𝐇𝐀𝐁𝐈𝐒 𝐆𝐄𝐋𝐀𝐏, 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐈𝐓𝐋𝐀𝐇 𝐓𝐄𝐑𝐀𝐍𝐆 (1)


𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔 𝑲𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝑫𝒂𝒓𝒊 𝑺𝒖𝒎𝒖𝒓

Asscholmedia.net – Tiga hari lamanya Nabi Yusuf As berada dalam kegelapan sumur, berdampingan dengan ular-ular yang sewaktu-waktu bisa memangsanya. Ia sendirian dalam duka tanpa seorang Ayah yang datang mengasihinya, tanpa seorang adik yang menghibur hanya Malaikat Jibril As sekali-kali datang menjenguk menyapa.

Bacaan Lainnya

*****

Seperti yang dikisahkan sebelumnya, Nabi Yusuf As berada dalam sumur tanpa mengenakan sehelai baju hingga akhirnya Malaikat Jibril As membawakannya baju dari surga. Baju itu adalah baju yang pernah dipakai Nabi Ibrahim As saat dilempar Namrud ke dalam gubahan api, kemudian diwariskan kepada putranya Nabi Ishak As lalu diberikan kepada Nabi Ya’qub As.

Pada saat Nabi Yusuf As dibawa saudara-saudaranya, Nabi Ya’qub As mengalungkan baju itu pada leher Nabi Yusuf As. Ketika baju Nabi Yusuf As dilepas oleh saudara-saudaranya dan membuang Nabi Yusuf As ke dalam sumur, Malaikat Jibril As membuka baju yang mengikat di leher Nabi Yusuf As dan mengenakanya. Konon baju itu hanya bisa dilihat bangsa Jin dan Malaikat sebagaimana riwayat yang telah disebutkan Ibnu Abbas ra:

“Pakaian surga itu hanya bisa dilihat oleh bangsa Jin dan Malaikat, manusia tidak bisa melihatnya.”

Wajar jika saudara-saudara Nabi Yusuf As melihat Nabi Yusuf As dalam keadaan telanjang badan padahal ia berpakaian dengan berpakaian surga.

*****

Tatkala segala keluh kepedahan hati dikhianati saudara-saudaranya hingga merasakan nestapa hidup sendirian dalam palung sumur nan gulita memuncak, Allah ﷻ memberikan wahyu melalui lisan Malaikat Jibril As:

إني مخرجك من الجب ومرسلك إلى مصر، وجاعل أهل مصر عبيدا لك، تخدمك الجبابرة وتذل لك الملوك، وتكون لك اليد العليا على إخوتك تحكم فيهم بمرادك.

“Sesungguhnya Aku (akan) mengeluarkanmu dari dasar sumur itu, mengutus kamu ke Negeri Mesir, menjadikanmu semua penduduk Mesir sebagai sahaya bagimu, semua orang jahat nan angkuh akan menjadi pelayanmu dan semua raja akan tunduk padamu serta kau akan memiliki kekuasaan yang luhur mengalahkan saudara-saudaramu, menghukum mereka sesuai yang kau inginkan.”

Sahdan, lalu datanglah Kafilah dari Syam (Negeri Levant meliputi wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina, kadang Siprus, Sinai, dan Irak) hendak menuju Mesir. Kafilah itu kurang lebih berjumlah 319 orang laki-laki yang dikepalai seorang suku Arab Badui bernama Malik bin Da’ar al-Khaza’iy.

Saat Kafilah itu mendekati sumur tempat Nabi Yusuf As di buang, pemandu Kafilah berkata: “Kita berhentilah dulu, di kawasan ini ada sebuah sumur yang bisa kita ambil airnya untuk persediaan minum”.

Kafilah itu sepakat berhenti kemudian sang pemandu Kafilah menyuruh dua pelayan mereka yang bernama Busyro dan Basyar agar menimba air di sumur itu seraya berkata: “Pergilah kalian ke sumur itu, ambil air secukupnya.”

Lalu dua pelayan itu pergi menuju sumur dengan membawa timba dan talinya.

Tatkala keduanya mendekati sumur, tiba-tiba ada burung yang hinggap di dahan pepohonan. Karena terpesona dengan burung itu, Busyro memilih untuk menangkap burung itu.

Sementara Basyar meneruskan langkahnya bergegas menuju sumur itu. Sesampainya di sumur, Basyar dikejutkan oleh pendaran cahaya yang berkilau terang memenuhi bibir sumur. Ia pun takjub melihatnya. Karena takut di marahi sang majikan dan kekurangan air diperjalanan, Basyar memaksakan diri mengulurkan timbanya ke sumur itu. Setelah dirasa timbanya terisi air, Basyar mengangkat dan menarik timba itu sejengkal demi sejengkal namun bobot timba yang diangkatnya dirasa begitu berat, tidak seperti biasanya.

Belum sepenuhnya timba terangkat ke permukaan, alangkah terkejutnya Basyar. Melihat ada seorang anak muda yang gagah dan tanpan menggelantung pada tali timbanya. Wajahnya bersinar seindah matahari pagi dan tampan sempurna seperti bulan purnama.

Setelah Basyar sadar, bahwa ada anak muda setampan bulan purnama turut serta pada timba yang diangkatnya. Timbul rasa semangat dan senang gembira di hatinya seakan segala keluh berat mengangkat timba hilang seketika. Ia menjerit memanggil kawannya: “Hai, Busyro! Ini ada seorang anak muda.”

Kisah ini terekam dalam firman Allah ﷻ:

وَجَآءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا۟ وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُۥ ۖ قَالَ يَٰبُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَٰمٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَٰعَةً ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ

Arti: Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yusuf: 19).

Waallahu A’lamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Referensi:
📒 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 62-63

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.