Suara Hati Suami

Asscholmedia.net – Nyaris tidak ditemukan ada laki-laki mengeluh soal pekerjaannya inidi sosial media, sebagaimana dilakukan kaum perempuan kebanyakan.

Laki-laki jarang mengeluh, karena dia sadar bahwa pekerjaannya adalah kewajiban. Meskipun lelah dia merasa tidak pantas untuk dikeluhkan.

Namun walau bagaimanapun laki-laki hanyalah manusia biasa yang punya rasa lelah, dan punya keinginan untuk mengadukan dan mengeluhkan lelahnya.

Hanya saja laki-laki sudah kadung tertulis sebagai seorang pemimpin, yang tugasnya menjaga, melindungi dan memberi rasa aman. Dari itu dia tidak mungkin akan mengeluh.

Bagaimana mungkin mau mengeluh, sementara dia adalah tempatnya menerima keluhan dari istri dan anak-anaknya. Apa jadinya kalau dalam keluarga semuanya saling mengeluh.

Laki-laki menelan rasa pahit dan getirnya kehidupan, demi terlihat gagah dan tegar di depan istri dan anaknya, agar siap menyeka air mata orang-orang terkasihnya.

Laki-laki menahan air matanya, demi melihat seyum sungging keluarganya. Kalau ingin tahu laki-laki menangis lihatlah ketika dia di atas sajadahnya.

Kalau ada seorang istri ingin didengarkan dan diperhatikan oleh suaminya akan semua keluh kesahnya, suami juga ingin ada sambutan hangat dari istrinya ketika pulang kerja.

Kalau seorang istri tidak senang ketika tidak diperhatikan, suami juga tidak senang ketika pulang kerja menemui istrinya malah sibuk tik tok-kan.

Pernahkah seorang istri berpikir, apa yang yang telah dialami suaminya di tempat kerja. Terkadang dia habis dimarahi atasannya. Kerjaan yang belum tuntas sebagai tuntutannya.

Wanita harus sadar dengan itu, agar tidak selalu mengeluh di sosmed lantaran lelah sudah membantu suaminya. Apalagi share status laki-laki lain yang katanya suami idaman. Ingin ini dan itu yang tak pernah keturutan.

Betapa terluka hati seorang suami ketika melihat wanitanya teriak-teriak di sosmed yang memamerkan ketidak berdayaan suaminya.

Sejatinya semua suami ingin memberikan yang terbaik kepada istrinya; rumah yang layak, kendaraan yang nyaman, nafkah yang cukup dan lainnya. Namun kadang keadaan tidak memungkinkan.

Tidak ada suami yang mau menjadikan istrinya sebagai tulang punggung, apalagi sebagai pembantu. Hanya saja rezekinya sudah ditakar sedemikian, sehingga memaksa istrinya ikut campur dalam urusan nafkah.

Suami mana yang tidak mau memberikan rumah mewah, perhiasan indah, uang berlimpah kepada istrinya?

Kalau wanita memang punya hati, dan cinta kepada suaminya, simpanlah keluhan yang ada hubungannya dengan rumah tangga. Kucup adukan sama Tuhan saja di dalam doa setiap saat.

Ingat, di balik laki-laki yang sukses selalu ada wanita hebat di belakangnya.

Dalam rumah tangga suami istri harus saling mengerti, saling percaya bukan saling curiga. Jangan ada yang merasa paling terbebani atau paling berjasa.

Kalau tidak, yang lelah hanya akan bertambah lelahnya dan tak berpahala. Karena kesejahteraan rumah tangga seiring dengan ketaan keduanya di dalam agama.

Oleh: Shofiyuddin el-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.