Biarlah, Lailatul Qadar Tetap Menjadi Rahasia Allah ﷻ

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net- Tidak seorangpun yang bisa memastikan kapan persis terjadinya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan?

Rasulullah ﷺ sendiri sebagai Sang Penerima Wahyu Lailatul Qadar, hanya memerintahkan pada umatnya agar lebih intensif mencari Lailatul Qadar di 10 akhir bulan Ramadhan dan memberi sedikit informasi akan tanda kedatangannya tanpa tanggal atau pun waktu yang pasti sebagaimana penjelasan hadist:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh terkahir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَ لاَ بَارِدَةٌ (وَلاَسَحَابٌ فِيْهَا وَلاَمَطَرٌ وَلاَرِيْحٌ ) وَ لاَ يُرْمَى فِيْهَا بِنَجْمٍ وَ مِنْ عَلاَمَةِ يَوْمِهَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا

“Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda di pagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada sorot cahaya yang bersinar”.(HR. Thabrani)

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Lailatul Qadar masih menjadi rahasia dari sekian rahasia Allah ﷻ. Mengapa demikian?

Syaikh Syihabuddin Al-Qulyubi (1069 هـ) dalam kitabnya Risalah an-Nawadiru fi Hikayah as-Shilolihin wa ‘Ajaibi al-Mutaqodsimin az-Zawahir menerangkan, Allah ﷻ memang sengaja menyamarkan beberapa perkara bagi manusia. Salah satunya adalah malam seribu bulan, Lailatul Qadar. Beliau melanjutkan:

وأخفى ليلة القدر في رمضان ليجتهد الناس في إحياء لياليه رجاء ان يصادفوها

Dan Allah ﷻ merahasiakan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan supaya manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malam Ramadhan. Dengan harapan, manusia dapat menjumpai lailatul qadar tersebut.

Syaikh Fakhru ad-Din ar-Razi (606 هـ) dalam tafsirnya Mafatihu al-Ghuyub turut mengungkapkan dengan bahasa berbeda bahwa Allah ﷻ merahasiakan kedatangan Lailatul Qadar supaya mereka mengagungkan seluruh malam dibulan Ramadhan.

أَخْفَى هَذِهِ اللَّيْلَةَ لِيُعَظِّمُوا جَمِيعَ لَيَالِي رَمَضَانَ

Allah ﷻ merahasiakan malam ini, agar manusia bisa mengagungkan semua malam Ramadhan.

Kemudian Syaikh ar-Razi memberi infomasi berita melalui riwayat Kaabu al-Ahbar, bagaimana suasana sesungguhnya di malam itu?.

Pada malam itu para malaikat disertai malaikat Jibril turun ke bumi dan tidak sejengkal pun di muka bumi kecuali di sana telah di penuhi para malaikat yang bersujud atau berdiri mendoakan orang mukmin laki-laki dan perempuan sedangkan malaikat Jibril tidak menyisakan satupun saat meninggalkan orang mukmin kembali ke langit kecuali dia telah menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah orang tersebut gemetar kulitnya (merinding), lembut hatinya dan air matanya mengalir.

Kemudian semua malaikat itu naik kembali ke langit yang didahului oleh Jibril dengan membentangkan kedua sayapnya yang hijau singgah di depan matahari yang mengakibat sinar matahari redup di hari itu lalu kemudian disusul malaikat lainnya.

Di sana berkumpulah cahaya sayap malaikat Jibril dan malaikat lainnya setelah itu mereka berdiri diantara matahari dan langit dunia sembari mendoakan orang-orang mukmin dengan memintakan rahmat dan ampunan.

Tidak ketinggalan Syaikh ash-Showi dalam tafsirya Hasyiyah ash-Showi ala Tafsir al-Jalain Maliki (1214 هـ), juga mengisahkan suasana di malam itu: Bahwa saat Lailatul Qadar para malaikat penghuni Sidratul Muntaha turun ke bumi, begitu juga malaikat Jibril yang membawa 4 bendera. Satu bendera ditancapkan di pusara Baginda Nabi ﷺ, bendera kedua ditancapkan di Baitil Maqdis, bendera ketiga ditancapkan di Masjidil Haram dan bendera keempat ditancapkan di gunung Thursina. Malaikat Jibril tidak meningalkan sebuah rumah yang di dalamnya dihuni orang mukmin laki-laki atau perempuan kecuali dia (Jibril) masuk rumah itu dan mengucapkan salam pada mereka dan berkata:

يامؤمن أو يامؤمنة السلام يقرئكم السلام الا على مد من خمر وقاطع رحم وأكل لحم حنزير

“Wahai orang mukmin (laki-laki atau perempuan)! Allah ﷻ as-Salam (Dzat Yang Maha Sejahtera) menyampaikan salam pada kalian kecuali pada pencandu minuman keras, pemutus silatur rahim dan pemakan daging babi”.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِذَاكَانَتْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ نَزَلَ جِبْرِيْلُ فِيْ كَبْكَبَةٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يُصَلُّوْنَ وَيُسَلِّمُوْنَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ قَائِمٍ أَوْ قَاعِدٍ يَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Bila tiba Lailatul Qadar, malaikat Jibril turun dalam jama’ah malaikat, mereka mendo’akan dan memberi salam kepada setiap orang yang berdiri ataupun duduk dalam keadaan zikir kepada Allah ﷻ (mengingat dan menyebut nama Allah ﷻ)” (Diriwayatkan oleh as-Suyuti dalam al-Jami’ al-Kabir).

