Siapakah yang Berhak Bermimpi Nabi ﷺ?

Asscholmedia.net – Dulu kalau ada santri tidur, tidak boleh dibangunin, takut sedang bermimpi Nabi ﷺ. Sebab bermimpi Nabi merupakan sebuah kebahagian dan kegembiraan yang tiada bandingnya di dunia.

Bacaan Lainnya

Konon para generasi salafus saleh, jika punya anak sudah berumur baligh tapi belum bermimpi Nabi ﷺ, maka dianggap sebagai orang tua yang gagal.

Dalam sebuah hadits dijelaskan,

عن أنس رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله من رآنى فقد رآنى فإن الشيطان لا يتمثل بى

Dari Sayidina Anas Radliyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa bermimpi melihatku, maka dia benar-benar melihatku, karena setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Tirmidzi)

Sebenarnya sangat banyak hadits-hadits lain yang senada dengan hadits ini, tapi penulis mencukupkan dengan hadits di atas.

Bahwa orang yang bermimpi berjumpa atau melihat Rasulullah ﷺ, maka mimpinya adalah benar, dan apa yang dilihat itu benar-benar wajah Rasulullah ﷺ, karena setan tidak bisa menyerupai beliau meski pun di alam mimpi.

Syaikh Hasan Muhammad Abdullah Syadad bin Umar Ba Umar menyebutkan, bahwa mimpi itu ada tiga macam.

الرؤيا ثلاث أنواع رؤيا مبشرة وهي من الله ورؤيا من الشيطان وهي تحزين ورؤيا مما يحدث المرء نفسه

Pertama mimpi pembawa kabar gembira, yaitu mimpi yang datang dari Allah, kedua mimpi datangnya dari setan, yaitu mimpi pembawa kabar buruk, ketiga mimpi yang datang dari bisikan hati.

Mimpi berjumpa atau melihat Nabi ﷺ adalah mimpi pembawa kabar gembira yang datang dari Allah, karena orang yang bermimpi Nabi ﷺ dijanjikan akan berjumpa dengan beliau di dunia secara sadar.

من رأنى في المنام فسيرانى في اليقظة

“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka akan melihatku di waktu terjaga.” (HR. Bukhari)

Dalam kitab ad-Dakhairul Muhammadiyah, Sayid Muhammad bin Alawi al-Makki mengutip perkataan para ulama menguatkan pendapat, bahwa secara pasti orang yang bermimpi Nabi ﷺ akan melihat Nabi ﷺ waktu terjaga di dunia.

Mimpi berjumpa dengan Nabi ﷺ tidak dikhususkan kepada orang-orang yang saleh, akan tetapi siapapun bisa dan berhak bermimpi Nabi ﷺ, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi di dalam kitab Fatawanya.

Dari keterangan ini kita masih punya harapan besar berjumpa dengan Nabi ﷺ di dalam mimpi atau dalam keadaan sadar.

Dalam kitab Kaifiyatul Wushul Liru’yati Sayidinar Rasul Muhammad ﷺ dijelaskan, ada sekitar 134 (seratus tiga puluh empat) amalan dan cara agar bisa bermimpi jumpa dengan Nabi ﷺ. Antara lain adalah,

سورة القدر من قرأها عند طلوع الشمس إحدى وعشرين مرة وعند غروبها كذلك رأى النبي في منامه. من الوسائل الشافعة ص ٤٢١

“Barang siapa membaca surah al-Qadar ketika terbitnya mata hari dan surupnya mata hari sebanyak 21 kali, maka akan melihat nabi dalam mimpinya.” Keterangan aslinya ada dalam kitab al-Wasailisy Syafi’ah hal 421.

Sedangkan dalam kita Nashaihul Ibad diceritakan bahwa Imam Syibli pernah dikecup oleh Nabi ﷺ.

قدم شبلى إلى إبن مجاهد فعانقه إبن مجاهد وقبل بين عينيه فسئل عن ذلك، فقال رأيت النبي ﷺ في النوم وقد أقبل الشبلى، فقام النبي ﷺ اليه وقبل بين عينيه، فقلت : يارسول الله أتفعل هذا بالشبلى؟ قال نعم، إنه لم يصل فريضة إلا وهو يقرأ خلفها (لقد جاءكم رسول من أنفسكم) إلى أخر الأيتين ويقول صلى الله عليك يا محمد فسألت الشبلى عما يقوله بعد الصلاة فذكر مثله

Syahdan, Imam Syibli mendatangi Ibnu Mujahid, tiba-tiba beliau dipeluk dan dikecup keningnya oleh Ibnu Mujahid. Lalu beliau menanyakan tentang tindakan Ibnu Mujahid itu. Ibnu Mujahid menjelaskan, “Aku bermimpi Nabi, sedang ada Syibli menghadapnya, lalu Nabi berdiri menghampiri Syibli, dan mengecup keningnya. Kemudian aku bertanya, “Ya Rasulallah, Engkau melakukan itu kepada Syibli?” Beliau menjawab, “Iya, karena dia setiap selesai shalat fardu selalu membaca “Laqad Jaakum Rasulun Min Anfusikum” sampai akhir kedua ayat itu, setelah itu dia juga membaca “Shallallahu ‘Alaika Ya Muhammad.”” Setelah bangun, aku menanyakan kepada Syibli perihal yang dia baca setelah shalat, dia pun menuturkan sebagaimana disampaikan oleh Nabi dalam mimpi. Waallahu A’lamu

Penulis: Shofiyullah El-Adnany

Sumber :

Nashaihul Ibad Alal Munbihati Alas Ti’dadi Liyaumil Ma’ad| Syaikh Nawawi al-Banteni. hal 8

Kaifiyatul Wushul Liru’yati Sayidinar Rasul Muhammad ﷺ| Syaikh Hasan Muhammad Abdullah Syadad bin Umar Ba Umar| hal 20, 21, 22.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.