Kopyah Putih Dapat Menggantikan Kesunahan Memakai Sorban

اتفق الفقهاء على استحباب ستر الرأس في الصلاة للرجل بعمامة وما في معناها; لأنه صلى الله عليه وسلم كان يصلي بالعمامة. أما المرأة فواجب ستر رأسها. ونص الحنفية على كراهة صلاة الرجل مكشوف الرأس إذا كان تكاسلا لترك الوقار ، لا للتذلل والتضرع.

“Ulama Fikih sepakat akan kesunahan menutup kepala bagi laki-laki dalam salat dengan memakai Sorban dan sejenisnya, (termasuk Peci atau Kopyah). Karena Nabi Muhammad shalat dengan memakai Sorban, sedang bagi wanita wajib menutup kepalanya. Bahkan kalangan Hanafiyyah menilai makruh bagi laki-laki shalat dengan terbuka kepalanya karena malas sebab dapat mengurangi kewibawaan bukan karena unsur merendahkan diri di hadapan Allah.”

وسنية العمامة عامة، ولا تنخرم بها المروءة مطلقاً، وورد : “صلاة بعمامة خير من سبعين ركعة بغير عمامة” و “إن لله ملائكة يستغفرون للابسي العمائم” وورد أنه كان يلبس قلنسوة بيضاء، وفي رواية : كان يلبس كمة بيضاء وهي القلنسوة ، وفي خبر أنه كان له ثلاث قلانس : قلنسوة بيضاء مضرية ، وقلنسوة بردة حبرة ، وقلنسوة ذات آذان يلبسها في السفر ، وربما وضعها بين يديه إذا صلى ، ويؤخذ من ذلك أن لبس القلنسوة البيضاء يغني عن العمامة ، وبه يتأيد ما اعتاده بعض مدن اليمن من ترك العمامة من أصلها،

Kesunahan memakai Sorban itu umum dan dengan kesunahan tersebut mengenakan Sorban tidak merusak kewirangan (harga diri seseorang) secara mutlak.

Terhadat sebuah hadits yang menyatakan bahwa: “Shalat dengan mengenakan Sorban lebih baik dari pada shalat tujuh puluh raka’at tanpa mengenakan Sorban”. Dan ada hadits yang menyatakan bahwa: “Sesungguhnya Malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang mengenakan Sorban”. Serta hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah selalu mengenakan Kopyah (Peci) putih.

Diriwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah menggenakan Kammah putih yaitu Kopyah (Peci) putih”. Juga terdapat keterangan hadits yang mengatakan bahwa: Rasulullah memiliki 3 Kopyah (Peci): Kopyah putih buatan suku Mudhar, Kopyah Burdah Habarah (lorek), dan Kopyah bertelinga yang dipakai dalam perjalanan, terkadang diletakkan di hadapan beliau ketika beliau melakukan shalat.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan dari hal tersebut, bahwa memakai Kopya (Peci) putih itu sudah mencukupi tanpa harus menggunakan Sorban. Dan dengannya menjadi kokohlah kebiasaan orang-orang di sebagian kota-kota di negeri Yaman yang meninggalkan Sorban.” Waallahu A’lamu

By: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah| Wazaratu al-Awqah wa ats-Tsuwnu al-Islamiyah juz 30 hal 304.

✍️ As-Sayyid asy-Syarif Abdurrahman bin Muhammad bin al-Husain bin Umar| Bughyah al-Mustarsyidin| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 110.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.