Doa Nabi Ishak AS

Doa Nabi Ishak (Kisah 2)

Asscholmedia.net – Setelah mendapat titah dari sang Ayah, Aishan bergegas pergi berburu. Membawa segala peralatan lengkap dengan perbekalannya.

Sementara Ya’qub saudara kembar Aishan sedang sibuk bekerja di ladangnya. Tanpa sepengetahuan Nabi Ishak As, Sayyidah Rufqah mengutus seseorang untuk menjemput Ya’qub di ladangnya.

Bacaan Lainnya

Tidak begitu lama Ya’qub datang menghadap sang ibu.

“Ya’qub! Pergilah engkau ke tempat kambing-kambingmu, sembelih satu ekor kemudian engkau panggang dagingnya dan kulitnya engkau pakai sebagai baju—konon Aishan tubuhnya penuh bulu. Lalu masuklah menemui ayahmu dengan bahasa yang mirip dengan suara saudaramu Aishan.

Lantas suguhkan daging kambing yang engkau panggang tadi dan katakan pada Ayahmu: “Ayah! Ini daging panggang yang engkau inginkan. Setelah itu memohon pada ayahmu, agar ia sudi mendoakanmu. Maka engkau akan menjadi orang yang bahagia dunia dan akhirat”. Perintah Sayyidah Rufqah pada Ya’qub sembari menceritakan awal kejadian sesungguhnya.

Tanpa banyak bertanya Ya’qub segera pergi menemui ayahnya, melaksanakan semua apa yang diperintahkan ibunya. Ia datang ke hadapan Nabi Ishak As berpura-pura menjadi Aishan.

Setelah daging panggang disuguhkan dan Nabi Ishak As memakan dengan lahapnya, ia berkata: “Mendekatlah wahai putraku!” Sembari meletakkan tangan Ya’qub di atas pangkuannya.

Baca juga:

Betapa terkejutnya Nabi Ishak As ketika memegang tangan Ya’qub seraya berkata:

سبحان الله، اللمس لمس عيص، وريح ريح يعقوب

“Maha suci Allah, tangan yang aku pegang adalah tangan Aishan sedangkan aromanya aroma Ya’qub”.

Namun Sayyidah Rufqah, Sang ibu yang sejak tadi berada dibelakang Ya’qub. Seketika menepis keraguan Nabi Ishak As:

“Dia adalah Putramu! Maka doakan dia”.

Tanpa menaruh curiga, Nabi Ishak As segera mengusap punggung Ya’qub dan berdoa:

اللهم اجعل أنبيائك ورسولك سوى النبي العربي الذي أجريته في قناة أخي إسماعيل من نسل ولدي هذا إلى يوم القيامة.

“Ya Allah! Jadikan para Nabi dan Rasul dari keturunan anakku ini hingga hari kiamat selain Nabi kebangsaan Arab yang akan Engkau ciptakan lahir melalui jalur keturunan saudaraku Ismail.”

Setelah didoakan Ya’qub berdiri dan berpamitan pada sang ayah dengan membawa doa keberuntungan.

*****

Ditempat lain, tidak jauh dari kediaman Nabi Ishak As Aishan pulang membawa hewan hasil buruan yang akan dipersembahkan pada sang ayah. Ia begitu gembira dan bangganya karena bisa mengabulkan keinginan sang ayah.

Setelah selesai memanggang hewan hasil buruannya, Aishan segera berlari menuju kediaman ayahnya. Ia berdiri didepan pintu. Dari dalam rumah, Nabi Ishak As bertanya: “Sepertinya ada seseorang, siapa kamu?”

“Aku putramu ayah! Datang membawa sesuatu yang engkau titahkan”. Jawab Aishan.

“Bukankah kamu tadi yang datang membawanya?” Tanya Nabi Ishak As meyakin pada Aishan.

“Bukan Ayah!” Jawab Aishan tidak mengerti apa yang telah terjadi sesungguhnya.

Nabi Ishak As berkata: “Berarti saudaramu Ya’qub yang telah beruntung mendapatkan doaku, bukan kamu.”

