Kenapa Ada Ulama Yang Memilih Hidup Menjomblo?

KENAPA ADA ULAMA YANG MEMILIH HIDUP MENJOMBLO?

Ini jawabannya!

قيل اللنواوى رحمه الله : لماذا لاتتزوج؟ فأجاب : يموت العلم بين فخدي النساء

Imam Nawawi ditanya. “Kenapa Anda tidak menikah?” Beliau menjawab. “Karena ilmu akan mati di antara kedua paha wanita.”

وعندما سئل السيوطي لما أنت تتزوج؟ فأجاب : عندي، يعيش العلم بين فخدي النساء

Tapi ketika Imam as-Suyuthi ditanya. “Kenapa Anda menikah?” Beliau menjawab. “Menurutku, ilmu akan hidup di antara kedua paha seorang wanita.

Entah, penulis belum tahu dari mana sumber tulisan dalam foto di bawah, yang pasti itu adalah alasan kedua ulama besar ketika ditanya tentang dirinya tidak mau menikah dan yang mau menikah.

Imam Nawawi adalah salah seorang ulama yang tidak menikah, bukan berarti beliau tidak tahu tentang faidah dan keutamaan menikah. Justru beliau membahas panjang lebar tentang pernikahan di dalam kitab Majmu’nya.

Tapi kenapa beliau tetap tidak menikah? Ada alasan lain dibalik itu sehingga beliau tidak ingin mendapatkan keutamaan menikah. Yakni diantaranya menghidupkan ilmu.

As-Syaikh al-Imam Abdullah bin Alwi al-Hadad berkata dalam kitab an-Nashaihud Diniyah Wal Washaayal Imaniyah.

ثم إن من قصد ترك النكاح تفرغا للعلم والعبادة وتباعدا عن شواغل الدنيا وعلائقها وكان مع ذالك فارغ القلب عن الميل إلى النساء والركون إليهن فإنه لا بأس عليه في تركه ولاجناح

“Kemudian bagi orang yang tidak mau menikah lantaran memfokuskan diri dengan ilmu dan ibadah, dan agar bisa menjauhi dari kesibukan urusan dunia dan tergantung kepadanya. Namun, dengan itu hatinya harus tidak ada rasa tertarik kepada wanita. Maka bagi orang itu boleh-boleh saja tidak menikah dan tidak berdosa.”

Karena hukum menikah tergantung dengan kondisi orangnya, bisa wajib, sunnah, makruh haram dan mubah.

قال الإمام شيخنا محمد خليل بن عبد اللطيف البنكلاني رحمهما الله تعالى في السلاح : حكم النكاح إما واجب وإما حرام وإما مستحب وإمامكروه

“Syaikhana Moh. Kholil Bangkalan berkata dalam kitab as-Silah, “Hukum menikah adakalanya wajib, haram, sunnah dan makruh.””

Selain Imam Nawawi banyak sekali dari ulama Salaf dan Khalaf yang memilih tidak menikah dengan alasan-alasan tertentu. Semisal ketika mereka ditanya kenapa tidak menikah, mereka menjawab.

قد عجزت عن تقويم نفسى أفأضم إليها نفسا ثانية

“Aku belum mampu menata hatiku sendiri dengan baik, lalu bagaimana aku bisa menata dua hati.”

وقيل لبشر بن الحرث رحمه الله إن الناس يتكلمون فيك يقولون إنك تارك للسنة يريدون التزويج فقال : قولوا لهم هو مشغول بالفريضة

Dikatakan kepada Basyar bin Harits, “Orang-orang membicarakanmu, bahwa kamu meninggalkan Sunnah. Maksudnya menikah.” Beliau menjawab, “Katakan kepada mereka, dia (aku) sibuk dengan urusan Fardu.

وقال رجل لإبراهيم بن أدهم رحمه الله : طبى لك فقد تفرغت للعبادة بالعزوبة، فقال : لروعة منك بسب العيال أفضل من جميع ما أنا فيه، قال : فما الذى يمنعك من النكاح؟ فقال : مالى حاجة في امرأة وماأريد أن أغر امرأة بنفسى

Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Kebahagian bagimu bisa tenang beribadah sebab membujang.” Beliau menimpali, “Kemuliyaan darimu sebab berkeluarga, lebih utama dari apa yang aku peroleh.” Lalu beliau ditanya lagi, “Lantas apa yang membuatmu tidak menikah?” Dijawab oleh beliau, “Aku tidak butuh kepada wanita, dan aku tidak ingin menipu hati wanita.”

Untuk konteks saat ini, dimana sulitnya mencari nafkah bagi sebagian orang kecuali lewat bermaksiat, maka ketika keadaan seperti itu, halal atau boleh orang tersebut membujang. Karena kalau menikah dia akan dirusak oleh istri atau anaknya dengan dipaksa mencari penghidupan dengan pekerjaan yang dia tidak mampu, sehingga jalan tidak halal pun tetap ditempuh, sebagaimana di jelaskan dalam hadits berikut.

عن عبد الله بن مسعود قال ‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ‏ليأتين على الناس زمان لا يسلم لذي دين دينه إلا من فر بدينه من قرية إلى قرية ، ومن شاهق إلى شاهق ، ومن جحر إلى جحر ، كالثعلب الذي يروغ‏ .‏ قالوا ‏:‏ ومتى ذاك يا رسول الله ؟ قال ‏:‏ إذا لم تُنل المعيشة إلا بمعاصي الله عز وجل ، فإذا كان ذلك الزمان حلت العزوبة‏ . قال ‏:‏ وكيف ذاك يا رسول الله وقد أمرتنا بالتزوج ؟ قال‏ :‏ لأنه إذا كان ذلك الزمان كان هلاك الرجل على يدي أبويه ، فإن لم يكن له أبوان فعلى يدي زوجته وولده ، فإن لم يكن له زوجة ولا ولد فعلى يدي قرابته ‏. قالوا : وكيف ذاك يا رسول الله ؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏ :‏ ‏يَعَيِّرونه بضيق المعيشة ، فيتكلف ما لا يطيق حتى يورده موارد الهلكة.

Waallahu A’lamu

Penulis: Syofiyullah Al-Adnany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.