Pertemuan Ya’qub dan Aishan yang Berakhir Dengan Kebahagiaan

Asscholmedia.net – Betapa bahagianya Ya’qub bisa kembali lagi ke kampung halamannya setelah sekian lama menahan rindu berpisah dengan ayah dan ibunya. Maka tatkala Ya’qub hampir sampai di tanah Kan’an, Ya’qub memakaikan putra putrinya baju-baju yang terbaik dan meriasnya dengan riasan setampan dan secantik mungkin lalu meletakan mereka di tempat paling depan tunggangannya.

Bacaan Lainnya

“Anak-anakku! Jika nanti kalian di Kan’an bertemu dengan sosok laki-laki tinggi besar dan kekar, membawa senjata dan berambut pirang bertanya; Siap kalian? Maka katakan padanya; Kami adalah putra putri Ya’qub hamba sahaya ‘Aishan yang ingin melihat tuannya.” Pesan Ya’qub pada putra putrinya untuk menjaga suatu yang tidak diinginkan jika nanti Aishan saudara kembarnya masih menaruh dendam.

Tidak beberapa lama tibalah Ya’qub dan keluarganya di tanah Kan’an. Dengan membawa senyum kebahagian mereka menemui orang yang paling di rindu selama ini, yaitu Nabi Ishak As dan sang istri Sayyidah Rufqah.

Keesokan harinya ‘Aishan saudara kembar Ya’qub telah mendengar kabar bahwa Ya’qub telah kembali ke tanah Kan’an berserta keluarga barunya. Mendengar kabar tersebut darah ‘Aishan mendidih teringat peristiwa tujuh tahun silam saat dirinya dicurangi Ya’qub. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya mengambil panah dan busur serta senjata lainnya yang ia miliki. Lantas berlari menuju ke rumah orang tuanya untuk menuntaskan dendam kusumatnya.

Sesampainya di sana, Aishan di sambut dengan ramah oleh putra putri Ya’qub sebagaimana pesan yang telah di sampaikan ayah mereka.

Melihat penyambutan yang tidak biasaβ€”santun dan ramah dari anak-anak yang polos dan menyenangkan, ‘Aishan bertanya: “Siapa kalian?”

Mereka menjawab dengan serentak: “Kami adalah putra putri Ya’qub hamba sahaya ‘Aishan yang ingin melihat tuannya.”

Mendengar hal itu, hati ‘Aishan pecah dan luluh kemudian meneteskan air mata haru sekaligus bangga mendapat ucapan kehormatan dari para keponakannya sembari melempar panah dan busur yang pegangnya.

Lalu ia berkata: “Ya’qub saudara kembarku! Putra kesayangan ibuku telah mengajarkanku ketakwaan dan kesalehan hidup meski ia tahu bahwa aku seorang yang selalu menentangnya, tidak menyukai segala yang dilakukannya dan hendak membunuhnya.”

Mendengar kata penyesalan dan pengakuan salah dari ‘Aishan, Ya’qub menghampiri saudara kembarnya memeluknya dengan erat lalu berkata: “Allah ο·» akan mengampuni segala khilaf dan kesalahanmu wahai Saudarku! Semua apa yang telah terjadi di antara kita, tentu tidak lepas dari takdir dan kehendak-Nya.”

Setelah kejadian itu, keduanya hidup rukun dan harmonis yang membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga dan bersyukur memilik meraka.

Konon diceritakan, bahwa di kemudian hariβ€”Ya’qub dan ‘Aishan meninggal dunia pada hari dan tanggal yang sama dan dikebumikan dalam satu liang kubur sebagaimana mereka pernah bersama dalam satu perut ibu mereka berdua. 𝑻𝒉𝒆 𝑬𝒏𝒅.

Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω† Ω…Ω† Ω„Ψ§ Ω…Ψ·Ω„ΨΉ Ω„ΨΉΩ„Ω…Ω‡ ΩˆΩ„Ψ§ Ω…ΨΉΩ‚Ψ¨ Ω„Ψ­ΩƒΩ…Ω‡

“Maha suci Dzat yang tidak butuh rujukan dan pengantar untuk ilmu-Nya dan tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya”.

*****

Ini kisah nyata yang diberikan Allah ο·» kepada kita semua, berupa suri tauladan keharusan berbakti kepada kedua orang tua. Betapa beruntung orang yang masih dianugerahkan Allah ο·» memiliki kedua orang tua yang masih hidup dan senantiasa bisa bersua setiap hari. Ingat, kematian bisa datang kapan saja, maka jangan sia-siakan kesempatan bisa berbakti kepada ke dua orang tua. Betapa banyak lantaran kematian seorang pencinta berpisah selama lamanya dengan orang yang dicintai dan betapa cepat tanpa rencana seorang sahabat ditinggal pergi sahabatnya. Ketika kematian telah menjerit dan rasa kehilangan telah meratap tangis, barulah sadar bahwa mereka orang-orang yang kita cintai sangatlah berarti. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

πŸ“’ 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-π‘²π’Šπ’Žπ’‚π’Ž π’‡π’Š π‘Έπ’Šπ’”π’‰π’”π’‰π’‚π’•π’Š 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, π’Œπ’‚π’“π’šπ’‚ π‘Ίπ’šπ’‚π’Šπ’Œπ’‰ π‘Ίπ’Šπ’“π’π’‹π’–π’…π’…π’Šπ’ π‘¨π’ƒπ’Š 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 π‘Όπ’Žπ’‚π’“ π’ƒπ’Šπ’ π‘°π’ƒπ’“π’‚π’‰π’Šπ’Ž π’ƒπ’Šπ’ π‘Όπ’Žπ’‚π’“ 𝒂𝒍-π‘¨π’π’”π’‰π’π’“π’Š 𝒂𝒍-π‘Όπ’˜π’‚π’”π’Šπ’š 𝒂𝒍-π‘΄π’‚π’π’Šπ’Œπ’Š (π’˜. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-π‘°π’π’Žπ’Šπ’šπ’‚π’‰ 𝒉𝒂𝒍. 24-25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.