Mimpi Indah Yang Berbunga Petaka (Kisah 3)

 

Bacaan Lainnya

Asscholmedia.net – Setelah semua perlengkapan dan bekal diletakan pada kendaraan-kendaraan mereka, saudara-saudara Nabi Yusuf berpamitan pada Sang Ayah. Mereka berjanji akan segera kembali bersama Nabi Yusuf as setelah liburan mereka selesai. Perlahan mereka meninggalkan Nabi Ya’qub as dan Binyamin sendirian di rumah, sembari menandu Nabi Yusuf as dipundak salah satu di antara mereka.

Sebelum berangkat, Nabi Ya’qub as sempat memeluk erat Nabi Yusuf as, membelai rambutnya dan mengecup keningnya tanda betapa Nabi Ya’qub as tak sanggup menanggung beban kesedihan jika harus berpisah lama dengan putra kesayangannya Nabi Yusuf as.

Pandangan Nabi Ya’qub as terus tertuju pada Nabi Yusuf as yang berjalan semakin menjauh bahkan kala rombongan Nabi Yusuf as dan saudara-saudaranya lenyap di balik bukit, Nabi Ya’qub as berlari mendaki bukit hanya meyakinkan bahwa Nabi Yusuf as baik-baik saja ditandu saudara-saudaranya.

*****

Benar kata orang, firasat orang tua tidak pernah salah pada anak-anaknya. Ketika Nabi Yusuf as benar-benar lenyap dari padangan Nabi Ya’qub as, saudara-saudara Nabi Yusuf as mulai menampakkan watak aslinya. Nabi Yusuf as yang tadinya dielu-elukan layaknya anak emas ditandu di atas pundak mereka di depan Sang Ayah, kini mereka berubah menjadi Serigala yang buas. Mereka melemparkan Nabi Yusuf as ke tanah tanpa sedikit pun rasa iba hingga tulang-tulang rusuknya nyaris remuk. Mereka tidak perduli akan erengan dan rintihan Nabi Yusuf as.

“Saudara-saudaraku! Apa kesalahanku? Hingga kalian melakukan ini semua padaku”. Erangan dan tanya Nabi Yusuf as pada saudara-saudaranya tidak mengerti kesalahan apa yang diperbuat sehingga mereka tega berbuat keji.

Seraya menahan kesakitan, Nabi Yusuf as terus bertanya pada satu persatu saudara-saudaranya. Bukannya jawaban yang didapat tapi malah penganiayaan dan pukulan serta tamparan yang lebih menyakitkan yang diperoleh.

Mereka tinggalkan Nabi Yusuf as sendirian ditengah jalan, di bawah terik matahari yang menyengat. Dengan rasa haus yang mencekik, Nabi Yusuf as berlari menghampiri Rubail.

“Wahai saudaraku Rubail! Engkau saudaraku yang paling mengerti aku, berilah aku minum. Rasa haus ini telah mencekik kerongkonganku”. Pinta Nabi Yusuf as pada Rubail sembari tangannya berusaha meraih air dan susu yang digantung di kendaraan mereka.

“Hai pemilik mimpi palsu, mintalah minum dan makan pada Matahari, Bulan dan Bintang-bintangmu itu”. Balas Rubail tanpa perduli keadaan Nabi Yusuf as yang nyaris sekarat. Ia dengan kasarnya merampas wadah air dan susu dari tangan Nabi Yusuf as lalu membuang begitu saja air dan susu tersebut ke tanah.

Maka tatkala Nabi Yusuf as mengerti bahwa penyebab kebencian dan kemarahan saudara-saudara adalah mimpinya, Nabi Yusuf as bersimpuh dihadapan mereka, mencium dan memegangi kaki-kaki mereka satu persatu seraya berkata:

“Wahai Saudara-saudaraku! Belas kasihanilah aku yang belum cukup usia, tidak mungkin aku merencanakan siasat tidak baik pada kalian. Juga belas kasihani Ayah kalian, kenapa secepat ini kalian melupakan pesan dan menyia-nyiakan kehormatannya?”

Mereka berkata pada Nabi Yusuf as: “Hari ini adalah akhir hidupmu di dunia”

“Jangan lakukan itu wahai Saudara-saudaraku! Aku siap menjadi budak kalian sepanjang hidupku dan aku berjanji tidak akan menceritakan semua apa yang kalian lakukan pada Ayah”.

Mereka sedikit pun tidak perduli apa yang dikatakan Nabi Yusuf as, malah mereka semakin beringas. Mengejek, menendang beramai-ramai kemudian menertawainya.

Merasa tidak ada perhatian sama sekali dari saudara-saudaranya yang lain, Nabi Yusuf as berlari menghampiri Yahudza kakak yang tertua dari semua saudara-saudaranya berharap ada sedikit pertolongan atau setidaknya ia bisa meredam keangkaraan mereka pada Nabi Yusuf as, seraya berkata:

“Wahai saudaraku Yahudza! Engkau adalah kakak kami yang paling tua di antara kami dan engkau yang paling disegani serta yang paling didengar ucapannya. Engkau sediri telah menyaksikan penderitaanku dianiaya oleh mereka. Seandainya engkau sudi menolongku dengan sepatah kata yang engkau ucapkan. Tentu mereka akan mau mendengar dan berhenti berbuat keji padaku”.

