Durasi Tidur Ideal Menurut Imam Al-Ghazali

Asscholmedia.net – Tidur adalah kegiatan mengistirahatkan seluruh sistem yang ada di dalam tubuh yang sudah lelah bekerja seharian. Dengan tidur tubuh yang sakit kembali sehat, dan yang lemah kembali bertenaga. Pendeknya, tidur sangat banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan.

Bacaan Lainnya

Namun jika tidur terlalu lama, yang didapat bukan manfaat, malah sebaliknya menimbulkan penyakit serius yang membahayakan.

Kecuali tidurnya orang-orang tertentu yang memang dikhususkan oleh Allah ﷻ sebagai anugerah untuk orang tersebut. Seperti tidurnya para Ashabul Kahfi misalnya.

وَلَبِثُوا۟ فِی كَهۡفِهِمۡ ثَلَـٰثَ مِا۟ئَةࣲ سِنِینَ وَٱزۡدَادُوا۟ تِسۡعࣰا

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” (QS. Al-Kahfi 25)

Lalu berapa durasi tidur yang membawa manfaat?

Tidur yang membawa manfaat adalah tidur sedang sesuai kebutuhan tubuh kita. Masing-masing orang berbeda kebutuhannya dengan tidur, akan tetapi pada umumnya orang membutuhkan tidur antara 7 sampai 8 jam.

قال الإمام الغزالى رحمه الله اعلم أن الليل والنهار أربع وعشرون ساعة فلا يكون نومك فيها أكثر من ثمان ساعات فيكفيك إن عشت ستين سنة أن تضيع منها عشرين سنة وهي الثلث.

Imam Ghazali rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa sehari semalam ada 24 jam, maka tidurmu jangan sampai lebih dari 8 jam, karena itu sudah cukup bagimu. Namu demikian, jika umurmu sampai 60 tahun, maka kamu telah menyia-nyiakan 20 tahun dari umurmu, yakni ⅓ dari umurmu.”

قال عليه الصلاة والسلام : وقالت أم سليمان بن داود عليه السلام له : يا بني لاتكثر النوم باليل، فإن من يكثر النوم بالليل يأتي فقيرا يوم القيامة

Nabi ﷺ bersabda, “Umu Sulaiman bin Daud ‘Alaihis Salam berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan engkau banyak tidur di malam hari, karena orang yang banyak tidur di malam hari akan miskin di hari kiamat.”

وقد أوحى الله تعالى إلى السيد داود عليه الصلاة السلام : يا داود كذب من ادعى محبتى فاذا جن الليل نام عنى

Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Daud ﷺ, “Wahai Daud, bohong orang yang mengaku cinta kepadaku, tapi kalau malam tiba dia tidur meninggalkanku.”

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi 1 : Syarhu Minahis Saniyah Alal Washiyatil Mabtuliyah| Sayidi Abdil Wahab asy-Sya’rani| Hal 11.

Referensi 2 : Risaltul Mu’awanah Wal Mudhaharah Wal Mu’azarah| al-Imam al-Habib Abdillah bin Alawi al-Haddad| Hal 86.
[7/10 19.24]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.