Ketika Sayyidina Umar Memarahi Munkar Nakir

Asscholmedia.net – Keberanian Sayidina Umar bukan hanya kepada manusia dan jin, kepada malaikat pun beliau juga berani.

Diceritakan, bahwa sebabnya malaikat Munkar dan Nakir menjadi lembut terhadap orang mukmin, adalah tatkala Sayidina Umar bin Khatthab radiyallahu ‘anhu wafat, lalu dikebumikan dan orang-orang sudah pulang meninggalkan pusaranya, tinggal Sayidina Ali karramallahu wajhah wardla ‘anhu yang masih meniti-niti di atas kuburan Sayidina Umar, ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh beliau kepada kedua malaikat itu. Kemudian dari dalam kuburan itu Sayidina Ali mendengar Sayidina Umar berkata,

أيها الملكان أنا وعدتكما وأوصيكما أن لا تأتيا المؤمن بعد هذا الوقت بصورتكما هذه بل إنقصا من هذه لأني لما رأيتكما بهذه الحالة حصل لى خوف وفزع شديد وأنا صاحب رسول الله فكيف سواي إذا رآ كما بهذه؟

“Wahai kedua Malaikat, aku berjanji dan berwasiat kepada kalian berdua, agar supaya tidak mendatangi orang mukmin setelah ini, dengan wujud yang seperti itu. Tapi kurangi dari itu. Sebab, ketika aku melihat wujud kalian yang ini, aku menjadi takut dan kaget, padahal aku sahabatnya Rasulullah. Bagaimana jika selain aku yang melihat wujud itu?”

Lalu kedua malaikat itu menjawab,

سمعا وطاعة لا نعصى أمرك يا صاحب رسول الله

“Kami mendengarkan dan mentaati. Kami tidak akan mendurhakaimu wahai sahabat Rasulullah.”

Sayidina Ali yang mendengarkan itu kemudian berkata,

والله مازال عمر ينفع الناس في حياته ومماته

“Demi Allah, Umar tidak pernah selesai memberi manfaat kepada manusia baik waktu hidup maupun setelah matinya.”

Lalu seperti apakah sosok malaikat Munkar dan Nakir sehingga Sayidina Umar merasa takut dan kaget? Dalam kitab Nurud Dhalam dijelaskan,

والفاتنون اثنان منكر ونكير وهما ملكان أسودان يخرفان الأرض بأنيا هما لهما شعور مسدولة يجرا ا على الأرض
أبصارهما كالبرق الخاطف

Malaikat Fatinun ada dua, yakni Munkar dan Nakir. Mereka adalah dua malaikat yang hitam yang mencengkram bumi dengan dua taring mereka. Mereka memiliki rambut- rambut yang terurai yang mereka tarikdi atas bumi. Mata mereka adalah seperti kilat menyambar.

وفى رواية لزرقان أعينهما كقدور النحاس وأصواتهما كالرعد القاصف إذا تكلما يخرج من أفواههما كالنار وأنيابهما كالصياصى أى قرون البقر وانفاسهما كالريح العاصف

Dalam riwayat Zarqon disebutkan bahwa
kedua mata mereka adalah seperti bejana besar tembaga. Suara mereka adalah seperti petir yang bergemuruh. Ketika mereka berbicara maka dari kedua mulut mereka keluar seperti api. Kedua taring mereka adalah seperti tanduk sapi. Nafas mereka seperti angin ribut.

وفى رواية كاللهب فى يد كل واحد منهما مطرقة من حديد لو اجتمع عليها الثقلان ما رفعوها ولو ضرب الجبال لذابت وهما موكلان على سؤال الإنس والجن من أمة الدعوة المؤمنين والمنافقين والكافرين

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa nafas mereka seperti kobaran api. Masing-masing dari mereka memegang palu yang terbuat dari besi. Andaikan seluruh makhluk manusia dan jin dikumpulkan untuk mengangkat palu itu niscaya mereka tidak akan mampu mengangkatnya. Andaikan palu itu dipukulkan pada gunung-gunung
niscaya gunung-gunung itu akan hancur. Mereka berdua ditugaskan untuk
menanyai manusia dan jin, yaitu
golongan makhluk yang telah menerima dakwah Islam, baik mukmin, munafik, atau kafir.

ومحله بعد تمام الدفن وانصراف الناس فيعيد الله تعالى الروح إلى جميع البدن كما ذهب إليه الجمهور

Waktu menanyai adalah ketika telah selesai mengubur dan orang-orang telah pergi. Kemudian Allah mengembalikan ruh ke seluruh badan, seperti yang dikatakan oleh ulama jumhur.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : Nurud Dhalam| Syarhu Mandhumati ‘Aqidatul Awam Lis Sayid Ahmad Marzuqi| Syaikh Nawawi al-Banteni| Hal 17-18.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.