Asscholmedia.net – Ada nasehat berbunyi begini, “Pasangan kita adalah cerminan diri kita seutuhnya. Artinya, kalau kita penyabar, pintar dan baik, pasangan kita juga orang yang penyabar, pintar dan baik. Dan berlaku sebaliknya. Itulah yang namanya jodoh.”

Namun pada realitanya tidak selalu demikian. Malah ada seorang istri yang baik tapi suaminya tidak baik, seperti contoh Siti Asiyah dengan Fir’aun. Dan sebaliknya, suami baik, istrinya yang tidak baik, seperti contoh Nabi Ayub As dengan istri kedua dan ketiganya.

Tapi ingatlah, seburuk apapun pasangan kita, bersabarlah jangan ikut menjadi buruk. Karena yang baik dan sabar, akan dijanjikan pahala yang besar. Tersebut dalam sebuah hadits,

من صبر على سوء خلق امرأته أعطاه الله من الأجر مثل ما أعطا أيوب عليه السلام على بلائه

“Barang siapa bersabar atas jeleknya perangai istrinya, Allah ﷻ akan memberikan pahala seperti Nabi Ayub As dengan cobaannya.”

Allah ﷻ menguji Nabi Ayub As dengan empat perkara; 1. Lenyapnya harta kekayaannya. 2. Kehilangan anak-anaknya. 3. Membusuk tubuhnya. 4. Dijauhi manusia, kecuali istri pertamanya.

من صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله من الأجر مثل ثواب آسية إمرأة فرعون

“Barang siapa bersabar atas jeleknya perangai suaminya, Allah ﷻ akan memberikan pahala seperti pahala Siti Asiyah istri Fir’aun.”

Ketika Nabi Musa As mengalahkan tukang sihirnya Fir’aun, Siti Asiyah beriman kepada Nabi Musa As. Dan setelah kabar keimanannya sampai kepada Fir’aun, kedua tangan dan kedua kakinya Siti Asiyah dipancung ke tanah. Tubuhnya diikat, dan dihadapkan ke langit di tengah terik mata hari. Ketika orang-orang pada tidak ada, malaikat menaunginya dengan awan. Lalu Fir’aun memerintah mengambil batu besar untuk ditindihkan ke tubuh Siti Asiyah, setelah batu besar akan ditindihkan Siti Asiyah berkata,

رب ابن لى عندك بيتا في الجنة

“Wahai Tuhanku, bangunlah sebuah rumah untukku di surga.”

Kemudian oleh Allah ﷻ diperlihatkan kepadanya bangunan rumah dari marmer warna putih. Lalu Siti Asiyah menghembuskan nafas terakhirnya, sehingga dia ditindih dengan batu besar sudah dalam keadaan mati, dan tidak merasakan sakit apa-apa.

Pada akhirnya kita sama-sama berusaha jadi orang baik terutama untuk pasangan kita, dan berdoa semoga pasangan kita juga ikut menjadi orang baik.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : Uqudul Lujain F Bayani Huquqiz Zaujain| Syaikh Nawawi al-Banteni| Hal 5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.