Petunjuk Sang Guru

Asscholmedia.net – Dulu sekitar tahun 2011 saya berkesempatan mendampingi RKH. Fakhrillah Aschal, mengikuti jejak dakwahnya lewat Jam’iyah Tharikat asy-Syadzili.

Bacaan Lainnya

Di masa-masa perjuangan mengenalkan Tharikat tersebut, beliau selalu membimbing dan memberi pemahaman kepada masyarakat luas bagaimana bertarikat yang benar. Saya sebagai bagian dari personilnya selalu ikut kemanapun beliau berdakwah.

Pada pertengahan tahun 2012 saya mengalami sakit keras, gejala liver dan darah tinggi. Penyakit itu tidak hilang dalam jangka sebentar tapi menjadi penyakit menahun berganti dengan penyakit maag akut.

Dalam masa-masa itu saya berusaha mencari syarat kemana-mana untuk kesembuhan, namun tidak kunjung sembuh juga. Siang malam saya sering menangis, di sela tangisan itu kadang saya memanggil dan menyebut nama beliau. RKH. Fakhrillah Aschal.

Suatu malam saya bermimpi di datangi beliau ke bilik saya di pesantren. Kebetulan meskipun sakit saya memilih tetap ada di pondok.

“Be’eh kammah, mak tak toman norok engkok satiah?” Tanya beliau.
“Saporanah Kiai, abdinah sakek,” jawab saya singkat.
“Sakek apah, be’eh?”
“Sakek gejala liver, kiai”

Lalu kiai menghampiri saya dan mendekap saya dengan erat, sambil berkata “Mun deddih tang kabuleh jhek yo loyo. Pa sehat ben pa kuat”

“Enggi kiai” jawab saya. “Ayok norok engkok…!” ajak beliau, sambil berjalan dengan langkah yang cukup cepat.

Saya berusaha mengejar kiai sekuat tenaga, sembari memegang perut saya yang kesakitan. Tanpa menoleh sedikitpun, kiai terus berlari lewat jalan-jalan terjal penuh bebatuan, dan tiba-tiba kiai masuk ke dalam hutan belantara yang menyeramkan. Saya mengikuti di belakangnya dengan gemeter dan ketakutan, menambah rasa sakit di perut.

Setelah jauh perjalanan yang sangat melelahkan itu, tibalah di suatu tempat, di situ berkumpul para ulama. Saya melihat semua para Bani Kholil dan kiai di Bangkalan sedang berkumpul di tempat itu, bertawajjuh dan berdzikir bersama.

Saya merunduk diam karena merasa tidak pantas berkumpul dengan para Masyayikh di situ. Tiba-tiba saya kaget dan terjaga dari tidur.

Ya Allah hanya mimpi. Lelah dalam mimpi barusan terbawa sampai saya terjaga, berkeringat dan gemetar menambah nyeri di perut.

Besok harinya saya haturkan perihal mimpi saya semalam ke hadapan Hadratus Syaikh RKH. Fakhrillah Aschal di pendopo pesantren.

Beliau hanya tersenyum lebar, kemudian menyuruh khaddamnya untuk mengambil sebotol air. Air itu dikasihkan ke saya. “Enom aing jiah, Insyaallah beres, beres!” Tegas beliau meyakinkan.

Alhamdulillah tidak lama dari itu, kesehatan saya semakin membaik, dan penyakit saya mulai berangsur sembuh.

Petunjuk sang guru nyata, bukan hanya soal ilmu pengetahuan bahkan soal apapun yang kita butuhkan. Dari itu jangan pernah putus dengan guru, sambungkan lewat silaturtahim dan selalu mendoakannya.

Penulis: Shofiyullah el-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.