Santunan ala Rasulullah ﷺ

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡیَتَـٰمَىٰۖ قُلۡ إِصۡلَاحࣱ لَّهُمۡ خَیۡرࣱۖ
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” (QS. Al-Baqarah 220)

Bacaan Lainnya

Tanggal 10 Muharram merupakan hari bahagia bagi sebagian anak yatim, pasalnya di hari ke 10 ini banyak orang yang berlomba-lomba menyantuni anak yatim disebabkan tahu dan percaya dengan keutamaannya.

Pada praktiknya, mereka para anak yatim di undang ke tempat khusus disertai kemasan-kemasan acara sesuai kehendak para penyantun. Tidak sedikit anak-anak yatim tersebut mengeluh kesal dan kelelahan karena lamanya rentetan acara, sementara untuk acara santunannya di laksanakan di penghujung acara dengan diberi amplop yang berisi uang yang tidak seberapa.

Moment bahagia tahunan ini memang sangat ditunggu oleh anak-anak yatim terlebih oleh pengasuhnya, yakni ibunya.

Mereka memang butuh sekali dengan santunan berupa uang, tapi tidak hanya untuk setahun sekali, justru butuh setiap hari. Apalagi jikalau ada penyantun yang menggratiskan semua biaya pendidikan mereka, tentu itu lebih dibutuhkan mereka.

Namun sebenarnya kalau dipikir-pikir, anak-anak yatim tidak terlalu tertarik dengan uang, karena mereka memang belum begitu mengerti tentang kegunaan uang. Mereka sebenarnya ingin yang langsung berupa barang, semisal baju, peralatan sekolah, mainan, hiburan dan lain-lain yang membuat mereka senang.

Untuk itu, mari kita lihat bagaimana ketika Rasulullah menyantuni anak yatim, sebagaimana keterangan hadist di bawah.

حكي عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي عليه الصلاة والسلام : أنه) خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوم العيد لأجل صلاة العيد، فرأى الصبيان يلعبون ووجد صبيا واقفا يبكي، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم وقال له; ما يبكيك أيها الصبي؟ وهو لم يعرف أنه النبي صلى الله عليه وسلم، دعاني أيها الرجل فإن أبي مات في إحدى الغزوات مع رسول الله وأمي تزوجت بغير أبي فأخذ داري وأكل مالي فصرت كما تراني عاريا جائعا حزينا ذليلا، فلما أتى يوم العيد رأيت الصبيان يلعبون فتشدد حزني فبكيت، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم أما ترضى أن أكون لك أبا وعائشة أما وفاطمة أختا وعلي عما والحسن والحسين إخوة؟ فقال له الصبي أكيف لا أرضى يا رسول الله … فأخذه النبي صلى الله عليه وسلم وتوصل به إلى داره فأقامه وألبسه لباس العيد، فخرج الصبي يلعب مع الصبيان، فقال له الصبيان: كنت واقفا بيننا الآن تبكي وما يضحكك الآن؟ فقال لهم: كنت جائعا فشابعا وكنت عاريا فكسيت وكنت بغير أب فأصبح رسول الله أبي وعائشة أمي وفاطمة أختي وعلي عمي والحسن والحسين إخوتي، فقال له الصبيان: يا ليت آبائنا ماتوا في إحدى الغزوات مع رسول الله

(Dihikayatkan dari Anas bin Malik RA dari Nabi SAW, bahwasanya) Nabi SAW keluar untuk menjalankan shalat Id. Beliau melihat anak-anak sedang bermain, beliau menemukan seorang anak yang berdiri menangis. Lalu beliau bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai anak?”Anak itu menjawab, dia tidak tahu yang bertanya itu Nabi SAW, “Doakanlah aku wahai seseorang! Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW, lalu ibuku menikah dengan orang lain, mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku, jadilah aku seperti yang engkau lihat, telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika tiba Hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis.”
Nabi SAW menawarkan, “Apakah kau mau saya jadi bapakmu, ‘Aisyah jadi Ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu?”Anak itu lalu menimpali, “Bagaimana aku tidak mau wahai Rasulullah?!” Segera Rasul SAW mengambil anak itu dan membawa ke rumahnya, anak itu disuruh berdiri tegak dan diberi pakaian Id.
Lalu Anak itu keluar bermain bersama teman sebayanya. Anak-anak yang lain bertanya, “Kamu berdiri di antara kami, (sebelumnya) kamu menangis, sekarang apa yang membuatmu dapat tersenyum?” Anak itu menjawab, “Semula aku lapar sekarang jadi kenyang, semula aku telanjang lalu aku diberi pakaian, semula aku tidak punya bapak, sekarang Rasulullah SAW jadi bapakku, ‘Aisyah jadi ibuku, Fatimah jadi saudara perempuanku, Ali jadi pamanku, Hasan dan Husain jadi saudara laki-laki ku.” Anak-anak yang lain lalu berkata, “Oh seandainya bapak-bapak kami wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW”.

Waallahu A’lamu

Penulis: Syofiyullah El-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.