Hari Raya Pertama dan Terakhir

Tidak ada komentar 58 views
banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Dalam literatur Islam banyak dikisahkan bahwa Nabi Isa as pernah diberi mu’jizat spesial berupa pemberian hidangan dari langit yang menjadi hari raya pertama dan yang terakhir. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an al-Karim Surat al-Maidah Ayat 114-115:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ. قَالَ اللهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ.

Artinya: “Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir diantaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.” [QS. al-Maidah: 114-115]

Syaikhu al-Islam al-Imam Fakhruddin al-Razi (544 H-606 H) dalam at-Tafsir al-Kabir atau disebut tafsir Mafatihu al-Ghaib memaparkan secara singkat kronologi kisah turunnya hidangan dari langit: “Pada saat itu Nabi Isa as mengenakan pakaian yang terbuat dari kain wol tatkala beliau hendak berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ

“Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit.”

Setelah itu turunlah meja makan yang berwarna merah dari langit keluar dari dua mendung hitam tebal. Semua yang hadir pada saat itu (pengikut Nabi Isa as) menyaksikan dengan mata telanjang dan nyata.

Setelah meja makan itu turun di hadapan Nabi Isa as. Beliau menangis sembari berdoa:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلًنِيْ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً, وَلَا تَجْعَلَهَا مِثْلَةً وَعُقُوْبَةً

“Ya Allah! Jadikan aku golongan orang yang bersyukur, Ya Allah jadikan padanya (hidangan) sebagai rahmat dan jangan Kau jadikan padanya perumpamaan dan siksa”.

Kemudian Nabi Isa as menyuruh dari salah satu dari pengikutnya:

“Berdirilah dari salah satu kalian yang paling baik amal kebajikannya dihadapan hidangan itu untuk membukanya. Sebutlah nama Allah ﷻ dan makanlah.”

Sam’un pemimpin kaum al-Hawariyun berkata: “Engkau (Nabi Isa) yang lebih utama dari pada kami dengan hal itu”.

Setelah itu Nabi Isa as berwudhu, sholat, menangis lalu membuka kain penutup hidangan itu dengan ucapan:

بِسْمِ اللهِ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

“Dengan menyebut nama Allah (yang memberikan) paling baiknya Dzat pemberi segala rezeki.”

Setelah dibuka, tampak ikan bakar yang tanpa tulang dan tanpa sisik yang membalut dagingnya. Di kepalanya terdapat garam dan di ekornya terdapat cuka. Di sekelilingnya dihiasi aneka sayuran dan irisan bawak. Lalu ada lima roti dengan aneka rasa. Ada yang rasa zaitun, madu, samin, keju dan daging cincang kering.

Sam’un bertanya: “Wahai Ruhullah! Apakah ini makan dunia atau makanan akhirat?

Nabi Isa as menjawab: “Bukan dari keduanya, tapi sebuah makan yang diciptakan Allah ﷻ dengan kuasa-Nya yang maha luhur. Makanlah! Apa yang kalian minta ini, dan bersyukurlah kalian, maka Allah ﷻ membentangkan dan menambah pada kalian anugrah-Nya.”

Sam’un berkata lagi: “Wahai Ruhullah! Seandainya Kau sudi memperlihatkan pada kami Ayat-ayat Allah ﷻ yang lain selain Ayat ini!.”

Maka berkatalah Nabi Isa as: “Wahai ikan, hiduplah dengan idzin Allah ﷻ!”

Seketika itu ikan yang telah menjadi hidangan bergerak-gerak dan hidup.

Nabi Isa as kemudian berkata: “Kembalilah wahai ikan seperti sedia kala.”

Lalu dengan idzin Allah ﷻ, ikan itu kembali menjadi ikan bakar. Kemudian terbang menuju langit dan menghilang.

Setelah peristiwa itu, sebagian banyak dari kaum Nabi Isa as melakukan kemaksiatan. Maka Allah ﷻ mengutuk mereka menjadi kera dan babi. Naudzu billahi min dzalika.

Sekian, semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua di momen hari raya Idul Fitri ini dan setelahnya. Menjadi hamba Allah ﷻ yang selalu bersyukur dan bertakwa. Amin

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📚Syaikhu al-Islam al-Imam Fakhruddin al-Razi| at-Tafsir al-Kabir atau tafsir Mafatihu al-Ghaib| Daru al-Kutub al-Ilmiyah jilid 6 juz 11-12 hal 119.

📚Syaikh al-Imam Ibnu Utsman ash-Shafwariy| Nuzhatu al-Majalis wa Muntakhabu an-Nafais| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 229.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas