Bakti Nabi Ya’qub as Pada Sang Ibu

Bakti Nabi Ya’qub as Pada Sang Ibu (Kisah 1)

Asscholmedia.net – Jika Allah ﷻ yang menciptakan asalmu, maka ayah ibumu adalah penyebab lahirmu.

Allah ﷻ yang meletakkan tulang, membalutkan daging dan kulit. Allah ﷻ yang memasang hati dan jantung lengkap dengan urat dan syarafnya, memompa dan mengalirkan darah pada sekujur tubuhmu. Allah ﷻ yang membentuk usus dan lambung untuk mencerna makanan melalui mulut. Lalu meniupkan ruh membuatmu bernafas  menghirup kehidupan. Sementara orang tuamu yang bertugas menafkahi, merawat dan menjagamu hingga engkau tumbuh dewasa. Disebut manusia yang berakal, bergelar dan dimuliakan manusia yang lain.

Bacaan Lainnya

Uangmu tidak akan bisa membeli air mata kesedihan ayah ibumu kala engkau sakit diw kecil. Tidak bisa menebus bau pesing dan basah najis kencing dan kotoranmu dibaju mereka.

Jangan engkau kira, pembantumu bisa menggantikan belaian dan dekapan kasih sayang ayah ibumu. Suapan makanan yang engkau perintahkan pada pembantumu, dimulut ayah ibumu ketika sudah renta hanya mengharap upah dan pujianmu.

Andai hari ini, engkau menyadari betapa besar pengorbanan ayah ibumu—bahwa kasih sayangnya mengalahkan cinta dan rindu orang lain yang mengaku paling menyayangimu. Kemudian engkau datang menjenguknya, mencium tangannya yang kasar, memeluk tubuhnya yang mulai keriput tergerus usia. Menyuapi makanan dan menuangkan minum di mulutnya bahkan andai engkau sanggup memandikan dan membersihkan kencing dan kotorannya. Maka semua itu hanya bisa membalas satu erangan ibumu saat melahirkan atau setetes keringat ayahmu saat mencarikan nafkah.

Mereka berdua dahulu merawatmu agar engkau bisa hidup, sedangkan engkau sekarang merawat mereka menunggu ajal mereka menjemput.

Allah ﷻ berfirman dan berpesan:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا‏

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23).

*****

Dalam kitab Zahru al-Kimam fi Qishshati Yusuf As, Syaikh Sirojuddin Abi Hafash Umar bin Ibrahim bin Umar al-Anshori al-Uwasiy al-Maliki  (w. 751 h) asal Murcia Andalusia (Spanyol) menuturkan:

Jika ditanya siapa manusia yang paling berbakti pada ibundanya, maka Nabi Ya’qub As adalah orangnya. Dia adalah putra dari pasangan Nabi Ishak bin Ibrahim As dan Sayyidah Rufqah bin Tanwil bin Ilyas As. Bahkan bakti Nabi Ya’qub As pada ibunya konon sudah tampak sejak berada diperut ibunya.

Kejadian itu bermula saat Sayyidah Rufqah, Ibu Nabi Ya’qub As mengandung dua anak kembar diperutnya

Tatkala usia kandungan sudah sempurna dan waktu melahirkan, tiba-tiba terdengar percakapan antara dua bayi dalam perut Sayyidah Rufqah.

“Berikan aku jalan, sehingga aku bisa keluar sebelum kamu. “Kata salah satu bayi dalam perut Sayyidah Rufqah.

Bayi yang lain berkata: “Jika kamu keluar sebelum aku, maka perut ibu akan sobek sehingga aku akan keluar melalui pinggangnya.”

“Kalau begitu kamu yang keluar dahulu.” Omel bayi yang pertama.

*****

Pada hari itu lahirlah bayi yang pertama dan diberi nama ‘Aishan karena ia telah durhaka sejak dalam perut ibunya. Lalu disusul bayi kedua dan diberi nama Ya’qub karena ia rela menahan diri untuk lahir berikutnya.

