Mimpi Indah Yang Berbunga Petaka

Kisah 1

Asscholmedia.net – Tidak ada kisah yang terbaik, valid dan otentik mengalahkan kisah yang bersumber dari al-Qur’an al-Karim. Allah ﷻ sendiri telah menyatakan:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ

Bacaan Lainnya

“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 4).

Dari banyaknya kisah yang diwahyukan Allah ﷻ dalam al-Qur’an, yang paling menarik untuk dinarasikan ulang adalah kisah Nabi Yusuf As. menurut penulis, kisah ini tergolong the best story and complete karena di dalamnya ada intrik tragedi, cinta dan kerinduan, perpisahan, sosial dan budaya serta monarki kekuasaan yang adil makmur.

*****

Syaikh Sirojuddin Abi Hafash Umar bin Ibrahim bin Umar al-Anshori al-Uwasiy al-Maliki (w. 751 h) dalam dalam kitab Zahru al-Kimam fi Qishshati Yusuf As mengisahkan: Konon, Nabi Yusuf As bermimpi sebanyak tiga kali. Pertama, pada suatu hari Nabi Yusuf As tidur kamar Nabi Ya’qub As, Ayahnya. Lantas ia bermimpi dalam tidurnya, seakan ia keluar dari rumahnya menuju sebuah hutan bersama saudara-saudaranya [¹] untuk mencari kayu bakar, setelah kayu bakar didapat dan setiap orang mengikat kayu bakarnya untuk dibawa pulang tidak terkecuali kayu bakar milik Nabi Yusuf as. Tiba-tiba kaya-kayu bakar yang telah diikat milik saudara Nabi Yusuf As, bersujud pada kayu kabar yang telah diikatnya. Nabi Yusuf As tersentak bangun dari tidurnya dan merasa ketakutan. Ia pun buru-buru mencari Ayahnya untuk menanyakan takbir mimpi yang baru saja dialaminya.

“Wahai Putraku! Dari mimpi itu, Aku mencemaskanmu”. Jawab Nabi Ya’qub pada Nabi Yusuf As, putranya tanpa memerintahkan menyimpan dalam-dalam mimpinya itu.

Keesokan hari Nabi Yusuf As dengan polosnya menceritakan semua isi mimpinya pada saudara-saudaranya. Maka semenjak itulah saudara-saudara Nabi Yusuf As menjadi jengkel dan menaruh dendam lalu membuat sebuah rencana tipu muslihat.

Setelah selang satu tahun dari mimpi yang pertama. Saat ia tidur di kamar Ayahnya, Nabi Yusuf As kembali bermimpi—Nabi Yusuf As sejak kecil memang kerap tidur bersama Sang Ayah di kamarnya. Ia begitu dicintai oleh Nabi Ya’qub lantaran ia telah ditinggal wafat ibunya ketika melahirkan adiknya Binyamin. Selain itu Allah mengkaruniai separuh ketampanan pada Nabi Yusuf As dari separuh ketampanan yang diberikan pada semua makhluk sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits—lantas terbangun dan ketakutan mengadu pada Sang Ayah:

“Wahai Ayahku! Aku tadi telah bermimpi melihat Matahari dan Rembulan turun dari langit seakan bicara padaku lalu disusul sebelas Bintang [²] yang turun kemudian semuanya bersujud kepadaku”.

Selaras dengan apa yang dikisahkan Allah ﷻ dalam firmannya:

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4).

Mendengar cerita mimpi putra kesayangannya, Nabi Ya’qub As terdiam sejenak seakan sorot pandangannya menembus sekat masa mendatang berada di antara kecemasan dan kebahagian lalu berkata:

“Putraku! Ketahuilah bahwa sebelas bintang yang engkau lihat dalam mimpimu itu adalah sebelas saudara-saudaramu, sementara Matahari dan Rembulan adalah Ayahmu ini dan bibimu (dari Ayah).”

Setelah menjelaskan takbir mimpi Nabi Yusuf As, Nabi Ya’qub berpesan kepada Nabi Yusuf As jangan sekali-sekali menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya dengan ucapan yang diabadikan dalam al-Qur’an:

يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya: “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. (QS. Yusuf: 5).

Pasca Nabi Yusuf as mengetahui takbir mimpinya, ia begitu senang dan bergembira sembari berharap kelak mimpinya menjadi sebuah kenyataan yang indah hingga akhirnya Setan membuatnya lupa akan pesan Sang Ayah. Tanpa disadari, Nabi Yusuf as menceritakan semua takbir mimpi yang didengar dari Sang Ayah beserta larangannya kepada saudara-saudaranya.

Sepintas saudara-saudara Nabi Yusuf terlihat begitu khidmat dan bersungguh-sungguh mendengar setiap kata yang disampaikan Nabi Yusuf as, namun sebenarnya hati mereka semakin mendidih terbakar api iri hati dan dendam setiap kali Nabi Yusuf As mengisahkan mimpinya. Mereka pun semakin gencar berembuk mencari cara untuk menyingkirkan Nabi Yusuf as dari pangkuan Sang Ayah.

Ketiga, pada satu hari Nabi Yusuf As tidur di kamar saudara-saudaranya. Dalam tidurnya itu ia bermimpi melihat setiap putra Nabi Ya’qub As memiliki tanaman pohon tidak terkecuali Nabi Yusuf As. Setelah terbangun dari tidurnya, lumrahnya setiap adik pada kakak-kakaknya dengan kasih sayang dan cinta yang dimiliki, Nabi Yusuf As bangga menceritakan semua mimpinya pada mereka:

“Wahai Saudara-saudaraku yang tercinta! Tadi aku bermimpi lagi. Dalam mimpiku itu aku menanam sebuah pohon dan satu persatu dari kalian juga menanamnya di sekitar pohon yang aku tanam. Setelah itu aku melihat pohon yang aku tanam tumbuh subur dan buah tapi aneh, tidak dengan pohon-pohon yang kalian tanam—layu lalu mengering mati”. 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈 𝑰𝒏𝒔𝒚𝒂’𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉…

[¹] Nama-nama saudara Nabi Yusuf As menurut al-Qurthubiy dalam Tafsirnya (9/116) adalah Rubil, Syam’un, Lawiy, Yahudza, Zayalun, Yasyjar, Danun, Naftaliy, Jadun, Asyar dan Binyamin.

[²] Sebelas Bintang itu bernama: Jariyyan, Thariq, Dzayyal, Dzul Katifan, Qabis, Amudan, Faliq, Mashbah, Sharukh, Furu’, Watstsab, Dzul Katifan. Mimpi itu terjadi pada hari Jum’at di malam Lailatu al-Qadar dan usia Nabi Yusuf pada saat itu berkisar 12 tahun, ada yang berpendapat 7 tahun atu 17 tahun sebagaimana yang disampaikan ash-Shawiy dalam Hasyiyahnya (2/161). Sementara menurut Ibnu Jarir ath-Thabariy dalam kitab Tafsirnya (7/148) mengutip dari sebuah hadits riwayat Jabir ra adalah Thariq, Dzayyal, Qabis, Watstsab, Amudan, Faliq, Mashbah, Dharuh, Dzul Furu’, Dzul Katifan, Dhiya’ dan Nur.’ (sebagai ganti dari nama Syams dan Qamar).

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📒 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 33-34.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.