Ngalap Berkah Dari Maling

لَقَدۡ كَانَ فِی قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةࣱ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِۗ

Bacaan Lainnya

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf 111)

Terkadang nasihat yang terkandung dalam sebuah cerita, lebih menghunjam ke dalam relung hati seseorang untuk bisa sadar diri, dibanding nasihat dengan perintah dan perkataan.

Lantaran itu, sebagian ulama ada yang merangkum sebuah kitab khusus memuat cerita-cerita, sebagai nasihat dan pelajaran hidup. Seperi kitab an-Nawadirnya Imam Qalyubi misalnya.

Simak kisah mengharukan berikut ini.

Ada segolongan perampok sedang melakukan aksinya di malam hari, untuk membegal kabilah yang sedang melintas di jalan. Ketika memasuki tengah malam mereka mendatangi sebuah tempat penginapan di tengah padang pasir. Mereka mengetuk pintu, dan berkata kepada pemilik penginapan itu,

وقالوا لأهل الرباط : إنا جماعة من الغزاة نريد أن نبيت اليلة في رباطكم

“Kami adalah tentara perang Fi Sabilillah, hendak menginap di penginapan kalian.”

Kemudian penduduk penginapan itu membukakan pintu untuk mereka. Pemilik rumah penginapan itu melayani mereka dengan baik, mengharap pahala dari Allah dengan itu, dan mencari berkah dengan mereka. Dia punya seorang anak yang lumpuh tidak bisa berdiri, lalu dia mengambil sisa air para perampok yang mengaku tentara perang itu.

Dan dia berkata kepada istrinya,

وقال لزوجته : امسحى لولدنا بهذا أعضاءه، فلعله يشفى ببركة هؤلاء الغزاة

“Usapkan ini ke seluruh tubuh anak kita, mudah-mudahan berkat para tentara perang itu anak kita disembuhkan.”

Lalu istrinya mengerjakan perintah suaminya itu.

Keesokan harinya para perampok itu keluar dan pergi merampok, merampas harta orang di jalan. Setelah waktu sore, meraka kembali lagi ke penginapan tadi, dan melihat seorang anak sedang berdiri. Mereka bertanya pada si pemilik penginapan,

فقالوا لصاحب الرباط : هذا الولد الذى رأيناه مقعدا بالأمس؟ قال : نعم، أخذت سؤركم وفضل مائكم ومسحته به، فشفاه الله ببركتكم، فأخذوا يبكون وقالوا له : اعلم أيها الرجل إننا لسنا بغزاة، وإنما نحن لصوص خرجنا إلى قطع الطريق غير أن الله عافى ولدك بحسن نيتك، وقد تبنا إلى الله تعالى.

“Anak ini yang kemarin kami lihat tidak bisa berdiri?” Dijawab oleh pemilik penginapan, “Iya. Saya mengambil sisa air dari kalian semua dan mengusapkan ke seluruh tubuhnya, maka disembuhkan oleh Allah penyakitnya lantaran barkah dari kalian.” Lalu para perampok itu menangis dan berkata, “Ketahuilah wahai lelaki, kami bukanlah golongan tentara perang, tapi kami ini adalalah para perampok yang sering membegal di jalan, tapi Allah menyembuhkan anakmu karena baiknya persangkaanmu. Sekarang kami bertaubat kepada Allah.”

Akhirnya mereka bertaubat, dan menjadi tentara perang, membela agama Allah sampai mati.

Dari cerita di atas dapat diambil pelajaran, bahwa berbaik sangka meskipun salah tetap lebih baik daripada buruk sangka.

Karena persangkaanya yang baik, anaknya pemilik penginapan itu bisa sembuh dari penyakit, dan perampok-perampok itu mendapat hidayah sehingga mau bertaubat.

Penulis : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : an-Nawadir| al-Alim al-Allamah as-Syaikh Syihabuddin Ahmad Bin Salamah al-Mishri al-Qalyubi as-Syafi’i| Hal 30.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.