Jhin Peddhis Nabi Nuh as

Asscholmedia.net – Bulan Muharram oleh orang Madura dikenal dengan nama bulan Jhin Peddhis (Bubur Pedas), sebagai cocoklogi dengan nama tradisinya.

Bacaan Lainnya

Penulis sendiri belum menemukan asal-usul dari nama bulan Jhin Peddhis dan tradisinya yang otentik dan bisa dipercaya, hanya saja sebagian mengatakan itu diambil dari kisah nabi Nuh ‘Alaihis salam ketika mendarat dari kapal.

قال الثعلبي: كان استواء السفينة على جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم. فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا على تلك النعمة.

ويروى ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم. ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز. فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم. فصارت الحبوب من ذلك اليوم سنة نوح عليه السلام.

“Imam Al-Tsa’laby berkata: perahu Nabi Nuh alaihissalam mendarat sempurna di puncak gunung pada Hari Asyura, yakni hari kesepuluh bulan Muharram. Nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunya untuk melakukan puasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa seluruh binatang dan hewan yang ikut dalam perahu Nabi Nuh alaihissalam juga melaksanakan puasa pada hari itu. Kemudian Nabi Nuh alaihissalam mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal. Ia mengumpulkan tujuh macam jenis biji-bijian berupa kacang polong hijau, kacang adas, kacang brul, kacang panjang, gandum dan beras. Semuanya itu dicampur dan dimasak. Pada tahun-tahun berikutnya, Nabi Nuh dan kaumnya selalu membuat makanan seperti itu.” (Bada`iuz Zuhur fi Waqa`i’id Duhur)

وَكَانَ ذَلِكَ أَوَّلَ طَعَامٍ طُبِخَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ — بَعْدَ الطُّوْفَانِ — فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ سُنَّةَ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، وَفِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِمَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ، وَيُطْعِمُ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ
“Itulah pertama kali makanan yang dimasak di bumi – setelah adanya banjir bandang. Dengan adanya peristiwa tersebut, maka orang-orang menjadikannya sebagai tradisi yang mereka lakukan setiap hari Asyura. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut dan membagikan kepada fakir, miskin, maka akan mendapatkan pahala yang besar.” (Hasyiyah I’anatut Thalibin Juz II hlm 267)

Selain untuk tradisi, masyarakat Madura menjadikan bubur sebagai simbol ritual untuk hajat-hajat tertentu, sehingga dari itu nama bubur menjadi beragam sesuai hajat dan tradisi yang berlaku di Madura.

Memilih bubur sebagai simbol ritual karena makanan ini terhitung ringan, tidak membutuhkan biaya banyak untuk membuatnya. Dan bubur bukanlah makanan pokok yang setiap hari dikonsumsi, maka keberadaannya sebagai sedekah sangat diharapkan, dan sering juga dirindukan.

Pembuatan bubur (Tajhin Peddhis) di bulan Jhin Peddhis dijadikan media untuk selamatan, sedekah dan menjalin kerekatan tali silaturrahim antar masyarakat.

Di suatu kampung atau desa, masyarakat secara bergantian membuat bubur pedas untuk disedekahkan. Namun sebelum dibagi-bagikan kepada tentangga terlebih dulu bubur itu dibacakan doa-doa keselamatan yang diambil dari al-Quran, hadits, atsar dan doa-doa para ulama dengan mengundang seorang kiai, atau ustadz di kampung.

Tradisi ini menunjukkan betapa semangat dan senangnya masyarakat Madura dengan sedekah, karena di samping pahalanya yang besar, sedekah dapat mempererat rasa persaudaraan antar sesama.

Banyak hadits nabi menjelaskan tentang keutamaan sedekah, diantaranya; sedekah dapat meredakan murka Allah ﷻ, menolak balak, memanjangkan umur dan membuat rezeki semakin lancar dan berkah.

Dalam al-Quran disebutkan pentingnya bersedekah, sehingga orang yang sudah mati ingin dihidupkan kembali hanya karena ingin bersedekah.

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”” (QS. al-Munafiqun 10)

Waallahu A’lamu

Penulis: Shofiyullah El-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.