Kritik Ibnu Taimiyah Tentang Peringatan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Segarang Pengikutnya

Asscholmedia.net – Ketika memasuki Bulan Rabi’ul Awal seperti saat ini, mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya di kampung saya di Bangkalan Madura, begitu senang gembira menyambut hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad ﷺ Selain sebagai bentuk ekspresi kecintaan mereka pada Baginda Nabi ﷺ, merayakan Maulid Nabi ﷺ tahun ini seakan menjadi obat pelipur lara dan senyum uforia dari ketakutan dan ketegangan pasca dihantam pademi Covid 19 tempo hari kemarin. Hal itu bisa dilihat dari antosias mereka merebut waktu untuk mengadakan Maulid Nabi ﷺ sejak awal bulan—mengundang para tetangga, famili terdekat dan segenap orang-orang kampung. Ada yang dibingkis dengan khatmil Qur’an di siang harinya, ada pula yang dikemas dengan penampilan grup Hadrah al-Habsyi di malam harinya, Tahlil dan acara inti pembacaan Syaraful Anam dan Fi Hibbi.

Bacaan Lainnya

Namun masih ada saja sebagian golongan yang mengaku paling benar, sok paling paham isi al-Hadits dan al-Qur’an yang tidak senang dan suka menbid’ahkan bahkan mengkafirkan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi ﷺ, membaca shalawat, membaca Kasidah Diba’, al-Barzanji atau bacaan sejarah Rasulullah ﷺ seperti yang sering nongol di Yutube dengan dalil klasik mereka. Katanya: “Setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap yang sesat di neraka”.

Padahal Imam besar mereka Ibnu Taimiyah dalam kitab-kitabnya yang menjadi rujukan primer, meski berbeda perdapat dan menganggap perayaan Maulud Nabi ﷺ bid’ah sebagaimana ditegaskan dalam Majmu’ Fatawanya:

“وأما اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول التي يقال إنها ليلة المولد، وبعض ليالي رجب أو ثامن عشر ذي الحجة وأول جمعة من رجب أو ثامن شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ولم يفعلوها “.

“Menjadikan musim selain musim yang ditentukan syariat seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut sebagai malam maulid atau sebagian malam bulan Rajab atau tanggal 18 Dzul Hijjah atau malam Jum’at pertama bulan Rajab atau tanggal 8 Syawwal yang disebut dengan hari raya al-Abrar, maka semua itu adalah perbuatan bid’ah yang tidak dianggap sunnah oleh Salaf dan mereka tidak mengerjakannya”. [ Majmu’ Fatawa, Jilid 15 hal 135].

Sikap Ibnu Taimiyah kepada orang yang memperingati Maulid Nabi ﷺ tetap toleran dan tidak seekstrim pengikutnya sekarang. Hal ini bisa dilihat dari pernyataannya dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirat al-Mustaqim:

فتعظيمُ المولد، واتخاذُه موسمًا، قد يفعله بعضُ الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai musim berkala terkadang dilakukan oleh sebagian manusia. Dan dia mendapatkan pahala yang besar karena niatnya yang baik dan mengagungkan Rasulullah ﷺ.”

Sikap toleran Ibnu Taimiyyah tersebut ia contoh dari imam Ahmad bin Hanbal ra yang merupakan ulama panutannya. Ia melanjutkan pernyataannya:

ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء: إنه أنفق على مصحفٍ ألفَ دينار، أو نحو ذلك فقال: دعهم، فهذا أفضل ما أنفقوا فيه الذهب، أو كما قال. مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة.

“Karena itu, ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang sebagian penguasa yang membelanjakan 1.000 dinar (setara 4 M) untuk sebuah mushaf al-Qur’an beliau menjawab: ‘Tinggalkan mereka karena emas adalah sedekah terbaik mereka untuk al-Qur’an’. Padahal Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal hukum menghias mushaf al-Qur’an adalah makruh.” [Kitab Iqtidha sirathal Mustaqim, Maktabah ar-Rasyid ar-Riyadh Jilid I hal 732].

Kesimpulannya, peringatan Maulid Nabi ﷺ tergolong masalah furu’iyah yang masih menjadi kontradektif antara ulama mengenai keputusan hukumnya sama seperti hitungan sholat Tarawih, Tawassul, wirid secara dikeraskan setalah sholat maktubah, sampainya pahala bacaan pada orang yang sudah mati dan lainnya yang tidak perlu saling menyalahkan apalagi mengkafirkan sesama Muslim. So, Jika sesuatu itu baik dan tidak bertentangan ajaran syariat yang telah disepakati ulama dan tidak menggangu hak orang lain, maka tidak ada salahnya mengamalkan dan mentradisikannya.

Sebagimana disampaikan Ibnu Taimiyah dalam masalah doa yang tidak pernah disyari’atkan:

“من كان له نيةٌ صالحة أثيب على نيته، وإن كان الفعل الذي فعله ليس بمشروع، إذا لم يتعمد مخالفة الشرع”.

“Barang siapa yang memiliki niat yang baik, maka ia akan mendapat pahala terhadap apa yang diniati sekalipun apa yang dikerjakan tidak pernah disyari’atkan hal itu jika tidak dimaksudkan untuk menentang syara’. [Kitab Iqtidha sirathal Mustaqim, Maktabah ar-Rasyid ar-Riyadh Jilid I hal 621-622].

Berdasarkan sebuah hadits Nabi ﷺ:

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan kebaikan maka ia di sisi Allah ﷻ juga merupakan kebaikan. Dan apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan keburukan maka ia di sisi Allah ﷻ juga merupakan keburukan”. (HR Ahmad).

Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdil Adzim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.