Yahudza, awalnya juga tidak mau mendengar dan menolong keluh rintih Nabi Yusuf as namun karena terus mengiba, menangis serta bersimpuh dihadapannya. Akhirnya hati Yahudza menjadi luluh luluh lantas mendekap tubuh lusuh penuh luka Nabi Yusuf as dan berkata:

“Demi Allah, aku tidak membiarkan mereka menyentuh dan menyakitimu lagi, selama aku masih hidup aku tidak akan memberikan mereka membunuhmu.

Setelah itu Yahudza angkat bicara seraya mengingat saudara-saudaranya:

“Wahai Saudara-saudaraku! Janganlah kalian gegabah membunuh Putra Rahil, tidakkah kalian tahu bahwa membunuh seseorang adalah paling besarnya dosa disisi Allah? Kembalikan anak kecil pada Ayahnya.

Mereka balik berkata: “Apakah engkau sok ingin jadi pahlawan dan juga ingin mendapat perhatian dari Ayah. Sungguh jika demikian, kami akan membunuhmu bersama dengannya”.

“Tenang dulu wahai Saudara-saudaraku, aku tidak bermaksud demikian. Tapi tolong dengarkan pendapatku. Bagaimana kalau kita buang saja anak kecil ini ke dasar sumur yang gelap nan dalam agar dimangsa ular. Bila ia selamat, maka akan dipungut pelancong yang singgah di sumur itu lalu membawanya ke negeri lain yang jauh dan tentu Ayah tidak akan bisa lagi melihat wajahnya”.

Mereka akhirnya sepakat membuang Nabi Yusuf as ke dasar sumur. Yahudza lantas berdiri lalu berkata pada Saudara-saudaranya:

“Pasrahkan Yusuf kepadaku, biar aku ikat dia dengan tambang lalu akan aku ceburkan ke sumur.”

Tanpa menghiraukan himbauan Yahudza, saudara-saudara Nabi Yusuf as seketika membuka paksa baju Nabi Yusuf as, kemudian diikat dengan tambang lalu memasukannya ke dalam sumur.

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab Tafir al-Qur’an al-Adzim: “Menurut Qatadah dan Muhammad bin Ishaq, orang yang berpendapat agar supaya Nabi Yusuf as dibuang ke dasar adalah Rubail putra tertua Nabi Ya’qub as, sementara menurut as-Sindiy adalah Yahudza sedangkan menurut Mujahid adalah Syam’un dan sebagian ahli Tafsir sumur tempat pembuangan Nabi Yusuf as berada di Baiti al-Maqdis (Palestina) sementara menurut yang di negeri Syam (Suriyah).

*****

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

πŸ“’ 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-π‘²π’Šπ’Žπ’‚π’Ž π’‡π’Š π‘Έπ’Šπ’”π’‰π’”π’‰π’‚π’•π’Š 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, π’Œπ’‚π’“π’šπ’‚ π‘Ίπ’šπ’‚π’Šπ’Œπ’‰ π‘Ίπ’Šπ’“π’π’‹π’–π’…π’…π’Šπ’ π‘¨π’ƒπ’Š 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 π‘Όπ’Žπ’‚π’“ π’ƒπ’Šπ’ π‘°π’ƒπ’“π’‚π’‰π’Šπ’Ž π’ƒπ’Šπ’ π‘Όπ’Žπ’‚π’“ 𝒂𝒍-π‘¨π’π’”π’‰π’π’“π’Š 𝒂𝒍-π‘Όπ’˜π’‚π’”π’Šπ’š 𝒂𝒍-π‘΄π’‚π’π’Šπ’Œπ’Š (π’˜. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-π‘°π’π’Žπ’Šπ’šπ’‚π’‰ 𝒉𝒂𝒍. 35-37.

πŸ“’ π‘»π’‚π’‡π’”π’Šπ’“ 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒓’𝒂𝒏 𝒂𝒍-π‘¨π’…π’›π’Šπ’Ž, π’Œπ’‚π’“π’šπ’‚ 𝒂𝒍-π‘°π’Žπ’‚π’Ž 𝑨𝒃𝒖 𝒂𝒍-π‘­π’Šπ’…π’‚’ 𝒂𝒍-π‘―π’‚π’‡π’Šπ’…π’› 𝑰𝒃𝒏𝒖 π‘²π’‚π’•π’”π’Šπ’“ 𝒂𝒅-π‘«π’‚π’Žπ’”π’šπ’Šπ’’π’Š (π’˜. 774 𝒉) 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-π‘­π’Šπ’Œπ’“ 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 521.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.