Bulan Rasul dan Awal Mula Perayaan Maulid Nabi ﷺ

Bulan Rabiul Awal (Mulod : Madura) tahun ini telah usai, kini sudah masuk bula Rabiuts Tsani (Rasol : Madura). Tapi kaum muslimin khususnya orang Madura masih antusias mengagungkan kelahirannya Nabi ﷺ yang kemudian dikenal dengan acara “SORLOD” gabungan Rasol dan Mulod.

Kata Rasol menurut bahasa Madura, berarti Tumpeng Besar. Sedangkan menurut istilah orang Madura, berarti membuat Tumpeng Besar untuk acara kenduri atau selamatan.

Ada sebuah ungkapan yang sering dilontarkan oleh orang Madura terkait istilah Rasol.

“Mun tang pangateero tekkah sengkok arasolah.” (Kalau keinginanku tercapai, aku akan membuat tumpeng besar)

Maksudnya, jika keinginannya tercapai, atau jika sembuh dari sakit atau yang lainnya, sebagian orang Madura mau membuat tumpeng besar sebagai ungkapan rasa syukur. Mirip dengan istilah Nadzar di dalam Islam.

Sebenarnya Rasol bukan untuk digunakan sebagai moment perayaan Maulid Nabi ﷺ, karena Rasol punya momentumnya sendiri. Namun bagi orang Madura, perayaan Maulid Nabi ﷺ terlalu sempit kalau hanya ditaruh di bulan Maulid saja, sehingga harus menggunakan bulan selanjutnya untuk perayaan itu.

Tentang adu besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Madura dalam melakukan perayaan Maulid Nabi ﷺ sehingga harus menelan banyak biaya, menurut hemat penulis belum bisa dikatakan berlebihan. Sebab tidak ada kata berlebihan dalam bersedekah, asalkan benar niatnya dan punya kesanggupan, terlebih untuk sebuah ungkapan gembira atas lahirnya Nabi ﷺ.

Dengan catatan, bukan untuk sombong-sombongan, bukan untuk bangga-banggaan urusan harta, bukan untuk iri-irian, dan punya kecukupan, tidak sampai terjerat hutang dan lain-lain.

Mari bandingkan dengan peristiwa perayaan Maulid Nabi ﷺ yang pertama kali dilakukan oleh seorang raja waktu itu.

Konon, awal kali yang merayakan Maulid Nabi ﷺ yang dilakukan secara besar-besaran adalah Raja Mudhaffar Abu Said al-Irbili. Sebelum perayaan itu, beliau dituliskan sebuah karangan kitab Maulid oleh al-Hafidh Ibnu Dihyah yang diberi nama “At-Tanwir Fii Mulidil Basyirin Nadzir,” lalu al-Hafidh diberi ongkos atau hadiyah oleh sang raja sebesar seribu dinar.

Beliau Raja Mudhaffar merayakan Maulid Nabi ﷺ di bulan Rabiul Awal setiap tahunnya mengeluarkan biaya sebesar tiga ratus ribu dinar. Menurut penuturan salah seorang yang pernah hadir dan menyaksikan acara besar itu, bahwa sang raja merayakan acara Maulidnya menyiapkan lima ribu kambing (5.000 kambing), sepuluh ribu ayam (10.000 ayam), seratus kuda (100 kuda), seratus ribu mangkuk (100.000 mangkuk) dan tiga puluh ribu piring (30.000 piring).

Hadir pada perayaan tersebut para ulama dari berbagai penjuru kekuasan sang raja, tidak terkecuali ulama-ulama sufi yang sudah tersohor di masa itu. Mereka tiada satupun yang mengingkari acara besar tersebut, semuanya bersepakat dalam satu cinta, demi untuk memuliakan Junjungan Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : Fathus Shamad al-Alim Ala Maulidis Syaikh Ahmad Bin Qasim| Syaikh Muhammad Nawawi Bin Umar al-Banteni| Hal 4.

Referensi : Al-Allamah al-Fadlil as-Shalih al-Kamil as-Sayid Abi Bakrin al-Masyhur bis-Sayid al-Bakri Ibni al-Arif Billah as-Sayid Muhammad Syatha ad-Dimyati| I’anatut Thalibin| Juz 3, Hal 365.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.