambah marah.

Si murid hanya bisa menangis. Namun tanpa terduga, ternyata air laut di gelas tadi seketika berubah jadi susu sesuai yang diminta gurunya.

*** *** ***

Begitulah seharusnya murid, tidak menolak perintah gurunya, meski dalam keadaan yang menurut kita tidak mungkin. Semoga ilmu dan barokah para guru selalu mengalir kepada kita semua. Amin.

Oleh: Shofiyullah_el-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.