Mimpi Indah Yang Berbunga Petaka (Kisah 2)

Asscholmedia.net – Namanya orang sedang iri hati dan menaruh dendam kusumat, meski diperlakukan baik dan penuh kasih sayang tetap saja hati saudara-saudara Nabi Yusuf as tidak mau menerima bahkan dengan cerita mimpi yang terakhir ini mereka bertambah kalap dan ingin segera melenyapkan Nabi Yusuf as. Menurut Ahli Tafsir al-Qur’an dan Sejarah, semua kejadian mimpi yang dialami Nabi Yusuf as sebelum ia diangkat menjadi seorang Nabi.

Bacaan Lainnya

“Kalian jangan memberi hati sedikit pun pada Putra Rahil itu sehingga ia kelak akan berani berkata pada kalian: “Kalian adalah budak-budakku dan aku adalah tuan kalian.” Lihatlah Ayah kita telah berlaku tidak adil, ia telah mengistimewakan Putra Rahil dengan selalu berada didekatnya dan menyayanginya dengan memberikan apa yang diminta. Sedangkan kalian setiap hari bersusah payah menggembala Kambing, mencari nafkah dan menanggung segala penderitaan. Maka pikirkanlah keadaan kalian, sebelum kelakuannya menjadi-jadi dan akibatnya kelak kesengsaraan semakin besar menimpa kalian. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah tempat yang jauh yang belum dikenalnya supaya perhatian ayah kalian tertumpah kepada kalian dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik dengan cara bertobat.” Hasud salah satu saudara-saudara Nabi Yusuf as pada yang lain. Sebagaimana yang difirmankan Allah ﷻ mengisahkan rencana jahat mereka:

ٱقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعْدِهِۦ قَوْمًا صَٰلِحِينَ

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayah kalian tertumpah kepada kalian saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik”. (QS. Yusuf: 9).

Lalu seorang di antara mereka yaitu Yahudza berkata: “Janganlah kalian bunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah dia ke dasar sumur tua supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir.”

Allah ﷻ pun berfirman:

قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا۟ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ

“Seorang diantara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat”. (QS. Yusuf: 10).

*****

Lama sekali mereka berembuk, mematangkan rencana jahat mereka. Mereka sadar bahwa tidak mungkin membawa Nabi Yusuf as sendirian karena Ayah mereka tentu tidak akan mengijinkanya. Mereka mencari cara untuk bisa membujuk Sang Ayah meski harus dengan berbohong.

Keesokan harinya, mereka mulai menjalankan aksinya. Mul-mula mereka pergi menemui Nabi Yusuf as, dengan bujuk rayu yang manis mereka mengajak pergi:

“Wahai Yusuf, adik kesayangan kami! Sekarang musim memerah susu dan waktunya mengunduh hasil Kambing-kambing kita, Maukah engkau ikut pergi jalan-jalan dengan kami?”.

Lalu mereka meneruskan aksinya menemui Sang Ayah, Nabi Ya’qub as.

“Wahai Ayah tercinta! Idzin kami membawa Yusuf pergi berlibur dan jalan-jalan ke hutan mencari udara segar.” Bujuk salah satu saudara Nabi Yusuf as pada Sang Ayah.

Nabi Ya’qub as berkata: “Aku tidak akan memberi kalian idzin membawa Yusuf, adik kalian. Karena aku tidak bisa meninggalnya barang sekejap pun dan aku tidak sanggup hidup sendirian tanpa dirinya. Lagi pula aku tadi malam aku bermimpi kurang baik, dalam mimpi itu aku seperti berada di puncak gunung sedangkan Yusuf, adik kalian berada di dasar jurang dan dalam mimpi itu aku melihat ada sepuluh Serigala hendak menerkam dan memangsanya. Aku pun berusaha sekuat tenaga melindungi Yusuf, adik kalian tapi aku tidak mampu. Beruntung masih ada satu Serigala yang perduli menghalanginya kemudian aku melihat bumi terbelah dan Yusuf, adik kalian hilang dari pandanganku berada dalam bumi itu selama tiga malam.

Ibnu Abbas ra mengatakan: “Sepuluh Serigala yang dimaksud dalam mimpi Nabi Ya’qub as adalah saudara-saudara Nabi Yusuf as. Sementara satu Serigala yang berusaha melindungi Nabi Yusuf adalah Yahudza. Sedangkan bumi yang terbelah adalah sumur tempat Nabi Yusuf as dibuang dan waktu tiga malam adalah lama Nabi Yusuf as mendekam dalam sumur sebelum akhirnya ditemukan seorang Musafir.”

