Kepulangan Nabi Ya’qub ke Negeri Kan’an

Asscholmedia.net – Tujuh tahun berlalu, perjanjian kerja sama ternak kambing dengan sang mertua telah selesai. Tiba-tiba Ya’qub rindu akan kampung halaman, Kan’an. Ibu dan Ayah, Saudara dan keluarga besarnya.

Bacaan Lainnya

Maka tatkala sang mertua mendengar rencana Ya’qub, sang mertua berkata pada Ya’qub: “Sebaiknya rencana kepulanganmu ke kampung halaman ditunda dulu, apa kata mereka jika kamu pulang sekarang? Tunggulah setahun lagi sehingga aku bisa memberimu bekal yang bisa kau bawa pulang bersama istrimu”.

“Bekal apa gerangan itu pamanku!?” Sahut Ya’qub.

Mertuanya berkata: “Aku punya rencana bila nanti kambing ternak kita beranak kembar, maka kita dibagi dua—satu untuk kamu dan yang satu untukku.”

*****

Mertua bagi Ya’qub tak ubahnya orang tua sendiri, selain ia merupakan paman dari ibu. Sang mertua pada umumnya turut mendoakan dan membantu kekurangan dalam kebutuhan hidup anak dan menantunya karena itu ketika mertua Ya’qub melarangnya pulang ke kampung halamannya karena kurang cukup bekal, Ya’qub tanpa membatah mengikuti saran sang mertua.

Ditengah penantian Ya’qub menunggu bagi hasil ternak kambingnya, tiba-tiba malaikat Jibril datang menemuinya seraya berkata:

“Hai Ya’qub! Pergilah engkau pada suatu ngarai ditepi gunung ini. Di sana terdapat satu pohon jenis ini. Setelah engkau mendapatkannya pukul pohon itu dengan tongkatmu hingga daun-daunnya rontok lalu ambilah dan bawalah pulang daun-daun dari pohon itu untuk engkau berikan pada kambing-kambing teberika. Tidak seekor kambing pun yang makan daun-daun dari pohon itu kecuali ia akan bunting kembar”.

Keesokan harinya Ya’qub pergi mencari ngarai tempat pohon itu tumbuh. Setelah didapatkan, Ya’qub memukul pohon itu membawa pulang daun-daunnya sesuai yang perintahkan malaikat Jibril As.

Selang beberapa hari, dengan kuasa Allah ﷻ kambing-kambing betina milik Ya’qub terlihat bunting bersamaan.

Melihat kambing-kambing yang dipelihara Ya’qub telah bunting semua, sang mertua membanggakan Ya’qub dan berkata:

“Di tahun kedua aku berkeinginan bagi hasil lagi denganmu, setiap anak kambing jantan yang dilahirkan induknya. Maka itu milikmu.”

Ya’qub hanya bisa diam dan menuruti keinginan mertuanya. Baginya mengikuti segala perintah mertua asal bukan kemaksiatan pada Sang Khaliq adalah titah orang tua yang harus ditaati.

*****

Di tahun ke dua Ya’qub tidak sabar menunggu kambing-kambing ternaknya berbuah janin. Sebagaimana di tahun pertama, datanglah malaikat Jibril menemuinya. Lalu memerintahkan Ya’qub untuk kembali pergi ke ngarai tempat pohon ajaib tumbuh. Sesuai perintah Jibril, Ya’qub pulang membawa daun-daun itu untuk diberikan pada kambing-kambing ternaknya. Maka dengan kuasa Allah ﷻ kambing-kambing betina milik Ya’qub seketika bunting dan melahirkan kambing jantan.

Melihat keajaiban yang terjadi pada kambing-kambing yang diternak menantunya, mertua Ya’qub berkata:

“Hai Ya’qub! Sungguh Tuhanmu yang engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa”.

Konon, mertua Ya’qub seorang penyembah berhala, begitu juga kedua istri dan kedua budaknya namun Ya’qub telah mengislamkan kedua istri dan kedua budaknya.

Syahdan, setelah tugas bagi hasil dengan mertuanya di tahun kedua selesai. Ya’qub dan segenap isteri, anak serta budaknya berpamitan pada sang mertua untuk pulang ke kampung halamannya, Kan’an. Sebelum berangkat salah satu istri Ya’qub menyuruh putranya agar mencuri berhala yang disembah sang ayah, dengan tujuan agar sang ayah sadar bahwa berhala yang disembahnya selama ini hanya benda mati yang tidak punya daya dan tidak bisa memberikan manfaat apa-apa.

*****

Berangkatlah Ya’qub beserta keluarganya meninggalkan Najran, jauh mereka berjalan meninggalkan rumah mertuanya.

Sementara sang mertua dibelakang pasca ditinggal Ya’qub dan keluarganya, sedang kebingungan karena berhala sesembahannya hilang dicuri orang. Kejadian itu bermula saat ia hendak memberikan sesajen sebagai penghormatan pada sang berhala, namun alangkah terkejutnya dia. Berhala yang selama ini diagung-agungkan dan menjadi tempat pemujaannya tiba-tiba raib entah kemana?

Setelah mencari kemana-mana, sesisi rumah telah digeledah. Ia pun berandai-andai, jangan-jangan berhalanya terbawa Ya’qub atau salah satu putrinya secara tidak sengaja bersama barang bawaanya.

Hari itu juga sang mertua berangkat menyusul Ya’qub dan kelurganya. Di suatu tempat yang jaraknya lumayan jauh, sang mertua menemukan Ya’qub dan kelurganya. Ia pun memberhentikan laju Ya’qub dan kelurganya, sembari berkata:

“Hai Ya’qub! Tidakkah engkau merasa kasihan dan iba pada orang yang sudah renta ini?

Merasa tidak mengerti apa yang ucapkan sang mertua, Ya’qub balik bertanya:

“Maaf pamanku! Kami tidak mengerti apa yang ucapkan? Bukankah kami sudah berpamitan dengan baik-baik sebelum berangkat?”

“Engkau telah mencuri Tuhanku”. Jawab sang mertua dengan nada geram menuduh Ya’qub.

Ya’qub berkata: “Hai pamanku! Apa yang telah engkau perbuat dengan Tuhan yang hilang dicuri itu? Maukah engkau aku tunjukkan pada Tuhan akan berbuat baik padamu? Menyembahlah pada Allah ﷻ, tidak Tuhan yang wajib engkau sembah dengan benar kecuali Allah ﷻ. Maka aku akan memberikan padamu semua apa yang aku bawa yang telah aku dapat darimu ini kecuali keluargaku dan anaku”.

Sang mertua berkata: “Kembalikan kepadaku Tuhanku itu, aku tidak butuh apa yang sebutkan tadi”.

Maka dengan terpaksa Ya’qub mengembalikan barhalanya dan sang mertua tetap kokoh pada keyakinannya yang salah. lalu Ya’qub dan keluarga melanjutkan perjalan. Mereka semua berjumlah 12 orang. Di antaranya Rahil salah satu istri Ya’qub beserta dua putra, Yusuf dan Binyamin. 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈…

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📒 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉), 𝒄𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 22-23.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.