Dikemudian hari Aishan tumbuh menjadi sosok yang keras dan kasar yang gemar memanah dan berburu. Sementara Ya’qub tumbuh menjadi sosok lemah lembut dan penyanyang yang gemar bercocok tanam dan giat berkerja.

Sang ayah Nabi Ishak As lebih menyayangi Aishan dari pada Ya’qub karena Aishan lebih banyak membantu keperluannya. Sedang Sang Ibu Sayyidah Rufqah lebih menyayangi Ya’qub dari pada Aishan karena Ya’qub lebih banyak berbakti kepadanya.

*****

Hari demi hari keluarga kecil Nabi Ishak As dan Sayyidah Rufqah tampak kian indah dan bahagia seiring kehadiran kedua putra kembarnya yang semakain dewasa. Nabi Ishak As dan Sayyidah Rufqah selalu berbangga hati dan bersyukur melihat kegagahan dan kehebatan Aishan putra sulungnya dalam berburu serta memiliki Ya’qub yang tampan rupawan dan penuh kasih sayang.

Namun keindahan dan kebahagian dunia tidak selama abadi, bak fatamorgana yang tampak hanyalah elusi. Dunia tak lain hanya ujian dan cobaan, segala karunia dan pembarian sebatas titipan atau pinjaman.

Sahdan, tidak lama setelah merasakan kebahagian itu, Allah ﷻ menguji Nabi Ishak As dengan kebutaan. Dunia yang kemarin tampak indah mempesona, kini menjadi satu warna hitam dan gelap gulita. Berganti tongkat ditangan yang selalu setia menjadi mata dan teman meraba. Nabi Ishak As hanya bisa pasrah dan bersabar karena dibalik semua ujian pasti ada hikmah dan pahalanya.

Kemudian turunlah malaikat Jibril As menemui Nabi Ishak As, seraya menyampaikan kabar: “Wahai Ishak! Allah ﷻ telah memberikan ujian padamu, melihat seberapa kuat kesabaranmu dan Allah ﷻ akan mengganti kesabaranmu itu dengan terkabulnya doamu untuk putra yang paling engkau kau sayangi. Sekarang doakan dia dengan segenap harapan yang engkau inginkan.”

Tanpa menunda lama, Nabi Ishak As memanggil putra kesayangannya, Aishan.

“Anakku Aishan! Pergilah engkau berburu untukku lalu pangganglah daging hasil dari hewan buruanmu dan berikan padaku. Aku sangat mengingikannya. Bila engkau sanggup memenuhi keinginanku ini, maka aku akan mendoakanmu dengan doa yang dijanjikan Tuhanku ﷻ. Engkau akan menjadi orang beruntung di dunia dan akhirat.” Perintah dan janji Nabi Ishak As pada Aishan putra kesayangannya.  𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈…

Penulis: Abdul Adzim

𝑻𝒆𝒓𝒍𝒆𝒑𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑰𝒔𝒓𝒂𝒊𝒍𝒊𝒚𝒂𝒕 (𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒐𝒓𝒂𝒍) 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒊𝒏𝒊, 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒂𝒍𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒁𝒂𝒉𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒇𝒊 𝑸𝒊𝒔𝒉𝒔𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒀𝒖𝒔𝒖𝒇 𝑨𝒔, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒊𝒓𝒐𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒇𝒂𝒔𝒉 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒔𝒉𝒐𝒓𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒘𝒂𝒔𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊 (𝒘. 751 𝒉) 𝒂𝒔𝒂𝒍 𝑴𝒖𝒓𝒄𝒊𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂𝒍𝒖𝒔𝒊𝒂 (𝑺𝒑𝒂𝒏𝒚𝒐𝒍). 𝑪𝒆𝒕. 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍. 14-21 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒂𝒑𝒓𝒆𝒔𝒊𝒂𝒔𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒕𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒖𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒅𝒂𝒉𝒖𝒍𝒖.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

3 Komentar