Andai Rasulullah ﷺ Jadi Membocorkan Jadwal Kedatangan Lailatul Qadar

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Meraih Lailatul Qadar adalah impian bagi setiap orang Islam di bulan suci Ramadhan namun tidak semua orang bisa ditakdirkan mendapatkan malam seribu bulan ini. Selain tidak ada kepastian tanggal dan hari kapan Lailatul Qadar akan datang menjemput, mencarinya pun tidak semudah menghitung hari di kalender Hijriyah. Butuh keimanan dan ketakwaan yang super serta istiqomah start dari awal Ramadhan melakukan ritual ibadah yang tidak kalah melelahkan.

Konon, Rasulullah ﷺ nyaris membocorkan kapan kepastian Lailatul Qadar akan datang namun karena ada pertikaian dua orang sahabat yang dibisiki syetan akhirnya jadwal kedatangan Lailatul Qadar urung dipublikasikan dan tetap menjadi rahasia Ilahi hingga sekarang. Cerita di atas di abadikan al-Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya, hadits nomor 1883 sebagai berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ “خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِوَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ.‏”‏‏

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata: “Nabi ﷺ keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari kaum Muslimin yang tengah berbantah-bantahan. Akhirnya Beliau ﷺ berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun Fulan dan Fulan tengah berdebat sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan).”

Al-Hafidz Ibnu Hajar ra (w. 852) dalam Fathu al-Barinya mengatakan: “Latar belakang cerita di atas sebagaimana yang dijelaskan Imam Muslim dari riwayat Abi Sa’id al-Khudriy bermula dari kedatangan dua orang yang berselisih yang tunggangi syetan. Berikut penggalan hadistnya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، – رضى الله عنه – قَالَ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْعَشْرَ الأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ يَلْتَمِسُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ قَبْلَ أَنْ تُبَانَ لَهُ فَلَمَّا انْقَضَيْنَ أَمَرَ بِالْبِنَاءِ فَقُوِّضَ ثُمَّ أُبِينَتْ لَهُ أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَأَمَرَ بِالْبِنَاءِ فَأُعِيدَ ثُمَّ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ ‏ “‏ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهَا كَانَتْ أُبِينَتْ لِي لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَإِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِهَا فَجَاءَ رَجُلاَنِ يَحْتَقَّانِ مَعَهُمَا الشَّيْطَانُ فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ الْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ ‏”‏.‏

Dari Abi Sa’id al-Khudriy ra berkata: “Rasulullah ﷺ melakukan I’tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadhan untuk mencari lailatul qadar sebelum dijelaskan kepada beliau berdasar wahyu. Ketika sepuluh hari pertengahan Ramadhan telah selesai, Beliau ﷺ memerintahkan agar tenda beliau dibongkar, maka tenda itu dibongkar. Lalu dijelaskan kepada beliau (berdasar wahyu) bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang terakhir, maka beliau memerintahkan untuk ditegakkan tenda kembali.”

Beliau ﷺ lantas menemui para sahabat dan bersabda, “Wahai orang-orang, sungguh telah dijelaskan kepadaku Lailatul Qadar dan aku keluar dari tenda untuk memberitahukannya kepada kalian. Namun ada dua orang yang bertengkar disertai oleh setan, sehingga aku terlupakan dari Lailatul Qadar. Maka carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir! Carilah ia pada malam ke Sembilan atau ke Tujuh atau ke Lima” (Hadits shahih, kitab al-jami’ ashaghir no : 13832).

Selanjutnya Al-Hafidz Ibnu Hajar ra dalam kitab yang sama, mengutip dari ulama besar lainnya, al-Qadhi ‘Iyad ra mengatakan bahwa hadits tentang pertengkaran kedua sahabat yang menyebabkan Nabi ﷺ urung menceritakan kepastian waktu Lailatul Qadar merupakan dalil bahwa pertengkaran itu sesuatu yang tercela, yang menjadi sebab datangnya hukuman moral, yaitu terhalangnya keberkahan dan kebaikan serta mengundang hadirnya syetan bersama pertengkaran itu. Masjid itu tempatnya berzikir, bukan tempat bersenda gurau, apalagi bertengkar. Dan pertengkaran itu terjadi pula di waktu yang sangat khusus yaitu bulan suci Ramadhan.

Kita tahu bahwa rumah Nabi ﷺ bersebelahan dengan masjid, makanya Nabi ﷺ mendengar suara keras kedua sahabat yang tengah berselisih itu. Menurut al-Hafidz Ibnu Hajar ini melanggar ketentuan Allah ﷻ dalam al-Quran untuk merendahkan suara di depan Nabi Muhammad ﷺ.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَـٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana setengah kamu menyaringkan suaranya semasa bercakap dengan setengahnya yang lain. (Larangan yang demikian) supaya amal-amal kamu tidak hapus pahalanya, sedang kamu tidak menyedarinya. (QS al-Hujurat: 2).

So, setelah membaca penjelasan di atas, penulis penasaran siapa nama kedua sahabat yang bertikai hingga memancing reaksi dari Rasulullah ﷺ menggagalkan pengumuman jadwal kedatangan Lailatur Qadar dan apa motif sebenarnya?

Al-Hafidz Ibnu Hajar ra menjawab pertanyaan ini mengutip dari Ibnu Dahiyah ra, dua sahabat tersebut bernama Abdullah bin Abi Hadrad ra dan Ka’ab bin Malik ra. Selanjutnya Al-Hafidz Ibnu Hajar ra dalam kitab Sahih Bukhari, hadits nomor 437 dalam bab berbeda di Sahih Bukhari dengan detail dan sempurna menjawab rasa penasaran penulis dengan redaksi hadits sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ كَعْبٍ أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا كَانَ لَهُ عَلَيْهِ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ فَنَادَى يَا كَعْبُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ضَعْ مِنْ دَيْنِكَ هَذَا وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ أَيْ الشَّطْرَ قَالَ لَقَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُمْ فَاقْضِهِ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari az-Zuhri dari ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari Ka’ab bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di dalam masjid hingga suara keduanya meninggi yang akhirnya didengar oleh Rasulullah ﷺ yang berada di rumah. Beliau ﷺ kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya, beliau bersabda: “Wahai Ka’ab!” Ka’ab bin Malik menjawab: “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah hutangmu ini.” Beliau lalu memberi isyarat untuk membebaskan setengahnya. Ka’ab bin Malik menjawab, “Sudah aku lakukan wahai Rasulullah.” Beliau ﷺ lalu bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): “Sekarang bayarlah.”

Hemm, ternyata biang keladinya adalah soal hutang-piutang yang belum dibayar. Waallahu A’lamu!

Akhiran, Meski tulisan ini rada panjang membacanya. Menurut penulis sangat baik dikoleksi dalam benak sanubari kita sebagai tambahan pengetahuan dan berusaha mengabadikan ilmu ulama yang kian punah. Semoga tidak bosan ngeyamnya dan semoga manfaat bagi semuanya. Amin

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul adzim

Referensi:

📙 Ahmad bin Ali Ibnu Hajar al-‘Asqolani| Fathu al-Bariy bi Syarhi Shahih al-Bukhariy| ashi-Shahibu as-Sammu al-Milkiy juz 1 hal 139, 657.

📙 Jalaluddin as-Suyuthiy| Al-Jami’ash-Shaghir wa Ziyadatihi| www. e Shia. ir, jilid 1 hal 13832.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas