Gosip Lebih Buruk Dari Zina

Asscholmedia.net – Tidak ada orang yang senang dibicarakan keburukannya. Dari itu jangan senang berteman dengan orang yang suka membicarakan keburukan orang lain di hadapanmu, sebab kalau kamu sedang tidak bersamanya, maka keburukanmu yang akan dibicarakan.

Membicarakan keburukan orang lain namanya ghibah, ngerasani, menggunjing atau gosip. Memang ada perasaan senang ketika kita membicarakan keburukan orang lain, sebab kalau tidak senang tidak mungkin dilakukan banyak orang, karena dengan menggosip secara otomatis kita merasa lebih baik dari orang yang kita gosipi.

Membicarakan keburukan orang hukumnya dosa, bahkan ada yang mengatakan tergolong dosa besar.

وَلَا یَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَیُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن یَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِیهِ مَیۡتࣰا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابࣱ رَّحِیمࣱ

“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 12)

قال رسول الله ﷺ إياكم والغيبة فإن الغيبة أشد من الزنا قيل له كيف قال إن الرجل قد يزنى ويتوب الله عليه وإن صاحب الغيبة لا يغفر له حتى يغفر له صاحبه (إرشاد العباد إلى سبيل الرشاد)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah kalian jangan ngerasani, karena ngerasani lebih buruk daripada berzina.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Kenapa demikian?” Beliau menjawab, “Seorang lelaki yang berzina kemudian bertobat, dan akan diterima tobatnya oleh Allah. Tapi orang yang ngerasani tidak akan diampuni sehingga dimaafkan oleh orang yang dirasani.”

Sebenarnya ghibah atau membicarakan keburukan orang lain boleh dilakukan dalam beberapa keadaan.

أن ذكر مساوى الغير لغرض صحيح في الشرع بحيث لايمكن التوصل إليه إلا به يباح في خمسة عشر موضعا كما قاله إبن العماد (قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان)

Membicarakan keburukan orang lain karena ada tujuan yang dibenarkan oleh syara’ sekiranya tanpa membicarakan keburukan orang lain tujuan tersebut tidak tercapai, maka membicarakan keburukan orang lain hukumnya boleh dalam 15 keadaaan, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Imad.

Namun, di sini tidak menjelaskan ke 15 keadaan tersebut mengingat terbatasnya ruang tulisan di kolom ini.

Sebagai orang beriman kita harus berusaha menutupi kejelekan orang lain, sebagaimana dalam kisah al-Asham di bawah.

حكى أبو على الدقاق أن إمرأة جاءت إلى سيدى حاتم بن علوان الأصم قدس الله سره تسأله عن مسألة فاتفق أنه خرج منها صوت ريح فخجلت المرأة فقال حاتم ارفعى صوتك وأراها أنه صم فسرت المرأة بذلك ورأت أنه لم يسمع الصوت فبذلك سمي هذا الشيخ بالأصم

Abu Ali ad-Daqqaq bercerita, ada seorang perempuan datang kepada Sayidi Hatim bin Alwan al-Asham — semoga Allah mensucikan rahasianya — menanyakan sesuatu, bersamaan dengan itu perempuan tadi ngentut sehingga kedengaran suaranya, dan dia merasa malu. Kemudian Imam Hatim berkata, “Keraskan suaramu, wahai perempuan!” seraya memperlihatkan kepada perempuan itu bahwa beliau tuli. Akhirnya perempuan itu senang, karena mengira Imam Hatim tuli. Lantaran itu beliau dijuluki al-Asham (yang tuli).

Di samping itu, kita juga berusaha tidak mendengarkan ghibah dari orang lain. Tapi kalau terlanjur dan terpaksa mendengarkan, maka lanjutkan membaca ibarat di bawah ini.

ومن كلام الشيخ أبى المواهب الشاذلى رحمه الله تعالى ومن ابتلى بوقوعه في ذلك فليقرأ الفاتحة وسورة إخلاص والموذتين ويجعل ثوابهن في صحائف ذلك الشخص فإنى رأيت رسول الله ﷺ في المنام وأخبرنى بذلك وقال : إن الغيبة والثواب يقفان بين يدي الله تعالى وأرجو أن يتوازنا (شرح المنح السنية على الوصية المبتولية)

Sebagian dari kalamnya Syaikh Abil Mawahib asy-Syadzili — semoga Allah merahmati — “Barang siapa terlanjur menggunjing, atau terpaksa mendengar orang lain sedang menggunjing, bacalah surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas dan al-Mu’awidzatain (al-Falaq dan an-Naas), kemudian padahalanya hadiahkan kepada orang yang dirasani. Aku berpimpi Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang itu padaku, beliau berkata, “Sesungguhnya ghibah dan pahala bacaan tadi berdiri di sisi Allah, dan aku harap keduanya bisa mengimbangi.”

Wallahu A’lam

Penulis: Shofiyullah El-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.