Perempuan Harus Punya Malu

Asscholmedia.net – Nasib perempuan sebelum datangnya Islam teramat hina sekali keberadaannya, sehingga Allah ﷻ mengabadikan kondisi itu dalam salah satu ayatNya.

Bacaan Lainnya

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدࣰّا وَهُوَ كَظِیمࣱ *  یَتَوَ ٰ⁠رَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوۤءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦۤۚ أَیُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ یَدُسُّهُۥ فِی ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَاۤءَ مَا یَحۡكُمُونَ

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl 58 – 59)

Sebab teramat hinanya, sehingga orang Arab pra Islam jikalau melahirkan anak perempuan, mereka akan menguburnya hidup-hidup.

فعند الإغرقيين قالوا عنها : شجرة مسمومة وقالو : رجس من عمل الشيطان، وتباع كأي سلعة متاع

Menurut orang-orang Yunani, perempuan itu layaknya pohon yang beracun, kotoran dari pekerjaan setan, dan seperti komoditi yang bisa diperjual belikan.

وتعد المرءة عند اليهودى، أغوت الأدم وأوقعته في شراك المعصية

Dan orang-orang Yahudi, menganggap perempuanlah yang menggoda Nabi Adam sehingga menyebabkannya ikut bermaksiat kepada Allah ﷻ.

وعند المسيحيين : هي أصل الخطيئة ورأس الشر، لإنها سبب كل الفساد وسبب خروج أدم من الجنة

Sedangkan orang-orang Nasrani, menuduh perempuan adalah dalang kerusakan dan awal dari kejelekan, karena menjadi sebab setiap kerusakan dan menjadi sebab diusirnya Nabi Adam dari surga. (Makanul Mar’ah Fil Islam)

Lalu setelah datang Islam, perempuan mendapat tempat yang agung dan muliya, setara dengan laki-laki di dalam hak-haknya, baik di dunia maupun diakhirat.

Nah, supaya tetap menjadi muliya, perempuan harus menjaga diri dan kehormatannya dengan baik sebagaimana telah digariskan oleh syari’at Islam. Terutama rasa malunya, sebab hanya rasa malu yang bisa menjadikan perempuan tetap terhormat dan muliya.

لولا أن الله ستر المرأة بالحياء لكانت لاتساوى كفا من تراب

“Seandainya Allah tidak menutupi seorang wanita dengan rasa malunya, tentu mereka tak ubahnya segenggam debu yang tiada harganya.” (Uqudul Lujain)

Dan lihat di dalam al-Quran bagaimana Allah ﷻ mensifati perempuan sebagai perempuan yang baik sebab rasa malunya, sebagaimana cerita kedua anak perempuannya Nabi Zakaria yang kelak salah satunya menjadi istri Nabi Musa.

فَجَاۤءَتۡهُ إِحۡدَىٰهُمَا تَمۡشِی عَلَى ٱسۡتِحۡیَاۤءࣲ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu.” (SQ. al-Qashash 25)

Rasa malu dalam diri perempuan itu tidak datang sendiri, melainkan harus dilatih dan dipelajari. Adapun malu yang melekat karena bawaan lahir biasanya hanya malu yang tidak sesuai penempatannya, malu yang tidak semestinya dan malu yang tidak terpuji.

Rasa malu datang dari sebuah perenungan, pengertian dan pengetahuan yang telah diajarkan oleh Islam.

Kendatipun Islam sudah menempatkan perempuan dalam kemuliyaan, bila tidak punya rasa malu mereka akan kembali pada kehinaan sebagaimana dulu mereka dihinakan.

Waallahu A’lamu

Penulis: Shofiyullah El-Adnany

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.