Selanjutnya sebagaimana yang dikisahkan dalam al-Qur’an, saudara-saudara Nabi Yusuf as terus mendesak Nabi Ya’qub as:

قَالُوا۟ يَٰٓأَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَ۫نَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُۥ لَنَٰصِحُونَ. أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya”. (QS. Yusuf: 11-12)

قَالَ إِنِّى لَيَحْزُنُنِىٓ أَن تَذْهَبُوا۟ بِهِۦ وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ ٱلذِّئْبُ وَأَنتُمْ عَنْهُ غَٰفِلُونَ

Nabi Ya’qub as berkata: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya”. (QS. Yusuf: 13).

قَالُوا۟ لَئِنْ أَكَلَهُ ٱلذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّآ إِذًا لَّخَٰسِرُونَ

Mereka pun berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi”. (QS. Yusuf: 14).

*****

Merasa tidak mendapat idzin dari Sang Ayah, saudara-saudara Nabi Yusuf as kembali lagi mendatangi Nabi Yusuf as membujuk agar ia mau ikut bersama mereka menemui Nabi Ya’qub as.

Sahdan, tanpa menaruh curiga sedikit pun dengan hati tulus dan senang gembira layaknya seorang adik diajak kakak-kakaknya bermain, Nabi Yusuf as mengiyakan ajakan saudara-saudaranya.

Ketika telah berada di hadapan Sang Ayah, Nabi Yusuf as bersimpuh sembari mengiba pada Sang Ayah agar kali ini diperkenankan ikut bermain bersama saudara-saudaranya.

Melihat Nabi Yusuf as bersimpuh dan memohon, hati Nabi Ya’qub as pecah tidak bisa lagi melarangnya pergi bersama saudara-saudaranya.

“Putraku terkasih! Jika itu keinginanmu Ayahanda tidak bisa mencegahnya. Baiklah aku idzin kamu pergi bermain bersama saudara-saudaramu besok pagi.” Restu Nabi Ya’qub as meski hatinya sangat cemas dengan merelakan Nabi Yusuf as pergi.

Sementara saudara-saudara Nabi Yusuf as begitu gembira mendengar restu dari Sang Ayah karena apa yang mereka rencanakan selama ini akan berjalan sukses.

Pada malam itu, Nabi Yusuf as dan saudara-saudaranya tidak bisa tidur karena gembira seakan malam sengaja memperpanjang waktu begitu pula sebaliknya Nabi Ya’qub yang sedang cemas dan khawatir akan putra kesayangannya merasakan betapa singkat waktu malam berlalu.

*****

Bentang fajar mulai menyingsing, menyuruh malam agar segera membuka tirai gelapnya. Tak lama kemudian sulur-sulur keemasan lazuardi berpendar menghias ufuk timur, menandakan hari akan berganti.

Pada pagi itu Nabi Yusuf as dan saudara-saudaranya mulai berkemas mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan mereka. Lalu datanglah Nabi Ya’qub as menghampiri Nabi Yusuf as. Bak seorang yang akan berpisah lama dengan kekasihnya, Nabi Ya’qub as dengan tangannya sendiri memakaikan gamis miliknya pada Nabi Yusuf as, lalu memakaikan surban miliknya di kepala Nabi Yusuf as dan tidak lupa pula Nabi Ya’qub as membawakan Nabi Yusuf as semacam gelas kecil bertutup yang diisi penuh dengan susu, persediaan air minum, dan tempat bekal makanan yang diisi dengan kurma dan makanan lainnya.

Sebenarnya Nabi Ya’qub as masih ragu dan belum rela sepenuhnya akan kepergian Nabi Yusuf as, hanya lantaran tidak sanggup melihat Nabi Yusuf as bersedih dan termakan rayuan mereka:

“Sesungguhnya kami pasti menjaganya”.

Benteng keyakinan hati Nabi Ya’qub as akhirnya runtuh, berbaik sangka dan pasrah pada kehendak takdir.

Maka sebelum berangkat Nabi Ya’qub as berpesan kepada putra-putranya:

“Wahai putra-putraku! Kalian semua tahu bahwa Yusuf, adik kalian adalah cinta dan belahan jiwaku. Kasih dan separuh nyawaku. Aku tidak sanggup hidup tanpanya, bila sekejap saja ia sirna dari pandanganku. Bila ia lapar, aku menyuapinya makan, bila ia haus aku menuangkannya minuman. Bila ia letih aku segera mengendongnya. Maka jangan pernah kalian menyia-nyiakannya dan secapatnya kalian kembalikan ia kepadaku.”

𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈 𝑰𝒏𝒔𝒚𝒂’𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉…

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📒 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 34-35.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.