Apa Salahnya Anjing?

Asscholmedia.net – Di Indonesia kata “Anjing” menjadi bahan hinaan yang dinilai paling kasar, terutama bagi orang Madura. Orang Madura menyebutnya “Patek.”

Bacaan Lainnya

Ketika kemarahan sudah memuncak kepada orang lain, maka sebagian orang Madura untuk memaki atau menghina menyebut orang itu dengan “Patek,” maksudnya mirip anjing.

Konon, kata “Anjing” dipilih sebagai kata makian di Indonesia terutama di Madura, karena jeleknya perangai si anjing, dan sifatnya yang najis. Sebab rata-rata orang Indonesia menganut Madzhab Syafi’i dalam masalah fiqih yang menghukumi anjing itu najis.

Berarti ketika orang dicaci dengan kata “Anjing” sama dengan mengatakan orang itu buruk dan najis.

وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَـٰهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُۥۤ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَیۡهِ یَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ یَلۡهَثۚ ذَّ ٰ⁠لِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 176)

Ayat di atas, menyebutkan anjing sebagai perumpamaan orang-orang yang mendustai ayat-ayat Allah.

Dahulu anjing adalah menjadi hewan peliharaan bebas tanpa ada belenggu di lehernya seperti sekarang ini, namun karena melanggar aturan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, akhirnya anjing peliharaan dibelenggu sampai hari kiamat sebagai hukuman.

ذكر أن نوحا أمر أهل السفينة أن لا يقرب ذكر من أن أنثى، فخالف الكلب، فأخبرت الهرة نوحا بذلك، فأحضره فحلف أنه لم يفعل، ثم عاد ثانيا فسألت الهرة ربها أن يمسك عليه حتى يراه نوح، فاستمر ذلك فيه عقوبة له حتى تقوم القيامة.

Nabi Nuh membuat undang-undang kepada seluruh penumpang perahu supaya laki-laki dan perempuan tidak berkumpul, agar tidak terjadi kehamilan dan melahirkan anak, sehingga membuat isi kapal melebihi melebihi kapasitas. Ternyata anjing melanggarnya. Dilaporkanlah oleh kucing kepada Nabi Nuh pelanggaran itu, tapi anjing berbohong dan bersumpah tidak melakukannya, kemudian anjing mengulangi pelanggaran itu lagi. Akhirnya kucing memohon kepada tuannya agar membelenggu si anjing sehingga dapat dilihat oleh Nabi Nuh. Jadilah si anjing terus dibelenggu sampai hari kiamat sebagai hukuman.

Rumah yang ada anjingnya tidak akan dimasuki Malaikat. Kenapa?

قيل سبب عدم ذخول الملائكة بيتا فيه كلب أوصورة ما قيل : إن الكلب خلق من ريق إبليس، لأنه بصق على أدم وهو طين، فكشطته الملائكة فصار موضعه السرة وخلقت الكلاب من ذلك الذى بصق عليه إبليس، والملائكة والشياطين لا يجمعان.

Rumah yang ada anjingnya atau gambar anjing tidak akan dimasuki Malaikat Rahmad. Sebabnya, anjing dijadikan dari ludahnya iblis ketika iblis meludahi Nabi Adam, sedangkan Nabi Adam masih berbentuk lumpur. Lalu dikelupas oleh Malaikat ludah itu yang terletak di pusarnya Nabi Adam, kemudian diciptakanlah anjing dari bekas ludahnya iblis tadi. Maka Malaikat dan Iblis serta anak turunnya tidak akan pernah kumpul di satu tempat.

Namun, meskipun sudah dinilai sangat buruk, terdapat banyak kelebihan dan manfaat bagi anjing untuk manusia. Semisal untuk menjaga rumah, menjadi alat pelacak, menjadi alat memburu dsb.

Selain itu, terdapat beberapa sifat dan karakter anjing yang baik yang dianjurkan untuk ditiru oleh manusia.

قال بعضهم : فى الكلب خصال حسنة لو كانت فى إبن أدم لبلغ أعلى الدرجات : كثرة الجوع كالصالحين، وليس له مكان معروف كالمتوكلين، ولاينام إلا قليلا كالمحبين، وليس له مال كالزاهدين، ولا يترك صاحبه وإن جفاه كالمريدين، ويرضى بأي موضع من الأرض كالمتواضعين، وينصرف من مكان طرد منه إلى غيره كالراضين، وإذا ضرب وطرح له شيئ عاد إليه وأخذه من غير حقد كالخاشعين.

Sebagian ulama berkata, terdapat beberapa sifat baik yang melekat pada anjing yang apabila dipakai oleh manusia maka dia akan mencapai derajat yang tinggi; 1.) Selalu dalam keadaan lapar, hal itu mirip dengan sifatnya orang-orang saleh. 2.) Tidak punya tempat tertentu, sama dengan orang yang ahli tawakkal. 3.) Tidur sedikit, seperti para pecinta Allah. 4.) Tidak punya harta, mirip orang zuhud. 5.) Tidak meninggalkan pemiliknya walaupun keadaan sulit, sama dengan para muridin. 6.) Rela ditempatkan di mana saja, seperti orang-orang yang tawadu’. 7.) Dan pergi dari tempat yang diusurnya, menggambarkan orang-orang yang menerima. 8.) Apabila dipukul atau dilempari sesuatu dia akan kembali kepada tuannya, dan mengambil sesuatu itu tanpa rasa dengki, seperti orang yang khusyuk.

Sumber : Tafsir Jalalain, Nawadir Qalyubi

Penulis: Shofiyullah Ed-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.