Mendengar penjelasan ayahnya, Aishan naik pitam dan marah: “Demi Allah! Aku akan membunuh Ya’qub”.

“Jangan engkau lakukan itu wahai putraku, semua itu sudah takdir dan kehendak Allah”. Cegah dan pesan Nabi Ishak As pada Aishan putranya.

Dengan kekecewaan dan kemarahan yang memuncak Aishan pergi meninggalkan kediaman ayahnya. Ia mencari keberadaan Ya’qub.

Pertikaian pun terjadi antara dua saudara kembar itu, demi luapkan segala kekesalannya Aishan memukul Ya’qub tanpa ampun. Ia tumpahkan daging panggang hasil buruannya ke wajah Ya’qub.

Sementara sang ibu, Sayyidah Rufqah cemas dan takut jika pertengkaran kedua putra kembarnya menjadi bara api yang dapat menyulutkan api dendam yang berkepanjangan. Maka dengan bijak Sayyidah Rufqah berkata pada Ya’qub:

“Putraku, Ya’qub! Sesungguhnya engkau memiliki Khala (paman dari jalur ibu) yang tinggal di tanah Najran [¹]. Seandainya engkau mau pergi menemuinya dan tinggal bersamanya, ibu rela berpisah denganmu. Ibu takut kemarahan saudaramu Aishan menjadi-jadi dan engkau yang selalu akan menjadi sasarannya. Tinggallah engkau dengan pamanmu selang beberapa hari sehingga Allah menentukan apa yang terbaik bagi kalian berdua.”

*****

Pada hari yang ditentukan, Ya’qub berangkat menuju tanah Najran. Ia berangkat di malam hari lalu tiba dan tinggal di Najran di siang hari. Karena itulah Ya’qub juga diberi nama Israil. Pendapat lain mengatakan: karena Ya’qub pernah dijalankan oleh Allah menuju langit ke tujuh lalu di turunkan di tanah Kan’an [²] setelah itu Allah mengutus para Nabi dan Rasul di tanah ini. Ya’qub adalah bapak dari anak cucu para Nabi yang disebut dalam al-Qur’an dan kita diperintahkan agar beriman pada mereka. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah ﷻ:

قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ.

“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya…” (QS. Al-Baqarah: 136).

______________________

[¹] Najran adalah sebuah tempat di barat daya Makah (sekarang Arab Saudi. Pent) yang dekat dengan perbatasan Yaman. Dalam istilah Arab, Najran memiliki dua arti: bingkai kayu dari sebuah pintu dan juga ‘haus’. Tradisi lokal juga menyebutkan bahwa nama Najran adalah nama dari seorang yang tinggal di wilayah ini, Najran bin Zaydan bin Saba bin Yahjub (Kasyhub) bin Ya’rub bin Qahtan. Konon, tempat ini diberi nama Najran karena Najran adalah orang yang pertama kali membabat, tinggalkan dan meramaikannya.

[²] Kan’an adalah istilah kuno untuk wilayah yang meliputi Israel, Palestina, Lebanon, serta sebagian Yordania, Suriah, dan sebagian kecil Mesir timur laut. Dalam kitab suci, “Tanah Kanaan” terbentang dari Lebanon hingga “Sungai Mesir” di selatan, dan lembah sungai Yordan di timur. Ibnu Kilabi dan al-Azhari mengatakan nama Kan’an diambil dari Kan’an bin Sam bin Nuh dan bangsa Kan’an dinisbatkan padanya. Bangsa Kan’an berbicara menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Arab sebagaimana yang disampaikan Ibnu al-Mandzur dalam Lisan al-Arab (8/316) dan Mu’jam al-Budani (4/484-485). 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈…

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📒 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉) 𝒂𝒔𝒂𝒍 𝑴𝒖𝒓𝒄𝒊𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂𝒍𝒖𝒔𝒊𝒂 (𝑺𝒑𝒂𝒏𝒚𝒐𝒍). 𝑪𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 21-22

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.