Masih menurut Syaikh as-Showi saat memberi jawaban, siapa sebenarnya malaikat yang turun di Lailatul Qadar? dalam tafsirnya: “Konon, malaikat yang turun di Lailatul Qadar adalah sosok malaikat yang sangat besar posturnya bernaung di bawah Arsy dan kakinya berada di dasar bumi ke tujuh. Malaikat itu mempunyai 1000 kepala, setiap kepala lebih besar dari dunia, setiap kepala mempunyai 1000 wajah, setiap itu wajah mempunyai 1000 mulut, setiap mulutnya mempunyai 1000 lisan yang senantiasa bertasbih, bertahmid dan bertamjid (mengagungkan Allah ﷻ) dan setiap lisan mempunyai bahasa yang berbeda yang tidak sama dengan lainnya. Ketika mulut-mulutnya dibuka dengan bacaan tasbih, maka segenap malaikat di langit ketujuh bersimpuh dan bersujud karena takut cahaya mulut-mulutnya membakar mereka. Dia bertasbih kepada Allah pagi dan sore dan turun ketika Lailatul Qadar karena kemuliaan dan keluhuran malam itu sembari memintakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa dari umat Nabi Muhammad ﷺ dengan semua mulutnya hingga fajar menyingsing.

Hujjatu al-Islam al-Ghozali (505 هـ) melalui riwayat Abu Hurairah ra dalam karyanya Mukasyafati al-Qulub juga memaparkan: Sebagaimana keterangan hadist aku peroleh. Para malaikat yang turun di malam itu lebih banyak dari hitungan kerikil di bumi. Mereka membuka pintu-pintu langit untuk turun ke bumi, Kemudian terlihatlah kilauan cahaya dan penampakan yang agung serta terbukalah di malam itu alam malakut. Kondisi manusia pada malam itu berbeda-beda, ada yang dibukakan pandangannya bisa melihat alam malakut sehingga tersingkaplah hijab darinya untuk menyaksikan kejadian-kejadian langit seperti menyaksikan para malaikat dengan bentuk asli dan segala aktifitasnya (ada yang berdiri, duduk, ruku’, sujud, berdzikir, bersyukur, bertasbih dan bertahlil. Diantara mereka ada yang bisa menyaksikan surga dan segala isinya (rumah-rumah, gedung-gedung, para bidadari, sungai-sungai, pepohonan dan buahnya). Dia juga bisa menyaksikan Arsynya Allah ﷻ ar-Rahman yang berada di atas surga, menyaksikan kedudukan para nabi, para wali, para syahid dan as-Shiddiqin. Mereka bisa menjelajahi setiap sudut di alam malakut ini tempat orang-orang diberi rahmat disucikan. Mereka juga bisa menyaksikan neraka jahanam dan segala tingkatannya serta kedudukan orang-orang kafir di sana dan lain-lainnya. Di antara mereka ada yang dibukakan hijab untuk bisa menyaksikan keindahan Allah ﷻ dan mereka hanya mau menyaksikan lainnya kecuali Dzat Allah ﷻ.

Terakhir, Syaikh ar-Rayani dalam karyanya Bahru al-Madzhab fi Fu’i Madzhab al-Imam as-Syafi’i berpesan: Dianjurkan bagi setiap orang yang menjumpai Lailatul Qadar agar merahasiakan apa yang dilihat, berdoalah yang tulus dan keyakinan yang benar dengan doa yang disenangi dalam urusan akhirat atau dunia. Rasulullah ﷺ bersabda pada Sayyidah A’isyah ra:

إذا رأيت ليلة القدر فاسألي الله العافية في الدنيا والآخرة

“Bila kau melihat Lailatul qadar, maka memohonlah kepada Allah ampunan dunia akhirat”. Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda: ” Ucapkanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau Mencintai Pemaafan, maka maafkan aku”.

Yang terpenting dari semua tulisan saya di atas adalah tetaplah konsisten memburu Lailatul Qadar dengan aneka ibadah imanan wah tisaban dan biarkan Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah ﷻ.

Waalahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Risalah Nawadiru fi Hikayah as-Shilolihin wa ‘Ajaibi al-Mutaqodsimin az-Zawahir halaman : 126.

✍️ Tafsirnya Mafatihu al-Ghuyub Jus 23 Halaman 28 Daru al-Fikr.

✍️ Hasyiyah ash-Showi ala Tafsir al-Jalain Juz 4 Halaman 38 al-Hidayaah.

✍️ Mukasyafati al-Qulub Halaman 307 Daru al-Kutub.

✍️ Bahru al-Madzhab fi Fu’i Madzhab al-Imam as-Syafi’i Juz 4 Halaman 354 Daru al-Kutub.

Semoga Bermanfaat

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas